{"id":42054,"date":"2026-05-14T22:23:14","date_gmt":"2026-05-14T22:23:14","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/14\/pancasila-rumah-aman-bagi-anak\/"},"modified":"2026-05-14T22:23:14","modified_gmt":"2026-05-14T22:23:14","slug":"pancasila-rumah-aman-bagi-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/14\/pancasila-rumah-aman-bagi-anak\/","title":{"rendered":"Pancasila Rumah Aman bagi Anak"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/15\/1778785989_0a0fe2da1afcc5654903.jpg\" alt=\"Pancasila Rumah Aman bagi Anak\"\/><figcaption>(MI\/Seno)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kekerasan-seksual\" title=\"Kekerasan seksual\">KEKERASAN seksual<\/a> di lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren, bukan lagi anomali. Itu menjadi bukti bahwa sistem yang kita banggakan gagal melindungi anak. Kita mengaku berpancasila, tetapi ruang paling dekat dengan anak justru menjadi ruang paling berbahaya.<\/p>\n<p>Setiap kali kasus kekerasan seksual terungkap, yang runtuh bukan hanya rasa aman anak, melainkan juga kredibilitas kita sebagai bangsa yang mengaku berpancasila. Akibatnya, semakin banyak paradoks yang kita cipta akibat makin jauh dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pancasila\" title=\"Pancasila\">Pancasila<\/a>.<\/p>\n<p>Kita menganggap rumah, sekolah, dan lembaga keagamaan sebagai ruang paling aman bagi anak. Fakta menunjukkan sebaliknya: kekerasan, termasuk kekerasan seksual, justru terjadi di ruang-ruang yang seharusnya melindungi anak-anak.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/810182\/bpip-diusulkan-diberi-kewenangan-baru-bisa-tegur-lembaga-yang-melenceng-dari-pancasila\" title=\"BPIP Diusulkan Diberi Kewenangan Baru, Bisa tegur Lembaga yang Melenceng dari Pancasila\" target=\"_blank\">BPIP Diusulkan Diberi Kewenangan Baru, Bisa tegur Lembaga yang Melenceng dari Pancasila<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Budaya diam, relasi kuasa yang timpang tanpa kontrol, serta kecenderungan melindungi nama baik institusi daripada keselamatan anak telah menciptakan ruang aman bagi pelaku, bukan bagi korban. Di Tangerang, sikap kepolisian yang mendiamkan laporan ikut menyulut kemarahan rakyat untuk melakukan pembakaran.<\/p>\n<p>Mempraktikkan Pancasila (<em>Saatnya Pulang ke Pancasila<\/em>, 2025) sebenarnya menjamin sistem kecerdasan utuh:r<em>ogo\u00a0<\/em> (IQ), <em>cipto<\/em> (EQ), dan <em>roso<\/em> (SQ). Saat terjadi kekerasan di sekolah dan ponpes, itu menunjukkan Pancasila tidak dipraktikkan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/pilkada\/727632\/pilkada-lewat-rakyat-ataupun-dprd-sama-sama-dibolehkan\" title=\"Pilkada Lewat Rakyat ataupun DPRD Sama-sama Dibolehkan\" target=\"_blank\">Pilkada Lewat Rakyat ataupun DPRD Sama-sama Dibolehkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pancasila harus menjadi rumah aman bagi anak melalui operasionalisasi Pancasila di tiga ruang utama pendidikan: rumah, sekolah, dan komunitas dengan strategi asih, asah, asuh sesuai dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PANCASILA SEBAGAI SISTEM YANG HIDUP<\/strong><\/p>\n<p>Rumah aman untuk anak (rosa) ialah ketika rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga ruang pertama anak belajar tentang rasa aman, kepercayaan, dan harga diri. Kemanusiaan yang adil dan beradab dimulai dari rumah yang tidak membungkam anak.<\/p>\n<p>Komunikasi keluarga harus terbuka, kehadiran orangtua yang welas asih, mengasah multikecerdasan serta pengasuhan yang menghormati anak sebagai subjek ialah fondasi utama. Dengan demikian, anak tidak takut untuk bercerita termasuk ketika mengalami hal yang tidak nyaman atau berbahaya.<\/p>\n<p>Di dalam rosa, relasi orangtua yang setara dan bebas dari kekerasan, baik verbal maupun nonverbal, menjadi dasar relasi yang sehat. Orangtua tidak harus sempurna, tetapi mampu mengenali dan mengelola emosi mereka sehingga tidak memproyeksikan tekanan mental, trauma, luka masa kecil kepada sang anak.<\/p>\n<p>Dalam relasi yang sehat di rumah, anak akan merasa aman untuk menjadi dirinya, berani berbicara, dan tumbuh tanpa rasa takut. Dari situlah terbentuk generasi yang sehat dan berbudi pekerti baik. secara fisik (IQ), mental (EQ) , dan spiritual (SQ) atau r<em>ogo, cipto, roso<\/em> yang selaras.<\/p>\n<p>Sebaliknya, rumah yang penuh bentakan, sindiran, atau relasi yang timpang sering menjadi tempat pertama anak belajar tentang ketakutan, bukan tentang cinta. Ketakutanlah yang akan memberikan celah melahirkan kekerasan sehingga kesehatan mental anak menjadi rapuh.