{"id":47272,"date":"2026-05-25T09:34:45","date_gmt":"2026-05-25T09:34:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/25\/merawat-nurani-di-tengah-riuh-zaman-menjaga-suluh-di-tengah-zaman-yang-bising-jejak-personal-wamendikdasmen-bersama-buya-syafii-maarif-menguatkan-arah-pendidikan\/"},"modified":"2026-05-25T09:34:45","modified_gmt":"2026-05-25T09:34:45","slug":"merawat-nurani-di-tengah-riuh-zaman-menjaga-suluh-di-tengah-zaman-yang-bising-jejak-personal-wamendikdasmen-bersama-buya-syafii-maarif-menguatkan-arah-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/25\/merawat-nurani-di-tengah-riuh-zaman-menjaga-suluh-di-tengah-zaman-yang-bising-jejak-personal-wamendikdasmen-bersama-buya-syafii-maarif-menguatkan-arah-pendidikan\/","title":{"rendered":"Merawat Nurani di Tengah Riuh Zaman, Menjaga Suluh di Tengah Zaman yang Bising: Jejak Personal Wamendikdasmen bersama Buya Syafii Maarif Menguatkan Arah Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/25\/1779701509_37d571f6c0f15b5f8102.jpeg\" alt=\"Merawat Nurani di Tengah Riuh Zaman, Menjaga Suluh di Tengah Zaman yang Bising: Jejak Personal Wamendikdasmen bersama Buya Syafii Maarif Menguatkan Arah Pendidikan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>DI sebuah ruang seni yang hening di Kiniko Artspace, Yogyakarta, malam itu tidak sekadar menghadirkan peristiwa budaya. Ia menjadi ruang batin\u2014tempat refleksi kolektif tentang arah bangsa, sekaligus momentum untuk membaca kembali warisan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif sebagai \u201csuluh\u201d yang menuntun kehidupan publik.<\/p>\n<p>Wakil Menteri <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan\" title=\"pendidikan\">Pendidikan<\/a> Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, hadir bukan hanya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai saksi hidup dari kedekatan intelektual dan personal dengan Buya Syafii Maarif. Pengalaman itu menjadi titik pijak refleksi yang ia bagikan di hadapan para hadirin.<\/p>\n<p>Dalam pidatonya, Fajar mengisahkan masa ketika dirinya menjabat sebagai Direktur Eksekutif MAARIF Institute\u2014ruang yang selama ini menjadi rumah pemikiran Buya. Di sanalah, ia tidak hanya belajar gagasan, tetapi juga menyaksikan langsung keteladanan yang bekerja dalam sunyi. \u201cBuya tidak pernah mengajarkan dengan retorika yang menggelegar. Ia mengajarkan melalui sikap\u2014keteguhan pada prinsip, sekaligus kelapangan dalam menerima perbedaan,\u201d ujar Fajar.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/822854\/wamen-fajar-tegaskan-komitmen-presiden-wujudkan-pemerataan-mutu-pendidikan-melalui-digitalisasi-pembelajaran\" title=\"Wamen Fajar Tegaskan Komitmen Presiden Wujudkan Pemerataan Mutu Pendidikan melalui Digitalisasi Pembelajaran\" target=\"_blank\">Wamen Fajar Tegaskan Komitmen Presiden Wujudkan Pemerataan Mutu Pendidikan melalui Digitalisasi Pembelajaran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bagi Fajar, perjumpaan dengan Buya bukan sekadar relasi antara murid dan guru, melainkan pengalaman intelektual yang membentuk cara pandang terhadap pendidikan dan kehidupan publik. Ia mengingat bagaimana Buya selalu menempatkan agama sebagai sumber etika publik, bukan alat eksklusi; serta menegaskan bahwa keindonesiaan harus dirawat dalam keberagaman, bukan diseragamkan.<\/p>\n<p>Refleksi personal itu kemudian mengalir menjadi kegelisahan yang lebih luas. Fajar menilai, Indonesia hari ini tengah menghadapi krisis keteladanan\u2014bukan sekadar kekurangan figur, tetapi problem sistemik dalam pendidikan yang terlalu menekankan transfer pengetahuan dan mengabaikan pembentukan karakter. \u201cPendidikan kita berisiko kehilangan kompas moral, jika tidak ditopang oleh nilai dan keteladanan yang otentik,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, warisan pemikiran Buya Syafii Maarif tetap relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam kerangka pendidikan, nilai-nilai itu dapat diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama: keislaman yang mencerahkan, keindonesiaan yang menyatukan, dan kemanusiaan yang membebaskan. Ketiganya menjadi fondasi untuk membangun pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/793609\/wamen-fajar-ingatkan-hakikat-pembelajaran-mendalam\" title=\"Wamen Fajar Ingatkan Hakikat Pembelajaran Mendalam\" target=\"_blank\">Wamen Fajar Ingatkan Hakikat Pembelajaran Mendalam<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan Malam Budaya pembukaan pameran seni rupa ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian \u201cBulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM)\u201d yang digagas MAARIF Institute sebagai upaya merawat dan mendiseminasikan gagasan besar Buya tentang Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh M Busyro Muqoddas (Mantan Ketua KPK), Prof. Fathul Wahid (Rektor UII) dan sejumlah seniman-perupa nasional. \u00a0<\/p>\n<p>Dalam konteks kebijakan, Fajar menekankan pentingnya mengembalikan pendidikan sebagai proyek kebudayaan\u2014bukan sekadar sistem teknokratis. Sekolah, menurutnya, harus menjadi ruang perjumpaan nilai, dialog, dan refleksi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam malam kebudayaan ini. \u201cPendidikan bukan hanya mengasah nalar, tetapi merawat nurani,\u201d kata Fajar.<\/p>\n<p>Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa menjaga \u201csuluh bangsa\u201d tidak berarti mengawetkan sosok Buya sebagai figur yang dikultuskan. Sebaliknya, yang lebih mendesak adalah memastikan nilai-nilai yang ia hidupkan\u2014integritas, keberanian moral, dan keberpihakan pada kemanusiaan\u2014hadir dalam setiap ruang pendidikan.\u00a0Pada akhirnya, pesan yang mengemuka sederhana tetapi mendasar: menjaga \u201csuluh\u201d bukan berarti mengawetkan masa lalu, melainkan memastikan nyala nilainya tetap hidup dalam konteks hari ini.<\/p>\n<p>Di tengah kecenderungan mencari figur penyelamat, pendidikan diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif\u2014bahwa setiap warga negara adalah subjek moral yang bertanggung jawab atas arah bangsa. \u201cMungkin yang kita butuhkan bukan suara yang lebih keras, tetapi cahaya yang lebih jernih,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dari Yogyakarta, pesan itu terdengar jernih: jika pendidikan kehilangan nurani, maka yang hilang bukan hanya arah belajar, tetapi arah bangsa. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893637\/merawat-nurani-di-tengah-riuh-zaman-menjaga-suluh-di-tengah-zaman-yang-bising-jejak-personal-wamendikdasmen-bersama-buya-syafii-\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) DI sebuah ruang seni yang hening di Kiniko Artspace, Yogyakarta, malam itu tidak sekadar menghadirkan peristiwa budaya. Ia menjadi ruang batin\u2014tempat refleksi kolektif tentang arah bangsa, sekaligus momentum untuk membaca kembali warisan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif sebagai \u201csuluh\u201d yang menuntun kehidupan publik. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47273,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-47272","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47272"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47272\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}