{"id":32586,"date":"2026-04-25T05:30:04","date_gmt":"2026-04-25T05:30:04","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/25\/tren-bed-rotting-pada-gen-z-ahli-ingatkan-batas-sehat-istirahat\/"},"modified":"2026-04-25T05:30:04","modified_gmt":"2026-04-25T05:30:04","slug":"tren-bed-rotting-pada-gen-z-ahli-ingatkan-batas-sehat-istirahat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/25\/tren-bed-rotting-pada-gen-z-ahli-ingatkan-batas-sehat-istirahat\/","title":{"rendered":"Tren Bed Rotting pada Gen Z, Ahli Ingatkan Batas Sehat Istirahat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/25\/1777094644_54702315ce5202099789.jpeg\" alt=\"Tren Bed Rotting pada Gen Z, Ahli Ingatkan Batas Sehat Istirahat\"\/><figcaption>Ilustrasi(Freepik.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>FENOMENA <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bed-rotting\" title=\"bed rotting\">bed rotting<\/a>, yakni kebiasaan berdiam lama di tempat tidur sambil berselancar di media sosial atau menonton video, kian populer di kalangan remaja dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gen-z\" title=\"gen z\">gen Z<\/a>.\u00a0<\/p>\n<p>Perilaku ini kerap dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, menurut Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Dr Yulina Eva Riany, perilaku ini memiliki dimensi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/psikologis\" title=\"psikologis\">psikologis<\/a> yang lebih kompleks, terutama terkait tekanan sosial dan proses pencarian jati diri.<\/p>\n<p>&#8220;Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,&#8221; kata Yulina dikutip dari laman IPB University, Sabtu (25\/4).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/882651\/lestari-moerdijat-peningkatan-minat-baca-gen-z-momentum-tingkatkan-literasi-nasional\" title=\"Lestari Moerdijat: Peningkatan Minat Baca Gen Z Momentum Tingkatkan Literasi Nasional\" target=\"_blank\">Lestari Moerdijat: Peningkatan Minat Baca Gen Z Momentum Tingkatkan Literasi Nasional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Yulina menerangkan bahwa remaja berada pada fase identity vs role confusion, yakni tahap pencarian jati diri. Dalam konteks ini, dunia digital menjadi ruang eksplorasi baru.\u00a0<\/p>\n<p>\u201c<em>Bed rotting <\/em>tidak selalu bisa dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi \u2018ruang jeda\u2019 sekaligus \u2018ruang eksplorasi\u2019 bagi remaja,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Namun, ia menegaskan bahwa fenomena ini memiliki sisi ambivalen. Paparan berlebih terhadap kehidupan ideal di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan kecemasan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/881734\/tren-belajar-bahasa-asing-di-2026-kenapa-gen-z-makin-butuh-english--mandarin\" title=\"Tren Belajar Bahasa Asing di 2026: Kenapa Gen Z Makin Butuh English &amp; Mandarin?\" target=\"_blank\">Tren Belajar Bahasa Asing di 2026: Kenapa Gen Z Makin Butuh English &amp; Mandarin?<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201c<em>Bed rotting<\/em> bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<h2>Batas agar Tidak Terjebak<\/h2>\n<p>Yulina menjelaskan bahwa bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif. Ketika dilakukan secara sadar untuk memulihkan energi, perilaku ini dapat menjadi strategi regulasi diri yang sehat. Namun, jika berubah menjadi pelarian dari tekanan, maka termasuk dalam pola avoidance coping.<\/p>\n<p>\u201cJika individu masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti dan mampu kembali beraktivitas, maka ini bisa menjadi bentuk self-care. Namun, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa serius,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam kondisi tertentu, bed rotting dapat menjadi indikasi masalah kesehatan mental, seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi dalam akademik atau pekerjaan.<\/p>\n<p>Untuk itu, Yulina menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat. \u201cIstirahat yang sehat bukan sekadar tidak melakukan apa-apa, tetapi dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, disarankan agar menetapkan batas waktu istirahat, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSelf-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,\u201d pungkasnya. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/883352\/tren-bed-rotting-pada-gen-z-ahli-ingatkan-batas-sehat-istirahat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Freepik.com) FENOMENA bed rotting, yakni kebiasaan berdiam lama di tempat tidur sambil berselancar di media sosial atau menonton video, kian populer di kalangan remaja dan gen Z.\u00a0 Perilaku ini kerap dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, menurut Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Dr Yulina Eva Riany, perilaku ini memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32587,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-32586","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32586","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32586"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32586\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32587"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32586"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32586"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32586"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}