{"id":46910,"date":"2026-05-24T15:41:35","date_gmt":"2026-05-24T15:41:35","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/24\/teori-baru-lubang-cacing-einstein-ternyata-cermin-waktu-tersembunyi\/"},"modified":"2026-05-24T15:41:35","modified_gmt":"2026-05-24T15:41:35","slug":"teori-baru-lubang-cacing-einstein-ternyata-cermin-waktu-tersembunyi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/24\/teori-baru-lubang-cacing-einstein-ternyata-cermin-waktu-tersembunyi\/","title":{"rendered":"Teori Baru Lubang Cacing Einstein Ternyata Cermin Waktu Tersembunyi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/24\/1779635185_834adcba38318a2efa0c.jpeg\" alt=\"Teori Baru Lubang Cacing Einstein: Ternyata Cermin Waktu Tersembunyi\"\/><figcaption>Teori Baru Lubang Cacing Einstein.(Dok. I\/ScienceDaily.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>KONSEP <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/lubang-cacing\" title=\"lubang cacing\">lubang cacing<\/a> yang selama ini dikenal sebagai terowongan lintas galaksi kini mendapat interpretasi baru yang revolusioner. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gagasan asli <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/albert-einstein\" title=\"Albert Einstein\">Albert Einstein<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nathan-rosen\" title=\"Nathan Rosen\">Nathan Rosen<\/a> kemungkinan besar merupakan &#8220;<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cermin-waktu\" title=\"cermin waktu\">cermin waktu<\/a>&#8221; yang menghubungkan dua arah waktu yang berlawanan.<\/p>\n<p>Studi ini meninjau kembali konsep &#8220;Jembatan Einstein-Rosen&#8221; yang diperkenalkan pada tahun 1935. Alih-alih berfungsi sebagai jalur perjalanan fisik menembus ruang angkasa, model matematis ini dipahami sebagai penghubung unik antara ruang dan waktu di mana satu sisi waktu bergerak maju, sementara sisi lainnya bergerak mundur.<\/p>\n<p>Pendekatan baru ini dinilai menjadi kunci dalam menyatukan relativitas umum dan mekanika kuantum yang selama ini sulit diselaraskan. Selain itu, teori cermin waktu ini menawarkan solusi atas paradoks informasi lubang hitam yang dipopulerkan oleh Stephen Hawking pada 1974.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/848393\/dari-ledakan-kosmik-teori-relativitas-einstein-kembali-terbukti-akurat\" title=\"Dari Ledakan Kosmik, Teori Relativitas Einstein Kembali Terbukti Akurat\" target=\"_blank\">Dari Ledakan Kosmik, Teori Relativitas Einstein Kembali Terbukti Akurat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Para peneliti berpendapat bahwa informasi yang masuk ke dalam lubang hitam tidaklah musnah, melainkan berpindah ke arah waktu yang berlawanan. Hal ini juga memicu spekulasi ilmiah bahwa alam semesta saat ini mungkin terbentuk dari bagian dalam lubang hitam di kosmos lain, atau merupakan hasil transisi dari fase alam semesta sebelumnya.<\/p>\n<p>Meskipun tidak ditujukan untuk membuktikan keberadaan mesin waktu, teori ini memberikan perspektif baru bagi para ilmuwan dalam memahami gravitasi dan sejarah awal terbentuknya alam semesta.<\/p>\n<p>&#8220;Jembatan Einstein-Rosen dapat dipahami sebagai penghubung dua arah waktu yang berbeda. Dalam satu sisi waktu bergerak maju, sementara di sisi lain waktu bergerak mundur seperti pantulan cermin,&#8221; tulis laporan penelitian tersebut sebagaimana dikutip dari <em>Science Daily.<\/em><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 20px;\">&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Poin Utama Teori<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Penjelasan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Konsep Dasar<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Jembatan Einstein-Rosen (1935) sebagai simetri ruang-waktu.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Fungsi Baru<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Bukan lorong ruang angkasa, melainkan penghubung dua arah waktu.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Solusi Paradoks<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Menjelaskan bahwa informasi di lubang hitam tidak hilang, tapi berpindah arah waktu.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>(Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/893461\/teori-baru-lubang-cacing-einstein-ternyata-cermin-waktu-tersembunyi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teori Baru Lubang Cacing Einstein.(Dok. I\/ScienceDaily.com) KONSEP lubang cacing yang selama ini dikenal sebagai terowongan lintas galaksi kini mendapat interpretasi baru yang revolusioner. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gagasan asli Albert Einstein dan Nathan Rosen kemungkinan besar merupakan &#8220;cermin waktu&#8221; yang menghubungkan dua arah waktu yang berlawanan. Studi ini meninjau kembali konsep &#8220;Jembatan Einstein-Rosen&#8221; yang diperkenalkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46911,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-46910","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46910\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}