{"id":38532,"date":"2026-05-07T04:50:36","date_gmt":"2026-05-07T04:50:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/07\/aktivitas-matahari-percepat-jatuhnya-sampah-antariksa-ke-bumi-apa-dampaknya\/"},"modified":"2026-05-07T04:50:36","modified_gmt":"2026-05-07T04:50:36","slug":"aktivitas-matahari-percepat-jatuhnya-sampah-antariksa-ke-bumi-apa-dampaknya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/07\/aktivitas-matahari-percepat-jatuhnya-sampah-antariksa-ke-bumi-apa-dampaknya\/","title":{"rendered":"Aktivitas Matahari Percepat Jatuhnya Sampah Antariksa ke Bumi, Apa Dampaknya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/07\/1778108780_44776c49b894a0850b0f.jpg\" alt=\"Aktivitas Matahari Percepat Jatuhnya Sampah Antariksa ke Bumi, Apa Dampaknya?\"\/><figcaption>Lontaran massa koronal, yang diabadikan oleh pesawat ruang angkasa Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) milik ESA-NASA.(NASA\/GSFC\/SOHO\/ESA)<\/figcaption><\/figure>\n<p>TUMPUKAN puing di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/orbit-bumi\" title=\"Orbit Bumi\">orbit Bumi<\/a> kini menjadi ancaman serius bagi masa depan eksplorasi luar angkasa. Saat ini, diperkirakan terdapat hampir 130 juta keping <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sampah-antariksa\" title=\"sampah antariksa\">sampah antariksa<\/a> yang terdiri dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/satelit\" title=\"Satelit\">satelit<\/a> mati, badan roket tua, hingga fragmen kecil akibat tabrakan di orbit.<\/p>\n<p>Memahami bagaimana puing-puing ini bergerak sangat krusial untuk menghindari tabrakan fatal. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Astronomy and Space Sciences, Rabu (6\/5), mengungkapkan temuan menarik, sampah antariksa ternyata jatuh ke Bumi lebih cepat saat Matahari sedang dalam kondisi aktif.<\/p>\n<h2>Pengaruh Siklus Matahari 11 Tahunan<\/h2>\n<p>Para peneliti mengamati lintasan 17 keping sampah antariksa di orbit rendah Bumi selama rentang waktu 36 tahun. Periode panjang ini mencakup tiga siklus <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/aktivitas-matahari\" title=\"aktivitas matahari\">aktivitas matahari<\/a> yang masing-masing berlangsung selama 11 tahun.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/876353\/bukan-meteor-brin-sebut-benda-langit-di-lampung-adalah-sampah-roket-tiongkok\" title=\"Bukan Meteor, BRIN Sebut Benda Langit di Lampung adalah Sampah Roket Tiongkok\" target=\"_blank\">Bukan Meteor, BRIN Sebut Benda Langit di Lampung adalah Sampah Roket Tiongkok<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Untuk pertama kalinya, kami menemukan begitu aktivitas matahari melewati tingkat tertentu, penurunan ketinggian ini terjadi jauh lebih cepat,&#8221; ujar penulis utama studi tersebut, Ayisha Ashruf, seorang ilmuwan dan insinyur di Pusat Ruang Angkasa Vikram Sarabhai, India.<\/p>\n<p>Data penelitian ini unik karena menggunakan objek yang diluncurkan sejak dekade 1960-an. &#8220;Semua informasi ini berasal dari objek yang diluncurkan kembali pada tahun 1960-an. Mereka masih berkontribusi pada sains, berfungsi sebagai alat berharga untuk mempelajari efek jangka panjang aktivitas matahari pada termosfer,&#8221; tambah Ashruf.<\/p>\n<h2>Mekanisme Gesekan Atmosfer<\/h2>\n<p>Berdasarkan data emisi harian dan bintik matahari, peneliti menemukan peningkatan aktivitas matahari secara langsung meningkatkan kepadatan atmosfer di sekitar sampah luar angkasa. Hal ini menciptakan gaya hambat (drag) yang lebih besar, memperlambat kecepatan orbit puing-puing, dan akhirnya mempercepat proses jatuhnya mereka ke atmosfer Bumi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/858489\/bulan-terus-menjauh-manusia-kelak-tak-akan-lagi-melihat-gerhana-total\" title=\"Bulan Terus Menjauh, Manusia Kelak tak Akan Lagi Melihat Gerhana Total\" target=\"_blank\">Bulan Terus Menjauh, Manusia Kelak tak Akan Lagi Melihat Gerhana Total<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Jika sampah antariksa jatuh secara alami, satelit aktif dan stasiun luar angkasa harus melakukan pembakaran mesin secara berkala untuk mempertahankan posisi mereka di orbit agar tidak ikut terseret jatuh.<\/p>\n<h2>Implikasi bagi Masa Depan Satelit<\/h2>\n<p>Temuan ini menjadi kunci penting dalam merencanakan operasi ruang angkasa yang berkelanjutan. Aktivitas matahari yang tinggi berarti satelit akan membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk koreksi orbit.<\/p>\n<p>&#8220;Hasil kami menunjukkan bahwa ketika aktivitas matahari melewati tingkat tertentu, satelit, sama seperti sampah antariksa, kehilangan ketinggian lebih cepat sehingga diperlukan lebih banyak koreksi orbit,&#8221; jelas Ashruf.<\/p>\n<p>Menurutnya, hal ini berdampak langsung pada berapa lama satelit dapat bertahan di orbit dan seberapa banyak bahan bakar yang mereka butuhkan, terutama bagi misi yang diluncurkan mendekati fase maksimum matahari (puncak aktivitas matahari). (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/887535\/aktivitas-matahari-percepat-jatuhnya-sampah-antariksa-ke-bumi-apa-dampaknya\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lontaran massa koronal, yang diabadikan oleh pesawat ruang angkasa Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) milik ESA-NASA.(NASA\/GSFC\/SOHO\/ESA) TUMPUKAN puing di orbit Bumi kini menjadi ancaman serius bagi masa depan eksplorasi luar angkasa. Saat ini, diperkirakan terdapat hampir 130 juta keping sampah antariksa yang terdiri dari satelit mati, badan roket tua, hingga fragmen kecil akibat tabrakan di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":38533,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-38532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38532"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38532\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38533"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}