{"id":39362,"date":"2026-05-09T02:40:08","date_gmt":"2026-05-09T02:40:08","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/09\/terinspirasi-dari-luka-bakar-matahari-ilmuwan-ciptakan-baterai-cair-masa-depan\/"},"modified":"2026-05-09T02:40:08","modified_gmt":"2026-05-09T02:40:08","slug":"terinspirasi-dari-luka-bakar-matahari-ilmuwan-ciptakan-baterai-cair-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/09\/terinspirasi-dari-luka-bakar-matahari-ilmuwan-ciptakan-baterai-cair-masa-depan\/","title":{"rendered":"Terinspirasi dari Luka Bakar Matahari, Ilmuwan Ciptakan Baterai Cair Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/08\/1778248747_513c7ad3b87acec4d6c8.jpg\" alt=\"Terinspirasi dari Luka Bakar Matahari, Ilmuwan Ciptakan Baterai Cair Masa Depan\"\/><figcaption>Molekul yang diciptakan di UCSB mampu menyimpan energi yang cukup untuk menguapkan sejumlah kecil air.(Han PQ Nguyen, UCSB)<\/figcaption><\/figure>\n<p>INOVASI sering kali datang dari tempat yang tak terduga. Bagi Grace Han, seorang profesor kimia di University of California, Santa Barbara, inspirasi itu datang dari sengatan matahari California yang terik. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana DNA kulit manusia berubah bentuk saat terbakar matahari (sunburn), Han berhasil mengembangkan sistem penyimpanan energi baru yang revolusioner.<\/p>\n<p>Teknologi ini dikenal sebagai Molecular Solar Thermal (Most). Prinsipnya sederhana namun cerdas: menggunakan molekul yang bisa berubah bentuk saat terkena cahaya dan melepaskan energi tersebut kembali saat dibutuhkan.<\/p>\n<h2>Lebih Dahsyat dari Baterai Lithium<\/h2>\n<p>Dalam penelitian yang diterbitkan Februari lalu, Han dan timnya memperkenalkan sistem penyimpanan energi dengan densitas yang sangat tinggi. Sistem ini mampu mencatat angka 1,65 megajoule per kilogram, jauh melampaui kapasitas baterai lithium-ion yang saat ini digunakan pada ponsel dan mobil listrik.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/876928\/instalasi-panel-surya-jadi-strategi-perkuat-dekarbonisasi-industri-baja\" title=\"Instalasi Panel Surya Jadi Strategi Perkuat Dekarbonisasi Industri Baja\" target=\"_blank\">Instalasi Panel Surya Jadi Strategi Perkuat Dekarbonisasi Industri Baja<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ketangguhan teknologi ini terbukti saat tim melakukan uji coba di laboratorium. Energi yang disimpan dalam botol kecil mampu mendidihkan air dalam waktu singkat.<\/p>\n<p>&#8220;Saat saya melihat videonya dan melihat betapa cepat seluruh larutan mendidih, itu benar-benar luar biasa,&#8221; kenang Han.<\/p>\n<p>Kasper Moth-Poulsen, peneliti dari Polytechnic University of Barcelona yang meninjau hasil tersebut, turut terkesan. &#8220;Saya pikir sistem terbaik kami berada di angka satu megajoule. Mereka mencapai 1,6, itu sangat menakjubkan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/826520\/peneliti-cambridge-ciptakan-daun-buatan-tenaga-surya-yang-ubah-co2-jadi-bahan-kimia-ramah-lingkungan\" title=\"Peneliti Cambridge Ciptakan \u201cDaun Buatan\u201d Tenaga Surya yang Ubah CO2 Jadi Bahan Kimia Ramah Lingkungan\" target=\"_blank\">Peneliti Cambridge Ciptakan \u201cDaun Buatan\u201d Tenaga Surya yang Ubah CO2 Jadi Bahan Kimia Ramah Lingkungan<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Cara Kerja Bak Laboratorium Hidup<\/h2>\n<p>Sistem ini meniru proses evolusi DNA manusia. Di dalam kulit kita, molekul DNA yang berubah bentuk akibat sinar matahari dapat memperbaiki dirinya sendiri dengan bantuan enzim fotoliase. Han menyadari bahwa molekul serupa adalah kandidat sempurna untuk penyimpanan energi karena ukurannya yang sangat kecil namun mampu menyimpan energi massal.<\/p>\n<p>Berbeda dengan bahan bakar fosil yang harus dibakar dan melepaskan emisi, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/teknologi-most\" title=\"teknologi Most\">teknologi Most<\/a> bekerja tanpa proses pembakaran. &#8220;Teknologi ini beroperasi tanpa membakar apa pun,&#8221; tegas Moth-Poulsen. Selain itu, energi ini bisa disimpan dalam jangka waktu lama, bahkan hingga puluhan tahun.<\/p>\n<h2>Tantangan dan Masa Depan<\/h2>\n<p>Meski menjanjikan, teknologi ini masih memiliki catatan. Saat ini, sistem tersebut membutuhkan sinar UV yang sangat kuat dan penggunaan asam klorida untuk memicu pelepasan energinya. Han mengakui bahwa penggunaan bahan korosif tersebut bukanlah pilihan ideal.<\/p>\n<p>&#8220;Saya berharap sistem ini bisa ditingkatkan responsnya terhadap cahaya alami, serta memicu pelepasan energi tanpa memerlukan bahan kimia beracun,&#8221; ungkap Han.<\/p>\n<p>Ke depan, teknologi ini tidak hanya dikembangkan dalam bentuk cair. Para peneliti sedang menguji versi padat yang bisa diaplikasikan sebagai pelapis jendela transparan. Fungsinya pun beragam, mulai dari mencegah pengembunan hingga membantu menghangatkan ruangan secara alami. Jika berhasil disempurnakan, &#8220;baterai cair&#8221; ini bisa menjadi kunci penting dalam dekarbonisasi sistem pemanas dunia. (BBC\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/888243\/terinspirasi-dari-luka-bakar-matahari-ilmuwan-ciptakan-baterai-cair-masa-depan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Molekul yang diciptakan di UCSB mampu menyimpan energi yang cukup untuk menguapkan sejumlah kecil air.(Han PQ Nguyen, UCSB) INOVASI sering kali datang dari tempat yang tak terduga. Bagi Grace Han, seorang profesor kimia di University of California, Santa Barbara, inspirasi itu datang dari sengatan matahari California yang terik. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana DNA [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39363,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-39362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39362"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39362\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39363"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}