{"id":41223,"date":"2026-05-13T08:15:29","date_gmt":"2026-05-13T08:15:29","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/13\/soroti-erupsi-gunung-dukono-pakar-itb-ingatkan-risiko-pendakian-saat-aktivitas-vulkanik-meningkat\/"},"modified":"2026-05-13T08:15:29","modified_gmt":"2026-05-13T08:15:29","slug":"soroti-erupsi-gunung-dukono-pakar-itb-ingatkan-risiko-pendakian-saat-aktivitas-vulkanik-meningkat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/13\/soroti-erupsi-gunung-dukono-pakar-itb-ingatkan-risiko-pendakian-saat-aktivitas-vulkanik-meningkat\/","title":{"rendered":"Soroti Erupsi Gunung Dukono, Pakar ITB Ingatkan Risiko Pendakian saat Aktivitas Vulkanik Meningkat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/13\/1778659481_7d21949230d76cbc0144.jpg\" alt=\"Soroti Erupsi Gunung Dukono, Pakar ITB Ingatkan Risiko Pendakian saat Aktivitas Vulkanik Meningkat\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa )<\/figcaption><\/figure>\n<p>AKTIVITAS <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gunung-dukono\" title=\"Gunung Dukono\">Gunung Dukono<\/a> kembali menjadi perhatian setelah peristiwa pendakian yang menimbulkan korban jiwa. Gunung api yang berada di Halmahera Utara, Maluku Utara, tersebut dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.\u00a0<\/p>\n<p>Menanggapi hal ini, dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Mirzam Abdurrachman menjelaskan karakter Gunung Dukono, potensi bahaya erupsi, serta pentingnya mitigasi berbasis informasi resmi.<\/p>\n<p>Menurut\u00a0Mirzam, Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api dengan aktivitas tinggi di Indonesia. Aktivitas tersebut menjadikan Dukono menarik untuk diamati, terutama bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam sekaligus menyaksikan fenomena erupsi secara langsung. Namun, daya tarik tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/889449\/ert-nhm-bergabung-dalam-operasi-sar-gabungan-evakuasi-korban-erupsi-gunung-dukono\" title=\"ERT NHM Bergabung dalam Operasi SAR Gabungan Evakuasi Korban Erupsi Gunung Dukono\" target=\"_blank\">ERT NHM Bergabung dalam Operasi SAR Gabungan Evakuasi Korban Erupsi Gunung Dukono<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cGunung api itu menjadi semakin menarik ketika gunung apinya aktif. Para pendaki ingin menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan atraksi yang luar biasa,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Mirzam menyebut bahwa aktivitas erupsi, baik dalam skala kecil maupun besar, tetap memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan. Keinginan untuk memperoleh foto, video, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan bahaya yang dapat terjadi di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cKeselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, dengan popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa selfie pada waktu erupsi,\u201d bebernya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/888825\/seluruh-korban-erupsi-gunung-dukono-ditemukan-operasi-sar-ditutup\" title=\"Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan, Operasi SAR Ditutup\" target=\"_blank\">Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan, Operasi SAR Ditutup<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Status Meningkat, Pendakian Seharusnya tidak Dilakukan<\/h2>\n<p>Dr. Mirzam menjelaskan bahwa status gunung api ditentukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik. Status tersebut terdiri atas normal, waspada, siaga, hingga awas, atau level 1 sampai level 4. Peningkatan status biasanya didasarkan pada sejumlah indikator, seperti aktivitas kegempaan, erupsi kecil, dan perubahan aktivitas gunung.<\/p>\n<p>Dalam konteks Gunung Dukono, ia menyebutkan bahwa pada Agustus 2024 status gunung berada pada level 2 dengan rekomendasi radius aman sejauh 3 kilometer. Pada Desember 2024, radius rekomendasi tersebut meningkat menjadi 4 kilometer. Selanjutnya, pada 17 April 2026, status Dukono berada pada level 3 sehingga aktivitas pendakian seharusnya tidak dilakukan.<\/p>\n<p>\u201cKalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun,\u201d tandasnya.<\/p>\n<h2>Ancaman Bukan hanya soal\u00a0Abu Vulkanik<\/h2>\n<p>Mirzam mengingatkan bahwa bahaya gunung api tidak hanya berasal dari abu vulkanik. Memperhatikan arah angin memang dapat membantu menghindari sebaran abu, tetapi langkah tersebut hanya mengurangi salah satu jenis risiko. Erupsi gunung api juga dapat menghasilkan bom vulkanik, awan panas, gas beracun, aliran lava, lahar, hingga longsor.<\/p>\n<p>\u201cUsaha kita melihat arah angin ke mana itu hanya meminimalisir salah satu bencana, yaitu jatuhnya abu vulkanik yang terbawa angin,\u201d imnu6.<\/p>\n<p>Mirzam menambahkan, material seperti bom vulkanik sangat berbahaya karena terlontar secara balistik dan tidak mengikuti arah angin. Selain itu, awan panas memiliki kecepatan tinggi sehingga sulit dihindari apabila sudah melintas.<\/p>\n<p>\u201cKalau yang keluar adalah <em>wedhus gembel <\/em>dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau naik, mau turun, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Dr. Mirzam mengatakan, sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada teknologi. Informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah harus dapat diterima masyarakat, dipahami dengan baik, serta disampaikan melalui pihak yang dipercaya masyarakat setempat. Tantangan di lapangan muncul karena tidak semua masyarakat memiliki akses internet, memahami sistem peringatan dini, maupun memahami bahasa Indonesia dengan baik.<\/p>\n<p>\u201cTidak semua terhubung dengan jaringan internet. Tidak semua orang memahami <em>warning system<\/em>. Ada beberapa yang juga tidak bisa berbahasa Indonesia di daerah itu,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Karena itu, ujar Mirzam, \u00a0tokoh masyarakat, kepala desa, pemandu lokal, dan pihak yang dipercaya warga perlu dilibatkan sebagai penghubung informasi. Dengan demikian, informasi ilmiah dapat diterima masyarakat melalui bahasa yang lebih mudah dipahami. Mitigasi bencana gunung api merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, PVMBG, BNPB, akademisi, pengelola wisata, pemandu, masyarakat lokal, hingga pendaki memiliki peran masing-masing. Informasi mengenai status gunung api dan rekomendasi aktivitas harus merujuk pada sumber resmi, bukan hanya berdasarkan pengalaman individu atau pihak pengelola wisata.<\/p>\n<p>\u201cSetiap wisatawan harus mencari informasi yang cukup, apakah ini saat yang tepat, apakah ini paling berisiko atau tidak. Itu harus ditakar. Gunung api aktif tetap dapat dinikmati dari jarak aman. Kegiatan wisata alam tidak harus dihentikan sepenuhnya, tetapi perlu dilakukan dengan mematuhi aturan keselamatan yang berlaku,&#8221; sambungnya.<\/p>\n<p>Mirzam kembali mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Keindahan alam, pengalaman pendakian, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa. \u201cLike yang kita dapat dan popularitas itu tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar,\u201d tutupnya. (AN\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/889780\/soroti-erupsi-gunung-dukono-pakar-itb-ingatkan-risiko-pendakian-saat-aktivitas-vulkanik-meningkat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa ) AKTIVITAS Gunung Dukono kembali menjadi perhatian setelah peristiwa pendakian yang menimbulkan korban jiwa. Gunung api yang berada di Halmahera Utara, Maluku Utara, tersebut dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.\u00a0 Menanggapi hal ini, dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Mirzam Abdurrachman menjelaskan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-41223","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41223"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41223\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}