{"id":43477,"date":"2026-05-18T04:24:34","date_gmt":"2026-05-18T04:24:34","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/18\/aroma-dunia-kopi-dari-pasar-santa-menembus-mancanegara\/"},"modified":"2026-05-18T04:24:34","modified_gmt":"2026-05-18T04:24:34","slug":"aroma-dunia-kopi-dari-pasar-santa-menembus-mancanegara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/18\/aroma-dunia-kopi-dari-pasar-santa-menembus-mancanegara\/","title":{"rendered":"Aroma Dunia Kopi dari Pasar Santa Menembus Mancanegara"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/18\/1779076078_86d54a4d109ae5e98730.png\" alt=\"Aroma Dunia Kopi dari Pasar Santa Menembus Mancanegara\"\/><figcaption>Pemilik Dunia Kopi, Suradi(MI\/Insi Nantika Jelita)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Aroma <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kopi\" title=\"Kopi\">kopi<\/a> langsung menyambut setiap pengunjung yang menuruni lantai dasar Pasar Santa, Jakarta Selatan. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pasar, kedai sederhana bernama Dunia Kopi itu menjadi tempat singgah para pencinta kopi dari berbagai kalangan. Deretan toples berisi biji kopi tersusun rapi di etalase, menampilkan beragam pilihan kopi Nusantara hingga mancanegara yang menggoda untuk dicicipi.<\/p>\n<p>Dari lapak sederhana itulah Suradi, 54 tahun, membawa kopi Indonesia menembus pasar global. Untuk mendukung perkembangan bisnisnya, ia memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bri\" title=\"BRI\">BRI<\/a>) sebagai tambahan modal usaha dalam memperluas pemasaran kopi Indonesia.<\/p>\n<p>Namun, proses menuju titik tersebut tidak diraih dalam sekejap. Sebelum dikenal sebagai pemilik Dunia Kopi, ia lebih dulu menghabiskan bertahun-tahun hidupnya sebagai pedagang sembako di Pasar Santa. Suradi menceritakan, awal mula dirinya terjun ke bisnis kopi bermula pada 2000. Saat itu, ia membeli warung milik seorang temannya yang pindah ke Amerika Serikat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/888814\/merawat-teh-nusantara-menjaga-hidup-petani-tetap-berkelanjutan\" title=\"Merawat Teh Nusantara, Menjaga Hidup Petani Tetap Berkelanjutan\" target=\"_blank\">Merawat Teh Nusantara, Menjaga Hidup Petani Tetap Berkelanjutan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cDulu saya ikut orang 13 tahun di Pasar Santa jualan sembako. Terus saya punya teman orang Tiongkok, lalu dia pindah ke Amerika. Warungnya saya beli. Dari dia juga saya diajari tentang kopi,\u201d ujarnya saat ditemui Media Indonesia di kedai Dunia Kopi beberapa waktu lalu.\u00a0<\/p>\n<p>Dari proses belajar itu, Suradi mulai memahami ragam kopi beserta karakter masing-masing. Menurutnya, kopi pada dasarnya memiliki empat jenis utama, yakni arabika, robusta, liberika, dan excelsa. Pemahaman tersebut kemudian membawanya semakin mendalami dunia kopi hingga menghadirkan beragam biji kopi dari berbagai daerah dan negara di kedainya.<\/p>\n<p>Dunia Kopi menyediakan biji kopi dari berbagai negara seperti Brasil, Ethiopia, hingga Timor Leste. Sementara untuk kopi Nusantara, hampir seluruh daerah penghasil kopi di Indonesia tersedia di kedainya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/833182\/10-tahun-setia-bersama-bri-produk-difabel-ini-tembus-pasar-dunia\" title=\"10 Tahun Setia Bersama BRI, Produk Difabel Ini Tembus Pasar Dunia\" target=\"_blank\">10 Tahun Setia Bersama BRI, Produk Difabel Ini Tembus Pasar Dunia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKalau dari Indonesia hampir semua ada. Varietasnya juga banyak, seperti bourbon, caturra, sigararutang, sampai lini S795. Pascapanennya juga macam-macam, ada semi-wash, full-wash, yellow honey, black honey, sampai red honey,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia mengaku sengaja mengumpulkan kopi dari berbagai daerah agar Dunia Kopi bisa menjadi semacam wisata kopi bagi para pelanggan.