{"id":42224,"date":"2026-05-15T08:20:52","date_gmt":"2026-05-15T08:20:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/15\/kisah-sitimah-guru-di-kudus-yang-harus-tempuh-4-jam-perjalanan-untuk-mengajar-ke-sekolah\/"},"modified":"2026-05-15T08:20:52","modified_gmt":"2026-05-15T08:20:52","slug":"kisah-sitimah-guru-di-kudus-yang-harus-tempuh-4-jam-perjalanan-untuk-mengajar-ke-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/15\/kisah-sitimah-guru-di-kudus-yang-harus-tempuh-4-jam-perjalanan-untuk-mengajar-ke-sekolah\/","title":{"rendered":"Kisah Sitimah, Guru di Kudus yang Harus Tempuh 4 Jam Perjalanan untuk Mengajar ke Sekolah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/15\/1778832514_4f125915fddfe32bb4b8.jpeg\" alt=\"Kisah Sitimah, Guru di Kudus yang Harus Tempuh 4 Jam Perjalanan untuk Mengajar ke Sekolah\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Kemendikdasmen)<\/figcaption><\/figure>\n<p>JARUM jam baru menunjukkan waktu lepas subuh ketika Sitimah menyalakan sepeda motornya dari rumah di Kabupaten Boyolali. Di saat sebagian orang masih mempersiapkan hari, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/guru\" title=\"guru\">guru<\/a> sekolah dasar itu sudah memulai perjalanan panjang menuju <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sdn-7-getassrabi\" title=\"SDN 7 getassrabi\">SDN 7 Getassrabi<\/a>, Kabupaten Kudus, tempat ia mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun.<\/p>\n<p>Setiap hari, Sitimah harus menghabiskan sekitar empat jam di perjalanan demi bisa berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak membaca serta menulis. \u201cKurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Perjalanan jauh itu tidak membuat semangatnya surut. Bagi Sitimah, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa yang ia pegang teguh sejak lama. Kecintaannya kepada anak-anak membuatnya tetap bertahan, meski harus menempuh jarak lintas kabupaten setiap hari. \u201cKalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental,\u201d ucapnya lirih.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/868515\/guru-emas------\" title=\"Guru Emas      \" target=\"_blank\">Guru Emas      <\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kisah Sitimah menjadi potret nyata perjuangan banyak guru di Indonesia yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi di tengah keterbatasan. Selama 22 tahun mengabdi, ia telah melewati berbagai tantangan sebagai tenaga pendidik.<\/p>\n<p>Pada tahun 2004 hingga 2010, Sitimah mengajar dengan status Guru Wiyata Bakti atau guru honorer. \u201cTahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008\u20132010 dapat bayaran Rp220 ribu,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Harapan baru datang ketika pemerintah membuka formasi CPNS pada 2010. Setahun kemudian, Sitimah resmi diangkat menjadi CPNS dan ditempatkan di SDN 7 Getassrabi. Di sekolah tersebut terdapat 72 murid dengan enam ruang kelas. Sitimah dipercaya menjadi wali kelas 1 yang merupakan fase penting bagi anak-anak yang baru memasuki dunia sekolah dasar.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/833854\/wamendikdasmen-terima-kasih-guru-teruslah-mengabdi-dengan-kasih\" title=\"Wamendikdasmen: Terima Kasih Guru, Teruslah Mengabdi dengan Kasih\" target=\"_blank\">Wamendikdasmen: Terima Kasih Guru, Teruslah Mengabdi dengan Kasih<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurutnya, mengajar kelas 1 membutuhkan kesabaran lebih karena anak-anak masih berada dalam masa transisi dari PAUD. Tidak sedikit murid yang masih kesulitan membaca dan menulis. Karena itu, Sitimah kerap memberikan waktu tambahan secara sukarela agar anak-anak tidak tertinggal pelajaran. \u201cSaya mengulang anak yang belum bisa membaca atau nelateni yang ketinggalan menulis. Sebelumnya, saya sudah izin kepada orang tua anak,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Selama satu jam setelah kegiatan belajar selesai, ia mendampingi murid-murid yang membutuhkan perhatian lebih\u2014tanpa memungut biaya apa pun.<\/p>\n<p>Bagi Sitimah, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika murid mendapatkan nilai baik, tetapi ketika tidak ada anak yang tertinggal dalam belajar.<\/p>\n<p>Di tengah pengabdiannya, Sitimah mengaku bersyukur karena perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru terus meningkat. Salah satunya melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 10 Tahun 2026 yang mengatur penyaluran tunjangan profesi guru secara langsung setiap bulan ke rekening penerima. \u201cSebelumnya tunjangan cair per tiga bulan. Kalau tahun 2026 ini tiap bulan sesuai gaji pokok,\u201d katanya dengan wajah sumringah.<\/p>\n<p>Tambahan penghasilan tersebut tidak hanya membantu kebutuhan keluarganya, tetapi juga menjadi jalan bagi Sitimah untuk berbagi kepada sesama. Ia rutin membantu anak yatim, kaum duafa, hingga murid-murid dari keluarga kurang mampu. \u201cAlhamdulillah berkah. Saya bisa tiap tahun menyantuni anak yatim dan duafa, serta bisa ikut kurban di kampung. Terkadang bisa membantu perekonomian murid yang benar-benar minim ekonominya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Namun di balik keteguhan itu, usia dan kondisi kesehatan mulai menjadi tantangan baru. Sitimah berharap suatu hari dapat mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya. \u201cNjih niku, saya ingin mutasi karena kondisi usia dan kesehatan,\u201d ujarnya pelan.<\/p>\n<p>Ia mengaku telah dua kali mengajukan mutasi, tetapi belum dapat direalisasikan karena sekolah tempatnya mengajar masih kekurangan tenaga pendidik.<\/p>\n<p>Harapan itu kembali muncul ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu\u2019ti melakukan kunjungan kerja dan mendengar langsung kisah perjuangannya. Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Mendikdasmen meminta agar persoalan tersebut segera dicarikan solusi. \u201cDilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan terlalu jauh,\u201d tutur Abdul Mu\u2019ti kepada perwakilan Dinas Pendidikan yang hadir.<\/p>\n<p>Pemerintah sendiri telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN pada Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan oleh Masyarakat. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu pemerataan kebutuhan guru sekaligus memberi ruang bagi penataan yang lebih manusiawi bagi para pendidik.<\/p>\n<p>Di tengah perjalanan panjang yang setiap hari ia tempuh, Sitimah tetap percaya bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian. Bukan tentang seberapa jauh jarak yang dilalui, tetapi seberapa besar ketulusan yang diberikan demi masa depan anak-anak Indonesia. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/890572\/kisah-sitimah-guru-di-kudus-yang-harus-tempuh-4-jam-perjalanan-untuk-mengajar-ke-sekolah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Kemendikdasmen) JARUM jam baru menunjukkan waktu lepas subuh ketika Sitimah menyalakan sepeda motornya dari rumah di Kabupaten Boyolali. Di saat sebagian orang masih mempersiapkan hari, guru sekolah dasar itu sudah memulai perjalanan panjang menuju SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus, tempat ia mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun. Setiap hari, Sitimah harus menghabiskan sekitar empat jam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42225,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-42224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42224"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42224\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42225"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}