{"id":47244,"date":"2026-05-25T08:15:17","date_gmt":"2026-05-25T08:15:17","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/25\/bi-rate-dinaikkan-agar-instrumen-rupiah-menguat\/"},"modified":"2026-05-25T08:15:17","modified_gmt":"2026-05-25T08:15:17","slug":"bi-rate-dinaikkan-agar-instrumen-rupiah-menguat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/25\/bi-rate-dinaikkan-agar-instrumen-rupiah-menguat\/","title":{"rendered":"BI Rate Dinaikkan agar Instrumen Rupiah Menguat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/25\/1779695889_30548966df6ce9cc11dd.jpg\" alt=\"BI Rate Dinaikkan agar Instrumen Rupiah Menguat\"\/><figcaption>Ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>DEPUTI Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, keputusan menaikkan suku bunga acuan atau BI <em>Rate<\/em> sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Kebijakan tersebut diambil agar instrumen keuangan berbasis rupiah kembali menarik bagi investor dan mampu mendorong aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.<\/p>\n<p>\u201cKita dorong kenaikan suku bunga karena kita harus membuat instrumen rupiah itu menjadi menarik lagi,\u201d ujar Destry dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Senin (25\/5).<\/p>\n<p>Ia menegaskan, kenaikan BI <em>Rate<\/em> merupakan langkah penyesuaian terhadap kondisi global dan bukan semata-mata untuk menekan sektor riil.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/892167\/bri-sambut-positif-kenaikan-bi-rate-demi-stabilitas-ekonomi\" title=\"BRI Sambut Positif Kenaikan BI-Rate demi Stabilitas Ekonomi\" target=\"_blank\">BRI Sambut Positif Kenaikan BI-Rate demi Stabilitas Ekonomi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kenaikan BI <em>Rate <\/em>ini mau enggak mau memang harus dilakukan, bukan karena apa-apa tapi karena menyesuaikan dengan kondisi global,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurutnya, kondisi global saat ini masih berada dalam fase <em>higher for longer<\/em>, yaitu periode ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi ini terlihat dari naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, inflasi AS yang masih meningkat, serta penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap hampir seluruh mata uang dunia.<\/p>\n<p>\u201cJadi kita menghadapi situasi di mana stabilitas itu menjadi penting,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/882320\/intervensi-bank-indonesia-rem-darurat-redam-gejolak-nilai-tukar-rupiah\" title=\"Intervensi Bank Indonesia Rem Darurat Redam Gejolak Nilai Tukar Rupiah\" target=\"_blank\">Intervensi Bank Indonesia Rem Darurat Redam Gejolak Nilai Tukar Rupiah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Destry mengatakan, selain menaikkan BI <em>Rate<\/em>, Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan di pasar <em>spot<\/em>, pasar <em>forward<\/em>, pasar <em>Non-Deliverable Forward<\/em> (NDF), hingga <em>Domestic Non-Deliverable Forward<\/em> (DNDF).<\/p>\n<p>Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga likuiditas dan mengendalikan kenaikan imbal hasil obligasi agar tidak meningkat terlalu tajam. Bank sentral juga memantau tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri, termasuk permintaan yang tidak disertai <em>underlying<\/em> yang jelas.<\/p>\n<p>Destry kemudian menilai fundamental ekonomi Indonesia sejauh ini masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai sekitar 5,6%, salah satu yang tertinggi di kawasan. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen juga mengalami peningkatan dan kinerja penjualan sejumlah korporasi mulai membaik.<\/p>\n<p>\u201cKalau fundamental kan berarti kita melihat ekonomi di negara itu bagaimana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Meski demikian, ia mengakui sentimen global masih menjadi faktor dominan yang menekan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut diperburuk dengan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri pada pertengahan tahun, mulai dari pembayaran dividen, repatriasi dana, hingga kebutuhan musim haji.<\/p>\n<p>\u201cSekarang ini kan ada masalah juga karena ada sentimen, karena adanya di global yang masih terus gonjang-ganjing, yang belum selesai,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Destry optimistis stabilitas rupiah akan kembali membaik seiring fundamental ekonomi domestik yang tetap kuat, selisih imbal hasil yang mulai melebar, serta arah program pemerintah yang semakin jelas ke depan.<\/p>\n<p>\u201cTentu ini akan memberikan <em>confidence <\/em>kembali kepada masyarakat dan investor,\u201d pungkasnya. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/893608\/bi-rate-dinaikkan-agar-instrumen-rupiah-menguat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Antara) DEPUTI Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, keputusan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Kebijakan tersebut diambil agar instrumen keuangan berbasis rupiah kembali menarik bagi investor dan mampu mendorong aliran modal asing masuk ke pasar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47245,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-47244","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47244","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47244"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47244\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47244"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47244"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47244"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}