{"id":39400,"date":"2026-05-09T04:23:17","date_gmt":"2026-05-09T04:23:17","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/09\/teknologi-speaker-bawah-laut-dipakai-untuk-pulihkan-terumbu-karang\/"},"modified":"2026-05-09T04:23:17","modified_gmt":"2026-05-09T04:23:17","slug":"teknologi-speaker-bawah-laut-dipakai-untuk-pulihkan-terumbu-karang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/09\/teknologi-speaker-bawah-laut-dipakai-untuk-pulihkan-terumbu-karang\/","title":{"rendered":"Teknologi Speaker Bawah Laut Dipakai untuk Pulihkan Terumbu Karang"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/09\/1778300242_ff2febd9c802d3e3ac7f.jpeg\" alt=\"Teknologi Speaker Bawah Laut Dipakai untuk Pulihkan Terumbu Karang\"\/><figcaption>Pemasangan acoustic enrichment di bawah laut(Cordap)<\/figcaption><\/figure>\n<p>UPAYA restorasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/terumbu-karang\" title=\"terumbu karang\">terumbu karang<\/a> kini tidak hanya mengandalkan transplantasi karang atau pembatasan aktivitas manusia di laut. Sejumlah ilmuwan mulai memanfaatkan teknologi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/acoustic-enrichment\" title=\"acoustic enrichment\">acoustic enrichment<\/a>, yakni metode pemutaran suara ekosistem laut sehat melalui <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/speaker-bawah-laut\" title=\"speaker bawah laut\">speaker bawah laut<\/a> untuk membantu memulihkan kawasan karang yang rusak.<\/p>\n<p>Teknologi ini dikembangkan berdasarkan fakta bahwa terumbu karang sehat sebenarnya memiliki suasana suara yang ramai. Suara ikan, udang pistol, dan organisme laut lain membentuk semacam penanda alami bagi hewan laut muda untuk mencari habitat yang aman.<\/p>\n<p>Sebaliknya, ketika karang mati akibat pemutihan, polusi, atau kenaikan suhu laut, lingkungan tersebut menjadi jauh lebih sunyi. Kondisi itu membuat banyak ikan dan larva karang enggan datang kembali.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/868115\/ilmuwan-temukan-gunung-raksasa-dan-makhluk-aneh-di-karibia\" title=\"Ilmuwan Temukan Gunung Raksasa dan Makhluk Aneh di Karibia\" target=\"_blank\">Ilmuwan Temukan Gunung Raksasa dan Makhluk Aneh di Karibia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 2019 menunjukkan teknologi ini mampu menarik lebih banyak ikan ke kawasan reef yang rusak. Tim ilmuwan dari University of Exeter, University of Bristol, James Cook University, dan Australian Institute of Marine Science memasang speaker bawah laut di area Great Barrier Reef yang telah mengalami kerusakan.<\/p>\n<p>Mereka kemudian memutar rekaman suara terumbu sehat selama beberapa minggu.<\/p>\n<h2>Jumlah Ikan Meningkat Dua Kali Lipat<\/h2>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan jumlah ikan yang datang ke area tersebut meningkat hingga dua kali lipat dibanding lokasi tanpa speaker. Tidak hanya itu, keragaman spesies ikan juga naik sekitar 50%.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/861202\/misteri-batu-telinga-ikan-ungkap-rapuhnya-rantai-makanan-terumbu-karang\" title=\"Misteri 'Batu Telinga' Ikan Ungkap Rapuhnya Rantai Makanan Terumbu Karang\" target=\"_blank\">Misteri &#8216;Batu Telinga&#8217; Ikan Ungkap Rapuhnya Rantai Makanan Terumbu Karang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Peneliti, Steve Simpson, mengatakan suara memiliki peran penting dalam membantu ikan muda menemukan habitat baru.<\/p>\n<p>\u201cTerumbu karang yang sehat merupakan tempat yang sangat berisik,\u201d kata Simpson dalam publikasi penelitian tersebut. Ia menjelaskan ikan muda menggunakan suara alami reef sebagai petunjuk untuk menentukan lokasi tempat tinggal mereka.<\/p>\n<p>Kehadiran ikan menjadi faktor penting dalam pemulihan karang. Beberapa spesies membantu membersihkan alga yang dapat menghambat pertumbuhan karang, sementara lainnya berperan menjaga keseimbangan rantai makanan di ekosistem laut.<\/p>\n<h2>Tidak Hanya Menarik Ikan, Tapi Juga Larva Karang<\/h2>\n<p>Riset lain dari Woods Hole Oceanographic Institution menunjukkan teknologi suara bawah laut juga dapat membantu larva karang menempel di reef rusak.<\/p>\n<p>Dalam penelitian di US Virgin Islands, pemutaran suara reef sehat meningkatkan tingkat penempelan larva karang hingga 1,7 kali lebih tinggi dibanding area tanpa suara tambahan. Di beberapa titik penelitian, jumlah larva yang menetap bahkan tercatat meningkat hingga tujuh kali lipat.<\/p>\n<p>Meski menjanjikan, ilmuwan menegaskan teknologi acoustic enrichment bukan solusi tunggal untuk menyelamatkan terumbu karang dunia. Pemulihan reef tetap membutuhkan perlindungan kawasan laut, pengurangan polusi, serta penanganan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/perubahan-iklim\" title=\"perubahan iklim\">perubahan iklim<\/a> yang menjadi penyebab utama kerusakan karang global.<\/p>\n<p>Namun, penggunaan speaker bawah laut dinilai membuka peluang baru dalam restorasi ekosistem laut, terutama di kawasan yang sudah kehilangan populasi ikan akibat kerusakan habitat berkepanjangan. (Nature\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/888391\/teknologi-speaker-bawah-laut-dipakai-untuk-pulihkan-terumbu-karang\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemasangan acoustic enrichment di bawah laut(Cordap) UPAYA restorasi terumbu karang kini tidak hanya mengandalkan transplantasi karang atau pembatasan aktivitas manusia di laut. Sejumlah ilmuwan mulai memanfaatkan teknologi acoustic enrichment, yakni metode pemutaran suara ekosistem laut sehat melalui speaker bawah laut untuk membantu memulihkan kawasan karang yang rusak. Teknologi ini dikembangkan berdasarkan fakta bahwa terumbu karang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39401,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-39400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39400"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39400\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}