{"id":41907,"date":"2026-05-14T15:52:39","date_gmt":"2026-05-14T15:52:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/14\/ancaman-sampah-antariksa-puing-falcon-9-bakal-tabrak-kawah-einstein\/"},"modified":"2026-05-14T15:52:39","modified_gmt":"2026-05-14T15:52:39","slug":"ancaman-sampah-antariksa-puing-falcon-9-bakal-tabrak-kawah-einstein","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/14\/ancaman-sampah-antariksa-puing-falcon-9-bakal-tabrak-kawah-einstein\/","title":{"rendered":"Ancaman Sampah Antariksa, Puing Falcon 9 Bakal Tabrak Kawah Einstein"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/14\/1778773553_8e7153080db625ae27fb.jpeg\" alt=\"Ancaman Sampah Antariksa, Puing Falcon 9 Bakal Tabrak Kawah Einstein\"\/><figcaption>Roket Falcon 9 milik SpaceX pada 11 Februari 2026.(Dok. SpaceX)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SEBUAH potongan besar dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/roket-falcon-9\" title=\"roket Falcon 9\">roket Falcon 9<\/a> milik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/spacex\" title=\"SpaceX\">SpaceX<\/a> diprediksi akan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/menabrak-permukaan-bulan\" title=\"menabrak permukaan Bulan\">menabrak permukaan Bulan<\/a> pada 5 Agustus 2026 mendatang, memicu kembali diskusi kritis mengenai ancaman <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sampah-antariksa\" title=\"sampah antariksa\">sampah antariksa<\/a>. Fenomena ini pertama kali diidentifikasi oleh Bill Gray, astronom dari Project Pluto, yang menghitung bahwa <em>upper stage<\/em> roket sepanjang 13,7 meter tersebut akan menghantam area dekat kawah Einstein.<\/p>\n<p>Puing tersebut berasal dari misi peluncuran pendarat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/blue-ghost\" title=\"Blue Ghost\">Blue Ghost<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/hakuto-r\" title=\"Hakuto-R\">Hakuto-R<\/a> pada 15 Januari 2025. Sejak saat itu, bagian roket ini terjebak dalam orbit elips selama 26 hari yang membawanya melampaui jarak Bulan sebelum akhirnya ditarik kembali oleh gravitasi.<\/p>\n<p>Berdasarkan perhitungan Gray, tabrakan diperkirakan terjadi pada pukul 13:44 WIB dengan kecepatan mencapai 8.700 km\/jam. Lokasi dampak berada di tepi barat Bulan, wilayah yang menghadap Bumi, namun para ahli menyebut peristiwa ini tidak akan terlihat dengan alat observasi amatir meski terjadi di bawah cahaya matahari.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/734978\/kolaborasi-jepang-as-misi-resilience-dan-blue-ghost-untuk-eksplorasi-bulan-2025\" title=\"Kolaborasi Jepang-AS: Misi Resilience dan Blue Ghost untuk Eksplorasi Bulan 2025\" target=\"_blank\">Kolaborasi Jepang-AS: Misi Resilience dan Blue Ghost untuk Eksplorasi Bulan 2025<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bill Gray memberikan catatan bahwa prediksi lokasi jatuhnya puing ini masih memiliki kemungkinan untuk bergeser tipis. &#8220;Pada September 2025, perangkat lunak saya untuk menghitung orbit menganalisis pengamatan dan memproyeksikan dampak dengan bulan pada 5 Agustus 2026,&#8221; ungkap Gray dalam unggahannya di situs Project Pluto.<\/p>\n<p>Insiden ini mempertegas urgensi penanganan sampah antariksa. Badan Antariksa Eropa (ESA) mencatat terdapat sekitar 35.000 objek terlacak yang mengorbit Bumi, mulai dari satelit mati hingga puing roket. Para ilmuwan mengkhawatirkan munculnya &#8216;Sindrom Kessler&#8217;, yakni skenario tabrakan berantai yang menghasilkan jutaan debris baru dan membahayakan misi luar angkasa di masa depan.<\/p>\n<p>Di tengah ambisi NASA dan perusahaan swasta melalui program Artemis untuk membangun kehadiran permanen manusia di Bulan, puing-puing dari misi masa lalu ini menjadi pengingat nyata akan tantangan lingkungan yang kini meluas hingga ke luar angkasa.<\/p>\n<p><strong>Data Teknis Prediksi Tabrakan:<\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 10px;\">&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Objek<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Upper Stage Falcon 9 (SpaceX)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Dimensi<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Panjang \u00b1 13,7 Meter<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Waktu Dampak<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">5 Agustus 2026, 13:44 WIB<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Kecepatan<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">8.700 Km\/Jam<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Lokasi<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Dekat Kawah Einstein (Sisi Barat Bulan)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>(<em>Complex\/Sky at Night Magazine\/<\/em>Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/890442\/ancaman-sampah-antariksa-puing-falcon-9-bakal-tabrak-kawah-einstein\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Roket Falcon 9 milik SpaceX pada 11 Februari 2026.(Dok. SpaceX) SEBUAH potongan besar dari roket Falcon 9 milik SpaceX diprediksi akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026 mendatang, memicu kembali diskusi kritis mengenai ancaman sampah antariksa. Fenomena ini pertama kali diidentifikasi oleh Bill Gray, astronom dari Project Pluto, yang menghitung bahwa upper stage roket [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41908,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-41907","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41907","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41907"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41907\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41907"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41907"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}