{"id":46624,"date":"2026-05-24T02:42:23","date_gmt":"2026-05-24T02:42:23","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/24\/studi-terbaru-pewarna-makanan-alami-terkait-risiko-diabetes-dan-kanker\/"},"modified":"2026-05-24T02:42:23","modified_gmt":"2026-05-24T02:42:23","slug":"studi-terbaru-pewarna-makanan-alami-terkait-risiko-diabetes-dan-kanker","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/24\/studi-terbaru-pewarna-makanan-alami-terkait-risiko-diabetes-dan-kanker\/","title":{"rendered":"Studi Terbaru Pewarna Makanan Alami terkait Risiko Diabetes dan Kanker"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/24\/1779589794_2518c92fde922655c4ee.jpg\" alt=\"Studi Terbaru: Pewarna Makanan Alami terkait Risiko Diabetes dan Kanker\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SELAMA ini, pewarna makanan buatan sering dianggap sebagai ancaman utama bagi kesehatan.\u00a0Pewarna alami dipandang sebagai alternatif yang aman. Namun, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penelitian\" title=\"penelitian\">penelitian<\/a> terbaru yang diterbitkan minggu ini di Prancis memberikan peringatan mengejutkan yaitu\u00a0beberapa zat pewarna alami justru dikaitkan dengan peningkatan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/risiko-diabetes-tipe-2\" title=\"risiko diabetes tipe 2\">risiko diabetes tipe 2<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kanker\" title=\"kanker\">kanker<\/a>.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/studi\" title=\"studi\">Studi<\/a> yang dilakukan oleh para peneliti dari berbagai universitas dan lembaga penelitian di Prancis ini melibatkan lebih dari 100.000 partisipan dalam proyek <em>NutriNet-Sant\u00e9<\/em>. Para ilmuwan memantau pola makan dan minum peserta, termasuk merek spesifik yang dikonsumsi, selama rata-rata delapan tahun.<\/p>\n<h2>Risiko <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/diabetes\" title=\"diabetes\">Diabetes<\/a> Tipe 2 Meningkat Signifikan<\/h2>\n<p>Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal <em>Diabetes Care<\/em> menunjukkan bahwa beberapa aditif warna alami berhubungan erat dengan kemungkinan mengembangkan diabetes tipe 2. Temuan spesifiknya meliputi:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/756497\/hubungan-makanan-berkalori-tinggi-dan-olahan-dengan-otak-insulin-obesitas-diabetes\" title=\"Hubungan Makanan Berkalori Tinggi dan Olahan dengan Otak, Insulin, Obesitas, Diabetes\" target=\"_blank\">Hubungan Makanan Berkalori Tinggi dan Olahan dengan Otak, Insulin, Obesitas, Diabetes<\/a><\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Beta-karoten:<\/strong> Penggunaan beta-karoten sebagai pewarna tambahan (bukan dari makanan utuh) dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sebesar <strong>44%<\/strong>.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Kurkumin:<\/strong> Zat warna yang diproses dari kunyit ini dikaitkan dengan risiko <strong>49%<\/strong> lebih tinggi.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Antosianin:<\/strong> Pewarna yang berasal dari buah dan sayuran ini dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar <strong>40%<\/strong>.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Zat-zat ini sering ditemukan dalam produk sehari-hari seperti keju, yogurt, kue kemasan, dan minuman buah.<\/p>\n<h2>Kaitan dengan Risiko Kanker<\/h2>\n<p>Selain diabetes, studi lain yang diterbitkan dalam <em>European Journal of Epidemiology<\/em> menemukan kaitan antara pewarna makanan dengan risiko kanker. Pewarna alami beta-karoten dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara sebesar <strong>41%<\/strong>. Sementara itu, pewarna karamel biasa (<em>plain caramel<\/em>) yang sering digunakan dalam es krim dan produk panggang, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker secara keseluruhan sebesar <strong>15%<\/strong>.<\/p>\n<p><strong>Mengapa Pewarna Alami Bisa Berbahaya?<\/strong> Mathilde Touvier, direktur penelitian di National Institute of Health and Medical Research (Inserm), menjelaskan bahwa zat alami dapat berperilaku sangat berbeda di dalam tubuh ketika diekstraksi dari makanan aslinya dan diproses menjadi aditif. Penelitian laboratorium menunjukkan aditif ini dapat memicu peradangan, menyebabkan resistensi insulin, dan mengganggu mikrobioma usus.<\/p>\n<h2>Dilema Kebijakan Pangan<\/h2>\n<p>Temuan ini muncul di tengah dorongan besar-besaran dari pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat untuk mengganti pewarna sintetis dengan pewarna alami. Gerakan <em>Make America Healthy Again<\/em>\u00a0yang dipelopori Sekretaris Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. telah mendorong raksasa pangan seperti General Mills dan WK Kellogg untuk menghapus pewarna buatan.<\/p>\n<p>Namun, Touvier menegaskan bahwa label alami\u00a0bukan jaminan keamanan bagi konsumen. &#8220;Aditif makanan alami bukanlah bukti keamanan. Zat-zat ini murni kosmetik, hanya ada untuk membuat produk lebih menarik agar produsen dapat membuat kita ingin mengonsumsi lebih banyak,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<h2>Saran bagi Konsumen<\/h2>\n<p>Meskipun penelitian observasional ini tidak secara langsung membuktikan sebab-akibat, para ahli menyarankan konsumen untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-proses (<em>ultra-processed foods<\/em>). Pesan utamanya ialah kembali ke makanan utuh di mana zat-zat seperti beta-karoten berada dalam matriks alami yang aman dan bermanfaat bagi tubuh, alih-alih mengonsumsinya dalam bentuk aditif yang telah diproses secara kimiawi. (WSJ\/I-2)<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 20px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px; text-align: left;\">Jenis Pewarna Alami<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px; text-align: left;\">Sumber Asal<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px; text-align: left;\">Risiko Terkait (Studi Prancis)<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Beta-karoten<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Wortel, Minyak Sawit Merah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">+44% Diabetes Tipe 2, +41% Kanker Payudara<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Kurkumin<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Kunyit<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">+49% Diabetes Tipe 2<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Antosianin<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Buah &amp; Sayuran Berwarna<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">+40% Diabetes Tipe 2<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Karamel Biasa<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">Gula yang dipanaskan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 10px;\">+15% Risiko Kanker Keseluruhan<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893308\/studi-terbaru-pewarna-makanan-alami-terkait-risiko-diabetes-dan-kanker\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) SELAMA ini, pewarna makanan buatan sering dianggap sebagai ancaman utama bagi kesehatan.\u00a0Pewarna alami dipandang sebagai alternatif yang aman. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan minggu ini di Prancis memberikan peringatan mengejutkan yaitu\u00a0beberapa zat pewarna alami justru dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan kanker. Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari berbagai universitas dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46625,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-46624","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46624","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46624"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46624\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46625"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46624"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46624"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46624"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}