{"id":33083,"date":"2026-04-26T08:34:26","date_gmt":"2026-04-26T08:34:26","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/26\/mengenal-imunisasi-kejar-solusi-lengkapi-vaksin-anak-yang-terlambat\/"},"modified":"2026-04-26T08:34:26","modified_gmt":"2026-04-26T08:34:26","slug":"mengenal-imunisasi-kejar-solusi-lengkapi-vaksin-anak-yang-terlambat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/26\/mengenal-imunisasi-kejar-solusi-lengkapi-vaksin-anak-yang-terlambat\/","title":{"rendered":"Mengenal Imunisasi Kejar Solusi Lengkapi Vaksin Anak yang Terlambat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/26\/1777192132_0c0c97b9258e16b7f8d2.jpg\" alt=\"Mengenal Imunisasi Kejar: Solusi Lengkapi Vaksin Anak yang Terlambat\"\/><figcaption>Tenaga medis menyiapkan vaksin campak (Measles Rubella) sebelum disuntikkan kepada balita di Makassar, Sulawesi Selatan.(Dok. Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>KESADARAN akan pentingnya imunisasi seringkali terbentur oleh keraguan atau kendala teknis yang membuat jadwal <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/imunisasi-anak\" title=\"imunisasi anak\">imunisasi anak<\/a> menjadi tidak teratur atau bahkan terhenti. Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi buah hati melalui prosedur <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/catch-up-immunization\" title=\"catch-up immunization\">catch-up immunization<\/a><\/em> atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/imunisasi-kejar\" title=\"imunisasi kejar\">imunisasi kejar<\/a>.<\/p>\n<p>Dokter spesialis anak, Attila Dewanti,\u00a0menjelaskan bahwa orangtua yang sebelumnya ragu atau belum melengkapi status <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/vaksinasi\" title=\"Vaksinasi\">vaksinasi<\/a> anak sesuai usia tetap memiliki kesempatan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.<\/p>\n<h2>Apa Itu Catch-up Immunization?<\/h2>\n<p>Berdasarkan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/who\" title=\"WHO\">WHO<\/a>), <em>catch-up immunization<\/em> adalah pemberian vaksin kepada individu yang belum menerima dosis vaksin pada waktu spesifik yang telah ditetapkan dalam jadwal nasional. Langkah ini krusial untuk menekan potensi anak mengidap penyakit berat akibat infeksi virus berbahaya seperti polio hingga campak.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/848197\/as-pangkas-rekomendasi-vaksin-anak-pakar-kesehatan-peringatkan-risiko\" title=\"AS Pangkas Rekomendasi Vaksin Anak, Pakar Kesehatan Peringatkan Risiko\" target=\"_blank\">AS Pangkas Rekomendasi Vaksin Anak, Pakar Kesehatan Peringatkan Risiko<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Bisa banget (dikejar pemberian vaksinnya), itu namanya <em>catch-up immunization<\/em>. Jadi vaksinasi kejar, misalnya kita kasih di kiri dan kanan sekaligus. Di kiri DPT, di kanan PCV. Besoknya lagi (vaksin) campak begitu,&#8221; ujar dr. Attila dalam keterangannya di Jakarta.<\/p>\n<p>Sebelum melakukan imunisasi kejar, orangtua wajib melakukan konsultasi dengan dokter anak. Hal ini bertujuan agar skema pemberian vaksin dilakukan secara tepat, aman, dan tidak meleset dari target perlindungan yang dibutuhkan.<\/p>\n<h2>Investasi Jangka Panjang dan Herd Immunity<\/h2>\n<p>Menurut dr. Attila, yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksinasi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Kekebalan tubuh yang terbentuk setelah vaksinasi merupakan benteng utama terhadap virus-virus yang mengancam kesehatan di masa depan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/775935\/demam-setelah-vaksinasi-anak-apakah-normal-ini-kata-dokter\" title=\"Demam setelah Vaksinasi Anak, Apakah Normal? Ini Kata Dokter\" target=\"_blank\">Demam setelah Vaksinasi Anak, Apakah Normal? Ini Kata Dokter<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kita mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan itu sangat penting karena dengan memberi vaksinasi akan mengurangi risiko sebuah penyakit menjadi berat,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Urgensi melengkapi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/vaksinasi-anak\" title=\"Vaksinasi Anak\">vaksinasi anak<\/a> semakin nyata mengingat munculnya berbagai status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah di Indonesia. Penyakit ini seharusnya dapat dicegah jika kekebalan kelompok (<em>herd immunity<\/em>) terbentuk melalui imunisasi MR (<em>measles rubella<\/em>) atau MMR (<em>measles mumps rubella<\/em>).<\/p>\n<h2>Tantangan Kelompok Antivaksin<\/h2>\n<p>Munculnya ledakan kasus penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I) seringkali dipicu oleh rendahnya cakupan vaksinasi di suatu wilayah. Fenomena kelompok antivaksin menjadi salah satu faktor penghambat terbentuknya <em>herd immunity<\/em>.<\/p>\n<p>&#8220;Masalahnya adalah orang-orang yang antivaksin, itulah yang membuat kita jadi ada ledakan kasus seperti ini. Karena tidak semuanya tervaksin,&#8221; pungkas dr. Attila.<\/p>\n<p>Bagi orangtua, segera periksa kembali buku kesehatan anak (KIA) dan konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat jika terdapat jadwal imunisasi yang terlewat demi memastikan tumbuh kembang anak yang optimal dan bebas dari ancaman penyakit menular. (Ant\/H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/883641\/mengenal-imunisasi-kejar-solusi-lengkapi-vaksin-anak-yang-terlambat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tenaga medis menyiapkan vaksin campak (Measles Rubella) sebelum disuntikkan kepada balita di Makassar, Sulawesi Selatan.(Dok. Antara) KESADARAN akan pentingnya imunisasi seringkali terbentur oleh keraguan atau kendala teknis yang membuat jadwal imunisasi anak menjadi tidak teratur atau bahkan terhenti. Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi buah hati melalui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33084,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-33083","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33083"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33083\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33084"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}