{"id":40538,"date":"2026-05-11T19:31:29","date_gmt":"2026-05-11T19:31:29","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/11\/dari-kampung-di-tasikmalaya-menuju-dunia-payung-geulis-bangkit-menembus-pasar-global\/"},"modified":"2026-05-11T19:31:29","modified_gmt":"2026-05-11T19:31:29","slug":"dari-kampung-di-tasikmalaya-menuju-dunia-payung-geulis-bangkit-menembus-pasar-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/11\/dari-kampung-di-tasikmalaya-menuju-dunia-payung-geulis-bangkit-menembus-pasar-global\/","title":{"rendered":"Dari Kampung di Tasikmalaya Menuju Dunia, Payung Geulis Bangkit Menembus Pasar Global"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/11\/1778512860_ff1eb9d78098e01d5307.jpg\" alt=\"Dari Kampung di Tasikmalaya Menuju Dunia, Payung Geulis Bangkit Menembus Pasar Global\"\/><figcaption>Menggandeng pemengaruh, Pemerintah Kota Tasikmalaya berupaya mengembalikan kejayaan payung geulis.(MI\/Kristiadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>UPAYA menghidupkan kembali kejayaan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/payung-geulis\" title=\"payung geulis\">payung geulis<\/a> khas <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tasikmalaya\" title=\"tasikmalaya\">Tasikmalaya<\/a> terus dilakukan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Kali ini, dorongan datang dari sejumlah pemengaruh dan Duta Dekranasda Jawa Barat yang diharapkan mampu memperluas promosi produk kerajinan tradisional tersebut hingga menembus pasar global.<\/p>\n<p>Payung geulis bukan sekadar kerajinan tangan biasa bagi masyarakat Tasikmalaya. Produk yang telah hadir sejak era 1920-an itu menjadi simbol budaya sekaligus identitas daerah yang pernah berjaya hingga pasar Eropa.<\/p>\n<p>Kerajinan payung geulis pertama kali diproduksi sekitar tahun 1923-1930 oleh tokoh perajin bernama Muhyi A Sahrod bersama istrinya, Iyah, di Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Dalam perkembangannya, payung geulis sempat mengalami masa keemasan pada 1950 hingga 1995 ketika hampir setiap rumah di kawasan tersebut memproduksi kerajinan serupa.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/887925\/video-viral-preman-palak-sopir-bus-di-tasikmalaya-dan-ciamis-ternyata-hoaks\" title=\"Video Viral Preman Palak Sopir Bus di Tasikmalaya dan Ciamis Ternyata Hoaks\" target=\"_blank\">Video Viral Preman Palak Sopir Bus di Tasikmalaya dan Ciamis Ternyata Hoaks<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Wakil Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya, Rani Permayani, mengatakan pemerintah daerah kini berupaya mengembalikan pamor payung geulis agar kembali dikenal luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, kami mendapat kunjungan para pemengaruh dan Duta Dekranasda Jawa Barat. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu membangkitkan kembali payung geulis menuju pasar global dan dikenal mendunia,\u201d ujar Rani, Senin (11\/5).<\/p>\n<p>Sejumlah pemengaruh yang hadir di antaranya Salzha Aulia Putri, Alya Rohali, Fahril Nur, Hafid Kurniawan, hingga Sandy Pratama. Kehadiran mereka dinilai penting untuk memperluas eksposur produk lokal melalui media sosial dan jejaring digital.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jabar\/berita\/887775\/antisipasi-kemarau-panjang-2026-bpbd-tasikmalaya-distribusikan-6000-jerigen\" title=\"Antisipasi Kemarau Panjang 2026, BPBD Tasikmalaya Distribusikan 6.000 Jerigen\" target=\"_blank\">Antisipasi Kemarau Panjang 2026, BPBD Tasikmalaya Distribusikan 6.000 Jerigen<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>SEJARAH PAYUNG GEULIS<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nMenurut Rani, payung geulis Tasikmalaya sejatinya memiliki sejarah panjang dalam industri kerajinan Indonesia. Pada periode 1968 hingga 1995, produk tersebut bahkan sempat dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa.<\/p>\n<p>Awalnya, payung geulis digunakan sebagai pelindung panas dan hujan. Namun seiring perkembangan zaman, fungsi payung berubah menjadi produk seni dan budaya yang memiliki nilai estetika tinggi. Kini payung geulis lebih banyak digunakan sebagai dekorasi, cendera mata, properti seni, hingga ikon budaya Tasikmalaya.<\/p>\n<p>\u201cPayung geulis sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak 2022. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya tarik produk di pasar internasional,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Meski memiliki sejarah panjang, perjalanan industri payung geulis tidak selalu berjalan mulus. Krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19 membuat usaha para perajin mengalami penurunan drastis. Banyak perajin berhenti produksi karena pasar melemah dan permintaan menurun.<\/p>\n<p>Akibatnya, jumlah pengrajin aktif terus berkurang dibandingkan masa kejayaannya beberapa dekade lalu. Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.<\/p>\n<p>Dalam upaya revitalisasi, para pemengaruh yang datang ke Tasikmalaya juga diperkenalkan langsung pada proses pembuatan payung geulis. Mereka mendapat pendampingan dari pelukis senior Mak Hasanah yang selama ini mempertahankan teknik lukis tradisional pada permukaan payung.<\/p>\n<p>Rani berharap promosi digital melalui media sosial mampu membuka pasar baru bagi produk payung geulis, terutama di kalangan generasi muda dan pasar luar negeri yang kini lebih tertarik pada produk kerajinan autentik dan bernilai budaya.<\/p>\n<p><strong>IDENTITAS UMKM<\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Sofian Zenal Mutaqien, mengatakan payung geulis menjadi bagian penting dari identitas UMKM Kota Tasikmalaya.<\/p>\n<p>Menurut Sofian, pemerintah daerah terus mendorong pengembangan berbagai produk lokal mulai dari bordir, batik, kelom geulis, hingga kerajinan payung tradisional agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.<\/p>\n<p>\u201cKota Tasikmalaya memiliki kekuatan pada sektor UMKM dengan ciri khas budaya yang kuat. Kehadiran para pemengaruh ini diharapkan mampu membantu membangun pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus mengangkat kembali payung geulis ke pasar global,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, keberhasilan payung geulis menembus pasar Eropa pada masa lalu menjadi bukti bahwa produk kerajinan lokal Tasikmalaya memiliki kualitas dan nilai seni yang mampu diterima pasar internasional.<\/p>\n<p>Kini, di tengah perkembangan ekonomi digital dan promosi media sosial, pemerintah berharap kebangkitan payung geulis tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda Tasikmalaya. (E-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/889154\/dari-kampung-di-tasikmalaya-menuju-dunia-payung-geulis-bangkit-menembus-pasar-global\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menggandeng pemengaruh, Pemerintah Kota Tasikmalaya berupaya mengembalikan kejayaan payung geulis.(MI\/Kristiadi) UPAYA menghidupkan kembali kejayaan payung geulis khas Tasikmalaya terus dilakukan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Kali ini, dorongan datang dari sejumlah pemengaruh dan Duta Dekranasda Jawa Barat yang diharapkan mampu memperluas promosi produk kerajinan tradisional tersebut hingga menembus pasar global. Payung geulis bukan sekadar kerajinan tangan biasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":40539,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-40538","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40538"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40538\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40539"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}