{"id":44767,"date":"2026-05-20T13:10:32","date_gmt":"2026-05-20T13:10:32","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/20\/rektor-ugm-soal-wacana-penghapusan-prodi-yang-dinilai-kurang-relevan\/"},"modified":"2026-05-20T13:10:32","modified_gmt":"2026-05-20T13:10:32","slug":"rektor-ugm-soal-wacana-penghapusan-prodi-yang-dinilai-kurang-relevan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/20\/rektor-ugm-soal-wacana-penghapusan-prodi-yang-dinilai-kurang-relevan\/","title":{"rendered":"Rektor UGM Soal Wacana Penghapusan Prodi yang Dinilai Kurang Relevan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/20\/1779281822_bf365e2d1f68c3c6e62c.jpg\" alt=\"Rektor UGM Soal Wacana Penghapusan Prodi yang Dinilai Kurang Relevan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/rektor-ugm\" title=\"Rektor UGM\">REKTOR UGM<\/a>, \u00a0Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D \u00a0menilai prodi yang selama ini dinilai kurang relevan sebetulnya menyesuaikan dengan kebutuhan, baik dari kebutuhan industri, \u00a0kehidupan berrmasyarakat, keberanjutan dan pengembangan keilmuan itu sendiri.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut Rektor kampus UGM sendiri, dari 28 bidang ilmu yang masuk dalam QS WUR by subject, terdapat tiga bidang ilmu dari sosial humaniora yang masuk dalam top 100 besar dunia. Ketiga prodi tersebut adalah Theology yang masuk dalam 45 besar dunia sebagai posisi yang sangat strategis. Selain itu, bidang ilmu Anthropology dan Development Studies berhasil menempati kelompok 100 besar dunia.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cPenguatan pada bidang-bidang tersebut mencerminkan kualitas keilmuan UGM yang semakin diakui secara global dan menunjukkan bahwa pengembangan akademik dilakukan secara terarah dan berkelanjutan,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/892189\/penegakan-hukum-ketua-ky-minta-wisudawan-jaga-integritas-dan-etika\" title=\"Penegakan Hukum, Ketua KY Minta Wisudawan Jaga Integritas dan Etika\" target=\"_blank\">Penegakan Hukum, Ketua KY Minta Wisudawan Jaga Integritas dan Etika<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Rektor mengungkapkan hal itu pada pidato <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/wisuda\" title=\"wisuda\">wisuda<\/a> \u00a0Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun 2026 di Grha Sabha Pramana pada Rabu (20\/5).\u00a0<\/p>\n<p>Lebih lanjut Rektor mengemukakan pengembangan akademik di UGM dilakukan secara komprehensif, termasuk melalui penguatan bidang ilmu sosial humaniora yang memperoleh pengakuan dunia. \u201cPendidikan berperan sebagai ruang pembebasan yang menghadirkan keadilan dan kemajuan bagi masyarakat, karena kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kebutuhan industri semata, melainkan juga kebutuhan kehidupan itu sendiri,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Dalam sambutannya, Rektor juga menyoroti pentingnya membangun lulusan yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, gelar akademik tidak berhenti pada capaian administratif ataupun keberhasilan memperoleh pekerjaan. Pengalaman belajar di kampus diharapkan membentuk integritas, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menghadapi tantangan masa depan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/olahraga\/891586\/sindir-charles-barkley-di-wisuda-lsu-shaquille-oneal-resmi-raih-gelar-magister-kedua\" title=\"Sindir Charles Barkley di Wisuda LSU, Shaquille O'Neal Resmi Raih Gelar Magister Kedua!\" target=\"_blank\">Sindir Charles Barkley di Wisuda LSU, Shaquille O&#8217;Neal Resmi Raih Gelar Magister Kedua!