{"id":38322,"date":"2026-05-06T19:14:05","date_gmt":"2026-05-06T19:14:05","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/06\/belajar-dari-pahlawan-nasional-rahma-el-yunusiyyah-penting-menghidupkan-kembali-nilai-pendidikan-berbasis-keluarga\/"},"modified":"2026-05-06T19:14:05","modified_gmt":"2026-05-06T19:14:05","slug":"belajar-dari-pahlawan-nasional-rahma-el-yunusiyyah-penting-menghidupkan-kembali-nilai-pendidikan-berbasis-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/06\/belajar-dari-pahlawan-nasional-rahma-el-yunusiyyah-penting-menghidupkan-kembali-nilai-pendidikan-berbasis-keluarga\/","title":{"rendered":"Belajar dari Pahlawan Nasional Rahma El Yunusiyyah, Penting Menghidupkan Kembali Nilai Pendidikan Berbasis Keluarga"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/06\/1778081007_6200c486aa83fb105bad.jpg\" alt=\"Belajar dari Pahlawan Nasional Rahma El Yunusiyyah, Penting Menghidupkan Kembali Nilai Pendidikan Berbasis Keluarga\"\/><figcaption>Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar di bawah tenda, di SDN 14 Labuah, Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat.(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>GUBERNUR <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sumatra-barat\" title=\"sumatra barat\">Sumatra Barat<\/a> (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menegaskan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan-berbasis-keluarga\" title=\"pendidikan berbasis keluarga\">pendidikan berbasis keluarga<\/a> saat membuka Seminar Nasional \u201cKiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia\u201d di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Senin (4\/5).<\/p>\n<p>Di hadapan sekitar 1.000 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, guru, hingga organisasi perempuan, Mahyeldi menekankan bahwa seminar ini bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan momentum mencari solusi atas krisis pendidikan yang kian kompleks.<\/p>\n<p>\u201cSeminar ini kita gagas bukan hanya untuk mengenang sejarah. Nilai-nilai yang diajarkan Ibu Rahmah El Yunusiyyah sangat realistis untuk menjawab persoalan pendidikan terkini, sehingga perlu kembali diimplementasikan dalam proses pembelajaran saat ini,\u201d tegas Mahyeldi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/885965\/tim-gabungan-evakuasi-satu-keluarga-usai-bertemu-harimau-sumatra-di-agam\" title=\"Tim Gabungan Evakuasi Satu Keluarga Usai Bertemu Harimau Sumatra di Agam\" target=\"_blank\">Tim Gabungan Evakuasi Satu Keluarga Usai Bertemu Harimau Sumatra di Agam<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia lalu menyoroti fenomena hubungan guru dan murid yang kian memprihatinkan, bahkan tak jarang berujung konflik hingga masuk ranah hukum. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya krisis yang perlu ada solusi agar nilainya tidak lari dari esensi pendidikan itu sendiri.<\/p>\n<p>\u201cKita melihat sekarang hubungan guru dan murid tidak jarang mengalami gesekan yang tidak sepatutnya. Bahkan ada yang sampai dilaporkan ke kepolisian. Ini sudah keluar dari ruh pendidikan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Mahyeldi menilai akar dari berbagai persoalan sosial tersebut karena lemahnya ketahanan keluarga. Ironisnya, menurut Mahyeldi, kendati Peraturan Daerah terkait ketahanan keluarga sudah ada di Sumbar, namun menurut Mahyeldi, sisi implementasinya masih lemah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/884794\/tragedi-lembah-anai-1944-sejarah-kelam-kecelakaan-kereta-api-di-sumatra-barat\" title=\"Tragedi Lembah Anai 1944: Sejarah Kelam Kecelakaan Kereta Api di Sumatra Barat\" target=\"_blank\">Tragedi Lembah Anai 1944: Sejarah Kelam Kecelakaan Kereta Api di Sumatra Barat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKita bicara narkoba, kembali permasalahan dasarnya ada di tingkat keluarga. Perilaku menyimpang, juga kembali ke keluarga. Tapi ironisnya, setiap orang yang akan berkeluarga justru tidak dibekali secara serius tentang ketahanan keluarga,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan sistem pendidikan keluarga yang diterapkan Rahmah El Yunusiyyah melalui Diniyyah Puteri, yang sejak usia dini telah membekali perempuan dengan ilmu rumah tangga dan kehidupan. Selain nantinya juga diberikan ilmu agama, bertutur dan berlogika serta disiplin ilmu lainnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya pernah tanya alumni Diniyyah Puteri, ternyata pelajaran tentang ketahanan keluarga itu sudah diajarkan sejak SMP. Sementara kita, menjelang menikah hanya dapat pembekalan dua jam. Ini tentu tidak cukup,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Menurut Mahyeldi, konsep pendidikan yang dirintis Rahmah El Yunusiyyah terbukti melahirkan generasi perempuan tangguh, bahkan telah terbukti mampu melahirkan tokoh besar seperti Rasuna Said.<\/p>\n<p>\u201cBeliau mempersiapkan perempuan bukan hanya untuk rumah tangga, tapi juga menjadi pribadi mandiri dan berwawasan luas. Hasilnya, bisa kita lihat, banyak tokoh-tokoh besar lahir dari sana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Turut hadir dalam kegiatan seminar nasional tersebut Menteri Kebudayaan RI yang diwakili oleh Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Feri Arlius. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa Rahmah El Yunusiyyah merupakan pelopor pendidikan perempuan di Indonesia yang pemikirannya masih relevan hingga kini.<\/p>\n<p>\u201cBeliau adalah arsitek pendidikan perempuan pertama di Indonesia melalui Diniyyah Puteri. Di tengah keterbatasan akses pendidikan saat itu, beliau membuka jalan bagi kemandirian intelektual dan spiritual perempuan,\u201d ungkap Feri.<\/p>\n<p>Pemerintah, lanjutnya, memberikan perhatian serius terhadap pengembangan Diniyyah Puteri sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah pendidikan nasional.<\/p>\n<p>\u201cKeberadaan Diniyyah Puteri masih sangat relevan. Kementerian Kebudayaan akan memberikan dukungan, yang saat ini masih dalam tahap pembahasan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumbar, Syaifullah selaku ketua pelaksana Seminar Nasional \u201cKiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia\u201d mengatakan seminar ini bertujuan menggali kembali pemikiran Rahmah El Yunusiyyah serta mengontekstualisasikannya dengan tantangan pendidikan modern.<\/p>\n<p>\u201cSeminar ini diharapkan melahirkan gagasan baru serta menginspirasi generasi muda, khususnya perempuan, untuk meneladani perjuangan beliau,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Seminar menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan internasional, di antaranya Tan Sri Dato\u2019 Seri Utama Dr. Rais Yatim, Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, Ph.D., serta wartawan senior Khairul Jasmi. (E-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/887465\/belajar-dari-pahlawan-nasional-rahma-el-yunusiyyah-penting-menghidupkan-kembali-nilai-pendidikan-berbasis-keluarga\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar di bawah tenda, di SDN 14 Labuah, Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat.(Antara) GUBERNUR Sumatra Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menegaskan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan berbasis keluarga saat membuka Seminar Nasional \u201cKiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia\u201d di Auditorium Universitas Negeri Padang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":38323,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-38322","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38322","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38322\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38323"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}