{"id":45733,"date":"2026-05-22T07:47:42","date_gmt":"2026-05-22T07:47:42","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/22\/upaya-menyatukan-persepsi-budaya-panginyongan-banyumas\/"},"modified":"2026-05-22T07:47:42","modified_gmt":"2026-05-22T07:47:42","slug":"upaya-menyatukan-persepsi-budaya-panginyongan-banyumas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/22\/upaya-menyatukan-persepsi-budaya-panginyongan-banyumas\/","title":{"rendered":"Upaya Menyatukan Persepsi Budaya Panginyongan Banyumas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/22\/1779435715_2866006254a9ee917140.jpg\" alt=\"Upaya Menyatukan Persepsi Budaya Panginyongan Banyumas\"\/><figcaption>Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026.(MI\/Supardji Rasban)<\/figcaption><\/figure>\n<p>UPAYA untuk memperkuat identitas daerah atau lokalan banyak dilakukan daerah di Indonesia. Tujuannya, agar identitas lokalan tetap esksis dan bisa memberi sumbangsih terhadap indentitas ke-Indonesiaan masa kini.<\/p>\n<p>Seperti dilakukan Universitas Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Jawa Tengah, dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026. Diskusi digelar di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4, Rabu 20 Mei 2026.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/budaya-panginyongan\" title=\"Budaya Panginyongan\">Budaya Panginyongan<\/a> adalah identitas sosial dan karakter masyarakat Banyumasan (Jawa Bagian Barat) yang menjunjung tinggi nilai egaliter, keterbukaan, dan kejujuran. Istilah Panginyongan berasal dari kata inyo, aku atau saya.<\/p>\n<p>Para peserta diskusi diberi kesempatan untuk melihat-lihat Pojok Panginyongan, yakni sebuah ruangan, yang berisi aneka barang atau benda yang bercirikan identitas Pangiyongan. Yakni, barang atau benda-benda yang asli berasal dari daerah Banyumasan.<\/p>\n<p>Misalnya batik, alat-alat dapur, busana pengantin,\u00a0 blangkon, keris, wayang dan benda atau barang lainnya yang identik dengan Banyumasan. Peserta diskusi pun dengan antusias memperhatikan atau menyimak benda-benda berciri khas Banyumasan ini.<\/p>\n<p>Diskusi yang diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang bertajuk Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026,\u00a0 digelar Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4.<\/p>\n<p><strong>PESERTA DISKUSI<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nDiskusi menghadirkan sastrawan Ahmad Tohari, pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk, budayawan Pantura Atmo Tan Sidik dan Ki Gobed Krusharto, Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas). Sedangkan pesertanya budayawan, akademisi, serta pegiat budaya dari wilayah Banyumas dan sekitarnya, seperti Kabupaten Purbalingga, Tegal dan Brebes.<\/p>\n<p>Sastrawan sekaligus Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, menyampaikan, orang Banyumas berabad-abad hidup dalam dunia pertanian.\u00a0 \u201cDi dalam dunia pertanian itu rasa hidup gotong royong sangat kuat dan bisa menjadi modal budaya dari Kabupaten banyumas untuk menjaga gotong royong,\u201d ujar Ahmad Tohari.<\/p>\n<p>Menurut Ahmad Tohari,\u00a0 dalam bentuk modern gotong royong itu adalah taat kepada semua aturan dan hukum, taat membayar pajak dan tidak membuat kericuHan. \u201cJadi Itu semua baik untuk kepentingan nasional,\u201d tegas Ahmad Tohari.<\/p>\n<p>Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, menyampaikan, jika diskusi ini untuk menggugah kesadaran bersama menyamakan persepsi antara budaya Kabupaten Banyumas dan sekitarnya termasuk di wilayah Pantura yakni Kabupaten Brebes dan Kota Tegal.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSalah satu contoh penerjemahan Alquran dalam bahasa Banyumasan sudah dilakukan. Dalam menyamakan persepsi ini, Kota Tegal juga sudah meniru yang dilakukan di Kabupaten Banyumas yakni sudah melakukan penerjemahan Alquran ke dalam Bahasa\u00a0 Tegalan,\u201d jelas Atmo Tan Sidik.<\/p>\n<p>Ki Gobed Krusharto selaku Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas), menyebut, budaya perempuan Banyumas yang jika berpakaian menggunakan tapih atau kain dengan rapat, menggambarkan jika perempuan memang harus selalu menaga kehormatan.<\/p>\n<p>\u201cSedangkan kaum lelaki di Banyumas yang selalu menenakan ikat (pengikat) kepala atau blangkon, itu menggambarkan konsistensi dalam bersikap terhadap sesuatu yang dinilai\u00a0 baik di tengah masyarakat. Keduanya, tapih dan ikat kepala atau blangkon, bisa mewarnai mozaik budaya yang ke-Indonesiaan,\u201d ujar Ki Gobed.<\/p>\n<p><strong>LEBIH MENGAKAR<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nSeniman Banyumas, Era Prima, mengimbau dalam pencarian identitas lokalan seharusnya dilakukan dengan lebih mengakar, untuk kemudian disambungkan dengan yang sedang berlangsung. \u201cSehingga, ada kesinambungan yang pada akhirnya bisa membentuk peradaban sebagai identitas suatu bangsa,\u201d ucap Era Prima.<\/p>\n<p>Rektor UIN Saizi, Ridwan, menyampaikan diskusi dalam rangka menyatukan persepsi tentang budaya Penginyongan itu seperti apa. Meskipun itu tdak mungkin bisa melahirkan konsep tunggal karena masing-masing kabupaten punya budaya khas sendiri-sendiri.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cPaling tidak untuk memetakan mana masing-masing kabupaten yang mempunyai budaya besar atau dominaan yang mungkin akan sama, kemudian disepakati untuk dijadikan budaya Panginyongan,\u201d jelas Ridwan.<\/p>\n<p>Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta mengenai upaya menjaga eksistensi budaya Banyumasan di era modern. Para peserta juga saling berbagi pengalaman terkait pengembangan dan pelestarian budaya lokal di kabupaten\/ daerag masing-masing. (E-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/892774\/upaya-menyatukan-persepsi-budaya-panginyongan-banyumas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026.(MI\/Supardji Rasban) UPAYA untuk memperkuat identitas daerah atau lokalan banyak dilakukan daerah di Indonesia. Tujuannya, agar identitas lokalan tetap esksis dan bisa memberi sumbangsih terhadap indentitas ke-Indonesiaan masa kini. Seperti dilakukan Universitas Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Jawa Tengah, dengan menggelar Focus Group Discussion [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":45734,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-45733","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45733","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45733"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45733\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45734"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45733"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45733"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45733"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}