<\/p>\n<p>Sekolah aman untuk anak (saman) akan terwujud jika ada pengawasan termasuk terhadap sekolah yang berlabel moral, tradisi, atau agama. Masalahnya bukan ketiadaan nilai moral, melainkan absennya sistem yang mengontrol kekuasaan.<\/p>\n<p>Kurikulum jangan hanya untuk membentuk kepatuhan, tetapi harus menjamin perlindungan misalnya dengan adanya sistem pelaporan yang aman dan mekanisme akuntabilitas. Budaya saling menghormati di sekolah harus menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan. Di sinilah nilai kerakyatan dan keadilan sosial bekerja agar kekuasaan (sekolah) bisa dikontrol.<\/p>\n<p>Sayangnya, pendidikan sering kali berhenti pada aspek kognitif dan lemah di aspek emosi dan spiritual. Kognitif pun di level paling rendah, yaitu menghafal, sehingga tidak membekali siswa untuk kreatif dan inovatif karena daya kritis tidak dibangun di sekolah.<\/p>\n<p>Akibatnya, kita tidak kekurangan anak dengan IQ tinggi. Yang sering hilang justru EQ dan SQ yang membuat manusia mampu menghormati sesamanya dan mengendalikan dirinya. Tiga kecerdasan yang tidak berkembang selaras menyebabkan perilaku yang mendukung kekerasan baik oleh pengelola sekolah maupun para siswa sendiri.<\/p>\n<p>Elemen ketiga yang berkontribusi pada kesehatan mental anak ialah lingkungan\/komunitas sebut saja kompak yaitu komunitas aman untuk anak. Lingkungan sosial yang meliputi tetangga, tokoh masyarakat, hingga negara memegang peran penting dalam memastikan anak tidak dibiarkan sendirian menghadapi risiko.<\/p>\n<p>Persatuan dalam Pancasila tidak berarti menutup aib, tetapi keberanian kolektif untuk melindungi yang lemah (anak) bukan yang berkuasa. Komunitas yang sehat ialah komunitas yang responsif, peduli, dan berani bertindak ketika melihat tanda-tanda kekerasan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>MEMULAI PERUBAHAN<\/strong><\/p>\n<p>Dalam mendukung keselarasan <em>rogo\u2013cipto\u2013roso<\/em> siswa, arah perlindungan anak menjadi jelas. <em>Rogo<\/em> berarti tubuh anak harus aman\u2014bebas dari kekerasan fisik dan seksual. <em>Cipto<\/em> mereka dibebaskan, anak memiliki ruang untuk berpikir, bertanya, dan berani bersuara, tanpa takut dihukum atau diabaikan. <em>Roso<\/em> dimanusiakan dengan lingkungan yang menumbuhkan empati, welas asih, dan penghormatan terhadap martabat manusia.<\/p>\n<p>Banyak kasus tidak terungkap bukan karena tidak terjadi, melainkan karena sistem tidak memberikan ruang aman bagi korban untuk berbicara. Ketika otoritas tidak diimbangi akuntabilitas, yang terjadi ialah pembungkaman. Ketika nama baik institusi lebih dijaga daripada keselamatan anak, yang dikorbankan ialah masa depan generasi.<\/p>\n<p>Perubahan harus dimulai sekarang, dengan langkah yang jelas. Pertama, negara wajib memastikan setiap sekolah dan lembaga pendidikan memiliki mekanisme pelaporan yang aman, independen, dan melindungi korban.<\/p>\n<p>Kedua, orangtua perlu membangun komunikasi setara di rumah, bukan relasi takut, agar anak berani bersuara.<\/p>\n<p>Ketiga, komunitas harus berhenti menutup kasus atas nama reputasi dan mulai berpihak pada korban. Harapan yang sama untuk penegak hukum, jangan menjadi bagian dari persoalan.<\/p>\n<p>Keempat, kurikulum pendidikan harus mengintegrasikan pengembangan IQ, EQ, dan SQ sekaligus secara seimbang\u2014bukan sekadar hafalan.<\/p>\n<p>Tanpa langkah konkret itu, Pancasila akan tetap menjadi slogan, bukan rumah aman bagi anak. Dengan demikian, tekad tentang Indonesia emas dan bonus demografi tidak menjadi ilusi atau halusinasi.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/890477\/pancasila-rumah-aman-bagi-anak\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(MI\/Seno) KEKERASAN seksual di lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren, bukan lagi anomali. Itu menjadi bukti bahwa sistem yang kita banggakan gagal melindungi anak. Kita mengaku berpancasila, tetapi ruang paling dekat dengan anak justru menjadi ruang paling berbahaya. Setiap kali kasus kekerasan seksual terungkap, yang runtuh bukan hanya rasa aman anak, melainkan juga kredibilitas kita sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":42055,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-42054","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42054","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42054"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42054\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42055"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42054"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42054"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42054"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}