{"id":39355,"date":"2026-05-09T02:20:55","date_gmt":"2026-05-09T02:20:55","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/09\/bukan-kematian-bintang-biasa-lubang-hitam-raksasa-ternyata-lahir-dari-tabrakan-berantai\/"},"modified":"2026-05-09T02:20:55","modified_gmt":"2026-05-09T02:20:55","slug":"bukan-kematian-bintang-biasa-lubang-hitam-raksasa-ternyata-lahir-dari-tabrakan-berantai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/09\/bukan-kematian-bintang-biasa-lubang-hitam-raksasa-ternyata-lahir-dari-tabrakan-berantai\/","title":{"rendered":"Bukan Kematian Bintang Biasa, Lubang Hitam Raksasa Ternyata Lahir dari Tabrakan Berantai"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/08\/1778248641_f38a616b6e9bf79de81e.jpg\" alt=\"Bukan Kematian Bintang Biasa, Lubang Hitam Raksasa Ternyata Lahir dari 'Tabrakan Berantai'\"\/><figcaption>Lingkungan bintang yang padat di gugus bola M80 dapat mendorong pembentukan lubang hitam masif.(NASA, ESA, STScI, dan A. Sarajedini (Universitas Florida)\/Robert Lea)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PARA ilmuwan berhasil mengungkap asal-usul baru yang mengejutkan dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/lubang-hitam\" title=\"Lubang hitam\">lubang hitam<\/a> paling masif di alam semesta. Penelitian terbaru menunjukkan titan kosmik ini kemungkinan besar terbentuk di lingkungan bintang yang paling padat, atau yang dikenal sebagai gugus bola (globular clusters), melalui rangkaian tabrakan yang kacau.<\/p>\n<p>Temuan ini didapat setelah tim peneliti mempelajari riak pada ruang-waktu yang dikenal sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gelombang-gravitasi\" title=\"gelombang gravitasi\">gelombang gravitasi<\/a>. Fenomena ini dideteksi instrumen super sensitif seperti LIGO, KAGRA, dan Virgo. Gelombang gravitasi sendiri pertama kali diprediksi Albert Einstein tahun 1915 sebagai bagian dari teori relativitas umum, yang dilepaskan saat peristiwa dahsyat seperti penggabungan dua lubang hitam terjadi.<\/p>\n<h2>Melampaui Teori Kematian Bintang<\/h2>\n<p>Tim peneliti menganalisis 153 deteksi penggabungan lubang hitam dalam Katalog Transit Gelombang Gravitasi (GWTC4). Tujuannya menyelidiki apakah lubang hitam terberat terbentuk dari penggabungan berulang kali, alih-alih berasal langsung dari runtuhnya bintang masif secara tunggal.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/882413\/astronom-temukan-dua-lubang-hitam-yang-akan-bertabrakan-100-tahun-lagi\" title=\"Astronom Temukan Dua Lubang Hitam yang Akan Bertabrakan 100 Tahun Lagi\" target=\"_blank\">Astronom Temukan Dua Lubang Hitam yang Akan Bertabrakan 100 Tahun Lagi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/astronomi\" title=\"Astronomi\">Astronomi<\/a> gelombang gravitasi kini melakukan lebih dari sekadar menghitung penggabungan lubang hitam,&#8221; ujar pemimpin tim, Fabio Antonini dari Universitas Cardiff, Inggris. &#8220;Ini mulai mengungkapkan bagaimana lubang hitam tumbuh, di mana mereka tumbuh, dan apa yang dikatakannya kepada kita tentang hidup dan mati bintang-bintang masif.&#8221;<\/p>\n<h2>Dua Populasi yang Berbeda<\/h2>\n<p>Penelitian ini mengungkap adanya dua populasi lubang hitam yang berbeda. Populasi pertama adalah lubang hitam bermassa rendah yang lahir ketika bintang masif mati dalam ledakan supernova. Namun, populasi kedua memiliki karakteristik yang sangat berbeda: mereka berputar lebih cepat dengan arah yang acak.<\/p>\n<p>&#8220;Apa yang paling mengejutkan kami adalah betapa jelasnya lubang hitam bermassa tinggi menonjol sebagai populasi yang terpisah,&#8221; kata anggota tim, Isobel Romero-Shaw. &#8220;Sistem bermassa lebih tinggi konsisten dengan putaran yang lebih cepat dan berorientasi ke arah yang tampak acak. Ini adalah tanda persis yang Anda harapkan jika lubang hitam berulang kali bergabung di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gugus-bintang\" title=\"Gugus Bintang\">gugus bintang<\/a> yang padat.&#8221;<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/867762\/alam-semesta-ternyata-bising-ilmuwan-temukan-ratusan-tabrakan-lubang-hitam-terbaru\" title=\"Alam Semesta Ternyata 'Bising': Ilmuwan Temukan Ratusan Tabrakan Lubang Hitam Terbaru\" target=\"_blank\">Alam Semesta Ternyata &#8216;Bising&#8217;: Ilmuwan Temukan Ratusan Tabrakan Lubang Hitam Terbaru<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Misteri &#8216;Celah Massa&#8217; yang Terlarang<\/h2>\n<p>Studi ini juga memperkuat teori tentang &#8220;celah massa&#8221; (mass gap). Teori ini menyebutkan bahwa bintang-bintang yang sangat besar tidak runtuh menjadi lubang hitam saat mati, melainkan meledak dalam supernova yang memusnahkan mereka sepenuhnya. Hal ini menciptakan rentang massa &#8220;terlarang&#8221; di mana bintang tidak bisa langsung berubah menjadi lubang hitam, yang diperkirakan dimulai pada massa 45 kali lipat matahari.<\/p>\n<p>&#8220;Pertanyaan kuncinya sekarang adalah, apakah lubang hitam ini memberi tahu kita bahwa model evolusi bintang kita salah, atau apakah mereka dibuat dengan cara lain?&#8221; jelas Antonini.<\/p>\n<p>Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy pada Kamis (7\/5) ini menegaskan bahwa lubang hitam terbesar dalam sampel saat ini lebih banyak bercerita tentang dinamika gugus bintang daripada sekadar evolusi bintang biasa. Jika sebuah lubang hitam memiliki massa di atas 45 kali massa matahari, interaksi beruntun di lingkungan padat adalah penjelasan yang paling masuk akal. (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/888242\/bukan-kematian-bintang-biasa-lubang-hitam-raksasa-ternyata-lahir-dari-tabrakan-berantai\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lingkungan bintang yang padat di gugus bola M80 dapat mendorong pembentukan lubang hitam masif.(NASA, ESA, STScI, dan A. Sarajedini (Universitas Florida)\/Robert Lea) PARA ilmuwan berhasil mengungkap asal-usul baru yang mengejutkan dari lubang hitam paling masif di alam semesta. Penelitian terbaru menunjukkan titan kosmik ini kemungkinan besar terbentuk di lingkungan bintang yang paling padat, atau yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":39356,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-39355","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39355","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39355"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39355\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39355"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39355"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39355"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}