<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Berbagai pengalaman pembelajaran kolaboratif, penelitian, KKN-PPM, hingga aktivitas kemahasiswaan menjadi ruang pembentukan karakter bagi mahasiswa UGM. \u201cMenjadi lulusan UGM bukan sekadar mengantongi ijazah, tetapi menjadi pribadi yang memiliki karakter moral unggul serta mampu memberi dampak bagi kehidupan masyarakat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dewan Pakar Pengurus Pusat KAGAMA, Anies Baswedan dalam pidatonya mengajak para lulusan untuk memandang kehidupan setelah wisuda secara realistis sekaligus penuh harapan. Ia mengingatkan bahwa para lulusan memasuki dunia kerja pada situasi ekonomi yang tidak mudah, dengan pasar kerja yang semakin kompetitif. Namun menurutnya, generasi yang lahir pada masa sulit justru sering menjadi generasi yang paling tangguh. Ia menjelaskan bahwa tantangan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan ruang pembelajaran yang membentuk ketahanan diri seseorang.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cGenerasi yang lulus di masa sulit sering kali menjadi generasi yang paling kuat karena mereka belajar bertahan, belajar membaca keadaan, dan belajar tumbuh di tengah keterbatasan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Anies juga berbagi refleksi mengenai makna pekerjaan pertama bagi para lulusan muda. Menurutnya, pekerjaan pertama tidak selalu menghadirkan posisi ideal ataupun penghasilan besar, namun memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Ia menilai kemampuan menjaga integritas, menepati janji, dan menyelesaikan tugas sederhana dengan sungguh-sungguh justru menjadi fondasi perjalanan karier jangka panjang. Dalam kehidupan profesional, seseorang dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cJangan menunggu pekerjaan sempurna untuk memberikan yang terbaik, karena masa depan sering kali dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dikerjakan dengan penuh tanggung jawab,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, perwakilan wisudawan dari Fakultas Peternakan, Siham Hamda Zaula, membagikan kisah personal tentang perjalanan akademiknya sebagai penyandang disabilitas autisme. Ia mengaku sejak kecil sering merasa berbeda karena mengalami kesulitan memahami situasi sosial dan mudah merasa kewalahan di tengah keramaian.\u00a0<\/p>\n<p>Pengalaman tersebut membuat perjalanan kuliah tidak selalu mudah, terutama saat harus menghadapi kecemasan dan tekanan lingkungan. Namun lingkungan kampus perlahan membantunya memahami bahwa setiap orang memiliki cara bertumbuh yang berbeda. \u201cHari ini saya belajar bahwa menjadi disabilitas bukan berarti tidak mampu, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Siham juga menyampaikan apresiasi kepada dosen, keluarga, serta Unit Layanan Disabilitas UGM yang mendampinginya selama menempuh pendidikan. Menurutnya, dukungan yang terlihat sederhana sering kali menjadi alasan penting bagi mahasiswa disabilitas untuk tetap melanjutkan mimpi. Ia mengajak para lulusan untuk ikut membangun lingkungan yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan.\u00a0<\/p>\n<p>Baginya, keberagaman bukan sekadar diterima, melainkan perlu dirangkul sebagai kekuatan bersama dalam kehidupan sosial. \u201cSaya berharap kita semua mampu membangun masa depan yang memberi ruang aman bagi siapa pun yang merasa berbeda, karena perbedaan adalah kekuatan,\u201d ungkapnya. (H-2)<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/892195\/rektor-ugm-soal-wacana-penghapusan-prodi-yang-dinilai-kurang-relevan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) REKTOR UGM, \u00a0Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D \u00a0menilai prodi yang selama ini dinilai kurang relevan sebetulnya menyesuaikan dengan kebutuhan, baik dari kebutuhan industri, \u00a0kehidupan berrmasyarakat, keberanjutan dan pengembangan keilmuan itu sendiri.\u00a0 Menurut Rektor kampus UGM sendiri, dari 28 bidang ilmu yang masuk dalam QS WUR by subject, terdapat tiga bidang ilmu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44768,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-44767","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44767","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44767"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44767\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44768"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}