<\/p>\n<p>\u201cSaya ngumpulin kopi seluruh Nusantara juga. Makanya namanya Dunia Kopi, biar jadi wisata kopi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut Suradi, bisnis kopi terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada awal perkembangan tren specialty coffee atau budaya menikmati kopi berkualitas tinggi sekitar 2014, mayoritas pelanggannya berasal dari luar negeri.<\/p>\n<p>\u201cDulu 70% pembeli orang luar negeri. Jepang, Korea juga banyak. Karena orang luar lebih senang kopi biji. Kalau dulu orang Indonesia lebih banyak minum kopi bubuk,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kini, komposisi pelanggan mulai berubah. Suradi menyebut pasar domestik mulai tumbuh pesat seiring kopi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cSekarang sudah 50% luar negeri dan 50% dalam negeri. Kopi sekarang sudah jadi gaya hidup. Orang ngopi itu sudah seperti kebutuhan,\u201d katanya.<\/p>\n<h2>Gaya hidup<\/h2>\n<p>Ia menilai kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari pengalaman dan gaya hidup modern. Menurutnya, budaya menikmati kopi terus berkembang karena masyarakat mulai memahami kualitas dan proses di balik secangkir kopi.<\/p>\n<p>\u201cKopi itu minuman sehat. Sekarang pelanggan, baik dari luar negeri maupun dalam negeri, sudah banyak yang peduli terhadap kualitas kopi yang mereka minum,\u201d kata Suradi.<\/p>\n<p>Aktivitas di Dunia Kopi nyaris tidak pernah sepi. Para pegawai terlihat sibuk menimbang biji kopi dan melayani pesanan pelanggan. Di salah satu sudut basement, Suradi juga menyediakan area khusus untuk mencicipi kopi secara gratis bagi para tamu.<\/p>\n<p>\u201cDi sini setiap tamu enggak harus beli. Bisa nyobain kopi apa saja, gratis,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Untuk kopi gratis saja, Suradi mengaku bisa menghabiskan 5 hingga 10 kilogram per hari. Kedainya beroperasi mulai pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Penjualannya pun terbilang fantastis. Dalam sehari, Dunia Kopi minimal menjual satu ton kopi, bahkan pernah mencapai tiga ton.<\/p>\n<p>\u201cYang rutin itu satu ton sehari. Pernah sampai tiga ton, bahkan lebih,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Saat wawancara berlangsung, seorang pelanggan diketahui baru saja membeli 200 kilogram kopi. Menurut Suradi, transaksi dalam jumlah besar sudah menjadi hal biasa di kedainya karena banyak pembelinya merupakan reseller.<\/p>\n<p>\u201cTadi ada yang datang langsung pesan 200 kilogram&#8221; klaimnya.<\/p>\n<p>Pada akhir pekan, penjualan minuman kopi di tempat juga meningkat tajam.<\/p>\n<p>\u201cSehari bisa 1.200 cup kopi kalau akhir pekan,\u201d kata Suradi.<\/p>\n<h2>Modal awal<\/h2>\n<p>Usaha yang dirintis Suradi berawal dari modal sederhana. Ia mengaku pertama kali membeli tempat usaha di Pasar Santa dengan modal Rp9,5 juta, termasuk perlengkapan, peralatan, hingga stok kopi untuk berjualan.<\/p>\n<p>\u201cSaya dulu modal awal sembilan juta setengah. Itu sudah sama kios, alat, dan kopi-kopinya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Seiring berjalannya waktu, Dunia Kopi berkembang dengan menghadirkan berbagai jenis kopi premium dari dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya yakni Java Geisha yang dijual sekitar Rp800 ribu per kilogram, serta kopi luwak dan infused coffee dengan harga sekitar Rp500 ribu per kilogram.<\/p>\n<p>Menurut Suradi, salah satu kopi unggulan yang banyak menarik perhatian adalah Kopi Gunung Puntang asal Jawa Barat. Kopi tersebut sempat dikenal dunia setelah mencetak rekor penjualan tertinggi dalam lelang kopi di Atlanta, Amerika Serikat, pada 2016.