{"id":47304,"date":"2026-05-25T10:58:52","date_gmt":"2026-05-25T10:58:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/25\/kecurangan-snbt-berakar-dari-tekanan-sosial-hingga-ketimpangan-pendidikan\/"},"modified":"2026-05-25T10:58:52","modified_gmt":"2026-05-25T10:58:52","slug":"kecurangan-snbt-berakar-dari-tekanan-sosial-hingga-ketimpangan-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/25\/kecurangan-snbt-berakar-dari-tekanan-sosial-hingga-ketimpangan-pendidikan\/","title":{"rendered":"Kecurangan SNBT Berakar dari Tekanan Sosial hingga Ketimpangan Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/25\/1779705637_5fbdb3d6bed1fc4fa8ed.jpg\" alt=\"Kecurangan SNBT Berakar dari Tekanan Sosial hingga Ketimpangan Pendidikan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Website SPMB)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PENGAMAT pendidikan Satria Dharma menilai praktik kecurangan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/snbt\" title=\"SNBT\">SNBT<\/a>) yang terus berulang setiap tahun tidak semata disebabkan lemahnya pengawasan teknis.\u00a0<\/p>\n<p>Menurutnya, persoalan itu berakar pada tekanan sosial, budaya kompetisi ekstrem, hingga ketimpangan kualitas pendidikan.<\/p>\n<p>\u201cAkar masalah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kecurangan-snbt\" title=\"kecurangan SNBT\">kecurangan SNBT<\/a> sebenarnya bukan hanya soal lemahnya pengawasan teknis, tetapi gabungan antara tekanan sosial, ketimpangan pendidikan, budaya kompetisi ekstrem, dan cara masyarakat memaknai kesuksesan,\u201d kata Satria kepada <em>Media Indonesia<\/em>, Senin (25\/5).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893658\/tidak-lolos-snbt-masih-ada-186-ribu-kuota-jalur-mandiri\" title=\"Tidak Lolos SNBT? Masih Ada 186 Ribu Kuota Jalur Mandiri\" target=\"_blank\">Tidak Lolos SNBT? Masih Ada 186 Ribu Kuota Jalur Mandiri<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menjelaskan, masuk perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di Indonesia kerap dipandang sebagai simbol kecerdasan, status sosial, hingga kebanggaan keluarga. Akibatnya, SNBT tidak lagi dianggap sekadar ujian, melainkan pertaruhan hidup.\u00a0<\/p>\n<p>Dalam situasi tersebut, kata dia, sebagian peserta mulai menganggap kecurangan sebagai jalan yang bisa dibenarkan demi lolos seleksi.<\/p>\n<p>Selain tekanan sosial, Satria menilai sistem seleksi yang sangat kompetitif turut memicu perilaku curang. Jumlah kursi di PTN unggulan yang terbatas dibanding jumlah peserta membuat persaingan menjadi sangat ketat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893624\/99-kecurangan-snbt-menyasar-fakultas-kedokteran\" title=\"99% Kecurangan SNBT Menyasar Fakultas Kedokteran\" target=\"_blank\">99% Kecurangan SNBT Menyasar Fakultas Kedokteran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cSelisih nilai kecil bisa menentukan masa depan. Dalam tekanan kompetisi ekstrem, orang lebih mudah merasionalisasi kecurangan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti ketimpangan kualitas pendidikan yang membuat tidak semua siswa memiliki kesempatan yang sama. Menurutnya, ada peserta yang memiliki akses pada sekolah berkualitas, guru terbaik, les mahal, hingga fasilitas internet memadai, sementara sebagian lainnya tidak.<\/p>\n<p>\u201cKetika sistem terasa tidak adil sejak awal, sebagian orang lebih mudah membenarkan jalan curang,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Satria menambahkan, budaya masyarakat yang lebih menghargai hasil dibanding proses turut memperparah kondisi tersebut. Menurut dia, keberhasilan masuk kampus ternama sering kali lebih diapresiasi dibanding cara untuk mencapainya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, perkembangan teknologi dinilai membuat modus kecurangan semakin sulit dideteksi. Ia menyebut penggunaan kamera mikro, earphone tersembunyi, kecerdasan buatan (AI), <em>remote desktop<\/em>, hingga praktik joki digital kini semakin marak.<\/p>\n<p>\u201cIni seperti perlombaan senjata antara sistem keamanan dan pelaku kecurangan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut Satria, sanksi berupa pembatalan kelulusan masih relevan bagi peserta yang terbukti curang. Namun, ia menilai hukuman administratif saja belum cukup memberi efek jera, terutama jika praktik tersebut melibatkan jaringan profesional.<\/p>\n<p>\u201cKalau sudah melibatkan joki profesional, pemalsuan identitas, manipulasi digital, atau sindikat berbayar, itu sudah masuk wilayah penipuan dan kejahatan siber,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, ia mendorong pemerintah mulai menerapkan pendekatan hukum yang lebih tegas terhadap jaringan kecurangan terorganisasi, termasuk investigasi digital forensik dan pelacakan aliran dana.<\/p>\n<p>Satria menilai langkah paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah saat ini ialah memperkuat keamanan digital sistem SNBT melalui audit rutin, penetration testing independen, serta deteksi anomali secara real time.<\/p>\n<p>Selain itu, pemerintah juga diminta fokus membongkar jaringan penyedia jasa kecurangan, bukan hanya menghukum peserta.<\/p>\n<p>\u201cKalau hanya peserta yang dihukum, ekosistem bisnis curangnya tetap hidup,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dalam jangka panjang, ia menekankan pentingnya pendidikan integritas sejak sekolah serta upaya mengurangi tekanan sosial berlebihan terhadap PTN elite.<\/p>\n<p>\u201cSelama masyarakat lebih menghormati orang yang lolos daripada orang yang jujur, maka teknologi curang akan selalu berkembang lebih cepat daripada sistem pengawasannya,\u201d pungkasnya. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893660\/kecurangan-snbt-berakar-dari-tekanan-sosial-hingga-ketimpangan-pendidikan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Website SPMB) PENGAMAT pendidikan Satria Dharma menilai praktik kecurangan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang terus berulang setiap tahun tidak semata disebabkan lemahnya pengawasan teknis.\u00a0 Menurutnya, persoalan itu berakar pada tekanan sosial, budaya kompetisi ekstrem, hingga ketimpangan kualitas pendidikan. \u201cAkar masalah kecurangan SNBT sebenarnya bukan hanya soal lemahnya pengawasan teknis, tetapi gabungan antara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47305,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-47304","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47304"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47304\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}