{"id":43457,"date":"2026-05-18T03:35:39","date_gmt":"2026-05-18T03:35:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/18\/200-ribu-anak-terjerat-judi-online-situs-berkedok-gim-harus-ditutup\/"},"modified":"2026-05-18T03:35:39","modified_gmt":"2026-05-18T03:35:39","slug":"200-ribu-anak-terjerat-judi-online-situs-berkedok-gim-harus-ditutup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/18\/200-ribu-anak-terjerat-judi-online-situs-berkedok-gim-harus-ditutup\/","title":{"rendered":"200 Ribu Anak Terjerat Judi Online, Situs Berkedok Gim harus Ditutup"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/18\/1779074949_746ee6623e867a7a7848.jpg\" alt=\"200 Ribu Anak Terjerat Judi Online, Situs Berkedok Gim harus Ditutup\"\/><figcaption>ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Direktur Wahid Foundation, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/yenny-wahid\" title=\"Yenny Wahid\">Yenny Wahid<\/a> menyoroti fenomena 200 ribu anak Indonesia yang telah terpapar kasus <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/judi\" title=\"judi\">judi<\/a> <em>online <\/em>(<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/judol\" title=\"judol\">judol<\/a>). Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memberantas <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/judi-online\" title=\"judi online\">judi online<\/a> hingga ke akarnya.<\/p>\n<p>\u201cKita berharap pemerintah jangan hanya mengungkap data, tapi harus serius untuk memberantas judi online,\u201d kata Yenny di Jakarta, Minggu (17\/5).<\/p>\n<p>Yenny menilai pemerintah harus segera menutup situs-situs judi online yang kerap menyamar sebagai <em>platform <\/em>gim maupun hiburan digital agar tidak semakin mudah diakses anak-anak.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/856633\/kementerian-komdigi-apresiasi-peran-gopay-dalam-pemberantasan-judi-online\" title=\"Kementerian Komdigi Apresiasi Peran GoPay dalam Pemberantasan Judi Online\" target=\"_blank\">Kementerian Komdigi Apresiasi Peran GoPay dalam Pemberantasan Judi Online<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cJadi harus distop. Situs-situs judi online yang menyamar dalam situs gaming dan sebagainya harus diturunkan. Ini tugas pemerintah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut dia, upaya pemberantasan judi online tidak cukup hanya melalui pengungkapan data, tetapi juga harus disertai langkah pencegahan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat serta regulasi yang tegas dari pemerintah. Selain itu, edukasi kepada orang tua, sekolah, dan lingkungan sosial dinilai penting karena pendidikan anak tidak hanya berlangsung di rumah.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cAnak harus dididik dengan nilai yang sama bahwa judi online itu berbahaya,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/855156\/transaksi-judi-online-merosot-ancaman-belum-surut\" title=\"Transaksi Judi Online Merosot, Ancaman Belum Surut\" target=\"_blank\">Transaksi Judi Online Merosot, Ancaman Belum Surut<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Yenny meyakini ruang gerak judi online dapat dipersempit apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama dalam melakukan pencegahan. Ia juga menegaskan bahwa para penyelenggara judi online harus mendapatkan hukuman berat.<\/p>\n<p>\u201cSemua orang yang menyelenggarakan judi online harus dihukum seberat-beratnya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Yenny menekankan anak-anak yang sudah terpapar judi online tidak boleh diperlakukan sebagai pelaku kriminal. Menurutnya, mereka justru membutuhkan pendampingan dan konseling agar bisa lepas dari\u00a0 kecanduan.<\/p>\n<p>\u201cAnak harus diberikan konseling. Orang tua juga jangan cuek,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan penanganan judi online tidak bisa hanya dibebankan kepada Komdigi, tetapi harus melibatkan kementerian lain seperti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Menurut Yenny, dampak judi <em>online <\/em>terhadap anak sangat berbahaya karena dapat memicu adiksi yang memengaruhi sistem otak, termasuk motivasi, memori, dan kontrol diri seseorang.<\/p>\n<p>\u201cAda temuan bahwa bagian otak tertentu ketika terpapar judi online dapat menyebabkan adiksi. Kalau sudah menyebabkan adiksi, sangat sulit dihentikan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Sebelumnya, data Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut sekitar 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 80 anak di antaranya disebut masih berusia di bawah 10 tahun. (E-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/891266\/200-ribu-anak-terjerat-judi-online-situs-berkedok-gim-harus-ditutup\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Antara) Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menyoroti fenomena 200 ribu anak Indonesia yang telah terpapar kasus judi online (judol). Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memberantas judi online hingga ke akarnya. \u201cKita berharap pemerintah jangan hanya mengungkap data, tapi harus serius untuk memberantas judi online,\u201d kata Yenny di Jakarta, Minggu (17\/5). Yenny menilai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":43458,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-43457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43457"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43457\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43458"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}