<\/p>\n<p>Kesuksesan Suradi membangun Dunia Kopi tidak hanya bertumpu pada ketekunan dan kecintaannya terhadap kopi, tetapi juga dukungan akses permodalan yang ia peroleh melalui KUR BRI. Ia mengaku sudah beberapa kali memanfaatkan pinjaman KUR untuk memperbesar skala usahanya. Dana tersebut digunakan untuk menambah peralatan, memperluas stok kopi dari berbagai daerah, hingga mendukung operasional usaha yang terus berkembang dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p>\u201cPinjaman pertama Rp100 juta, kedua Rp200 juta, ketiga Rp300 juta, dan terakhir Rp500 juta,\u201d kata Suradi.<\/p>\n<p>Baginya, akses pembiayaan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pelaku <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/umkm\" title=\"UMKM\">UMKM<\/a> yang ingin berkembang. Karena itu, ia merasa skema KUR BRI sangat membantu karena cicilannya ringan dan bunganya terjangkau sehingga pelaku usaha bisa lebih leluasa memutar modal.<\/p>\n<p>\u201cKalau zaman dulu pinjaman Rp100 juta itu bunganya kecil sekali. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) benar-benar terbantu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia bahkan mengaku memiliki kedekatan emosional dengan BRI karena merasa perjalanan usahanya ikut ditopang oleh akses pembiayaan tersebut. Baginya, keberadaan KUR bukan sekadar pinjaman modal, melainkan bentuk dukungan nyata bagi usaha kecil untuk naik kelas.<\/p>\n<p>\u201cSaya ini malah utang budi sama BRI. Dunia Kopi ini jasa BRI sebenarnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Tak hanya dalam pembiayaan, Suradi juga memanfaatkan layanan digital perbankan untuk mendukung kenyamanan transaksi pelanggan. Di tengah tren pembayaran non-tunai yang semakin berkembang, Dunia Kopi aktif menggunakan QRIS BRI agar pelanggan dapat bertransaksi dengan lebih cepat dan praktis.<\/p>\n<p>\u201cMemang kita aktif pakai QRIS BRI,\u201d ucap Suradi.<\/p>\n<h2>Terpikat<\/h2>\n<p>Salah satu pembeli yang datang ke Dunia Kopi adalah Ricky, warga Tiongkok yang sengaja menyempatkan diri berkunjung ke Pasar Santa. Ia mengaku pertama kali mengetahui kedai tersebut dari seorang teman lokal yang menyebut Dunia Kopi memiliki banyak pilihan kopi dengan cita rasa khas.<\/p>\n<p>\u201cTeman saya orang lokal dan dia memberitahu saya, kopi di sini sangat enak dan saya terpikat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ricky mengatakan mengenal berbagai jenis kopi yang dijual di Dunia Kopi, mulai dari gayo hingga geisha. Di tangannya tampak kantong plastik berisi biji kopi yang baru dibeli. Ia memilih membeli biji kopi jackfruit blend yang dipatok Rp260 ribu per kilogram.<\/p>\n<p>Bagi Ricky, kunjungan ke Dunia Kopi bukanlah yang pertama. Ia mengaku sudah beberapa kali datang untuk mencoba berbagai varian kopi yang tersedia. Ketertarikannya pada kopi Indonesia semakin besar karena setiap jenis kopi memiliki karakter rasa yang berbeda.<\/p>\n<p>Menurutnya, kopi Indonesia memiliki rasa yang khas dan berbeda dari kopi yang pernah ia coba di negara lain. Ia menilai pilihan kopi di Dunia Kopi juga memiliki karakter rasa yang lebih beragam dibandingkan kopi yang biasa ia temui di Tiongkok.<\/p>\n<p>\u201cKopi ini sangat terkenal, jadi saya datang ke sini untuk mencoba,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia mengatakan awalnya bukan penikmat kopi. Sebelumnya, ia lebih sering minum bir. Namun, kebiasaannya berubah setelah sering menemani istrinya yang menyukai kopi.<\/p>\n<p>\u201cDulu saya hanya minum bir, tetapi istri saya suka kopi. Akhirnya saya ikut minum kopi bersama dia,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ketertarikan Ricky pada Dunia Kopi juga dipengaruhi popularitas kedai tersebut di Xiaohongshu, platform media sosial dan gaya hidup yang populer di Tiongkok. Ia bahkan menunjukkan layar ponselnya yang berisi video orang-orang mencicipi kopi di Dunia Kopi.