{"id":36883,"date":"2026-05-04T06:36:27","date_gmt":"2026-05-04T06:36:27","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/04\/bps-neraca-perdagangan-ri-surplus-hingga-maret-2026\/"},"modified":"2026-05-04T06:36:27","modified_gmt":"2026-05-04T06:36:27","slug":"bps-neraca-perdagangan-ri-surplus-hingga-maret-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/04\/bps-neraca-perdagangan-ri-surplus-hingga-maret-2026\/","title":{"rendered":"BPS Neraca Perdagangan RI Surplus hingga Maret 2026"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/04\/1777876414_29c77e063a7ac65eb117.jpg\" alt=\"BPS : Neraca Perdagangan RI Surplus hingga Maret 2026\"\/><figcaption>konferensi pers BPS di Jakarta, Senin (4\/5).(Dok. BPS)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/badan-pusat-statistik\" title=\"Badan Pusat Statistik\">BADAN Pusat Statistik<\/a> (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bps\" title=\"BPS\">BPS<\/a>) melaporkan surplus <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/neraca-perdagangan\" title=\"Neraca Perdagangan\">neraca perdagangan<\/a> secara kumulatif periode Januari hingga Maret 2026 mencapai US$5,55 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.<\/p>\n<p>Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas yang terus berlanjut. Sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.<\/p>\n<p>\u201cSurplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$5,08 miliar,\u201d ungkap Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Senin (4\/5).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/826720\/surplus-perdagangan-ri-menyempit-di-tengah-tekanan-impor\" title=\"Surplus Perdagangan RI Menyempit di Tengah Tekanan Impor\" target=\"_blank\">Surplus Perdagangan RI Menyempit di Tengah Tekanan Impor<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Maret 2026 mencapai US$66,85 miliar atau naik 0,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong dengan pertumbuhan nilai ekspor 3,96% menjadi US$54,98 miliar.\u00a0<\/p>\n<p>Adapun tiga negara pasar utama ekspor nonmigas Indonesia, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 44,48% dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Maret 2026.\u00a0<\/p>\n<p>Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama dengan nilai mencapai US$16,50 miliar (25,94%), diikuti oleh Amerika Serikat US$7,29 miliar (11,46%), dan India US$4,50 miliar (7,08%). \u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/886382\/inflasi-april-2026-tercatat-013-persen-didorong-kenaikan-tarif-angkutan-udara-dan-bensin\" title=\"Inflasi April 2026 Tercatat 0,13 Persen, Didorong Kenaikan Tarif Angkutan Udara dan Bensin\" target=\"_blank\">Inflasi April 2026 Tercatat 0,13 Persen, Didorong Kenaikan Tarif Angkutan Udara dan Bensin<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cEkspor nonmigas ke Tiongkok pada periode Januari-Maret 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan),\u201d papar Ateng.<\/p>\n<p>Nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Maret 2026 sebesar US$61,30 miliar atau naik 10,05% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor US$52,97 miliar, naik 12,16%. Sedangkan impor migas turun 1,72% menjadi US$8,33 miliar. \u00a0<\/p>\n<p>Dari sisi penggunaan, kata Ateng, terjadi peningkatan impor periode Januari-Maret 2026 baik pada barang modal, bahan baku\/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor bahan baku\/penolong masih dominan dengan nilai mencapai US$43,17 miliar atau naik 6,89%. Sedangkan nilai impor barang modal mencapai US$12,98 miliar atau naik 24,02%.<\/p>\n<p>Secara persentase, kenaikan nilai impor barang modal ini jauh lebih tinggi dibandingkan bahan baku\/penolong serta barang konsumsi. Adapun impor barang konsumsi tercatat US$5,15 miliar atau tumbuh 6,12%.<\/p>\n<p>Sepanjang periode Januari-Maret 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$22,02 miliar (41,56%), diikuti Australia dengan nilai US$3,14 miliar (5,94%), dan Jepang US$2,90 miliar (5,47%). Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 52,97% atau lebih dari separuh total impor nonmigas Indonesia.<\/p>\n<p>Sementara surplus perdagangan nonmigas pada Januari-Maret 2026 sebagian besar masih ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan\/nabati (US$8,68 miliar), bahan bakar mineral (US$6,22 miliar), besi dan baja (US$4,29 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$3,24 miliar), serta alas kaki (US$1,49 miliar). (H-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/886404\/bps--neraca-perdagangan-ri-surplus-hingga-maret-2026\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>konferensi pers BPS di Jakarta, Senin (4\/5).(Dok. BPS) BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Maret 2026 mencapai US$5,55 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, surplus tersebut ditopang oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":36884,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-36883","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36883","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36883"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36883\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36884"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36883"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36883"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36883"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}