<\/p>\n<p>\u201cIni aplikasi yang sangat terkenal di Tiongkok,\u201d ujarnya sambil memperlihatkan video tersebut kepada Media Indonesia.<\/p>\n<p>Ia mengaku tertarik karena Dunia Kopi menghadirkan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Ricky sendiri menyukai kopi dengan sedikit rasa asam karena menurutnya terasa lebih khas di lidah.<\/p>\n<p>\u201cSetiap kopi dari daerah di Indonesia rasanya berbeda. Saya ingin mengeksplorasi semuanya, dan saya rasa itu bagus,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Kesan positif itu membuat Ricky tak ragu merekomendasikan Dunia Kopi kepada keluarga dan teman-temannya di Tiongkok. Bahkan, sang istri disebut sangat menyukai kopi dari kedai tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSaya sangat menyarankan tempat ini kepada keluarga saya. Istri saya juga sangat menyukai kopi di Dunia Kopi,\u201d katanya.<\/p>\n<h2>Personal branding<\/h2>\n<p>Di tengah menjamurnya kedai kopi di berbagai sudut kota, Suradi memilih mempertahankan usahanya dengan cara yang sederhana, tetapi konsisten. Baginya<br \/>&#13;<br \/>\nmenjalankan bisnis kopi tidak cukup hanya mengandalkan kualitas biji kopi. Menurutnya, pelayanan dan kedekatan dengan pelanggan juga menjadi hal penting agar usaha bisa bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.<\/p>\n<p>Suradi menilai setiap pelaku usaha harus memiliki ciri khas agar tidak mudah tenggelam di antara banyaknya pilihan kedai kopi. Ia percaya pelanggan tidak hanya mencari rasa kopi yang enak, tetapi juga pengalaman dan kenyamanan saat datang ke sebuah tempat.<\/p>\n<p>Karena itu, ia menempatkan personal branding sebagai salah satu kunci utama dalam menjalankan usaha. Dengan membangun karakter dan pelayanan yang baik, pelanggan akan lebih mudah mengingat sebuah usaha dan memiliki alasan untuk kembali datang.<\/p>\n<p>\u201cKalau orang mau usaha, nomor satu itu personal branding. Dagang itu kan ketemu orang, berarti pelayanan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain pelayanan, Suradi juga menilai keunikan menjadi faktor penting dalam menarik perhatian pelanggan. Menurutnya, tren kopi saat ini membuat konsumen semakin tertarik mencoba hal-hal baru, mulai dari jenis kopi hingga konsep penyajian yang berbeda dari tempat lain.<\/p>\n<p>\u201cYang unik-unik itu memang sangat dibutuhkan,\u201d kata Suradi.<\/p>\n<p>Baginya, mempertahankan usaha bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagaimana menciptakan identitas yang kuat di mata pelanggan. Dengan cara itu, sebuah kedai kopi bisa tetap memiliki tempat meski persaingan terus berkembang.<\/p>\n<h2>Membina petani<\/h2>\n<p>Pemilik kedai Dunia Kopi itu tidak hanya menjual kopi, tetapi juga membina langsung para petani di berbagai daerah agar kualitas biji kopi tetap terjaga. Jaringan petani binaannya tersebar di Jawa Barat, Temanggung, hingga Aceh.<\/p>\n<p>Menurut Suradi, pembinaan dilakukan melalui orang-orang kepercayaannya di setiap wilayah. Mereka kemudian membantu mendampingi petani di daerah lain agar pembinaan berjalan lebih luas dan terarah.<\/p>\n<p>\u201cKalau di Jawa Barat saya pegang dua orang. Nanti mereka pegang lagi beberapa kecamatan, jadi berkembang,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, kebutuhan akan kopi berkualitas menjadi alasan utama dirinya membina petani secara langsung. Sebab, jenis kopi yang dijual di kedainya tidak bisa diperoleh begitu saja dari perusahaan atau pabrik besar.<\/p>\n<p>\u201cKalau saya beli sama perusahaan enggak bisa, karena saya punya kopi infuse,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Kopi infuse merupakan kopi yang rasa dan aromanya dimodifikasi dengan tambahan bahan alami seperti buah, rempah, atau minyak esensial. Selain kopi infuse, Suradi juga memproduksi berbagai jenis proses kopi lain seperti anaerob, yellow honey, red honey, black honey, natural, hingga wine coffee dengan karakter rasa yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Menurutnya, proses-proses tersebut jarang dilakukan petani secara umum sehingga membutuhkan pendampingan khusus. Karena itu, ia memilih membangun hubungan langsung dengan petani agar kualitas kopi sesuai dengan kebutuhan pasar.<\/p>\n<p>\u201cSeperti robusta, orang biasanya bikin natural saja. Kalau saya bikin robusta wine, bikin anaerob. Itu enggak bisa langsung beli begitu saja,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Suradi mengaku pembinaan petani sebenarnya sudah dilakukan sejak awal ia membangun usaha kopi. Pasalnya, kopi memiliki karakter produksi yang berbeda dengan komoditas lain karena panennya musiman dan tidak tersedia sepanjang tahun.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita enggak punya rekanan petani ya susah dapat barang dari mana,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Dalam pembinaan tersebut, Suradi tidak hanya meminta petani menghasilkan kopi berkualitas, tetapi juga memberikan kepastian pembelian hasil panen. Menurutnya, hal itu menjadi kebutuhan utama para petani agar mereka berani melakukan proses yang lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cPetani itu butuh kepastian. Kadang mereka sudah disuruh proses bagus, tapi enggak dibeli. Nah, kalau di saya dipastikan dibeli,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia mengatakan, hasil panen kopi robusta dari lahan satu hektare rata-rata bisa mencapai sekitar 400 hingga 500 kilogram. Harga kopi sendiri bersifat fluktuatif tergantung musim panen. Saat panen raya harga biasanya sedikit turun, sementara ketika stok menipis harga kembali naik.<\/p>\n<p>\u201cKalau robusta sekarang sekitar Rp70 ribu sampai Rp80 ribu per kilogram,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, kopi arabika mentah dengan proses standar disebut berada di kisaran 1,45 dolar AS hingga 1,65 dolar AS per pon. Setelah diproses lebih lanjut, satu jenis kopi bisa menghasilkan berbagai karakter rasa dan tingkat sangrai yang berbeda.<\/p>\n<p>\u201cDi sini roasting-nya juga beda-beda. Ada light roast, medium, full city, italian roast, vienna, macam-macam,\u201d ujar Suradi.<\/p>\n<p>Dari berbagai jenis kopi yang dijual, Suradi menyebut Kopi Puntang asal Jawa Barat sebagai salah satu kopi dengan harga tertinggi di kedainya. Kopi tersebut pernah dicicipi Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan mulai dikenal dunia setelah mencetak rekor penjualan dalam lelang kopi di Atlanta, Amerika Serikat, pada 2016. Di kedai Dunia Kopi, harga biji Kopi Puntang mencapai Rp800 ribu per kilogram. (E-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/891271\/aroma-dunia-kopi-dari-pasar-santa-menembus-mancanegara\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemilik Dunia Kopi, Suradi(MI\/Insi Nantika Jelita) Aroma kopi langsung menyambut setiap pengunjung yang menuruni lantai dasar Pasar Santa, Jakarta Selatan. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pasar, kedai sederhana bernama Dunia Kopi itu menjadi tempat singgah para pencinta kopi dari berbagai kalangan. Deretan toples berisi biji kopi tersusun rapi di etalase, menampilkan beragam pilihan kopi Nusantara hingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":43478,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-43477","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43477","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43477"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43477\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43478"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43477"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43477"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43477"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}