{"id":31330,"date":"2026-04-22T16:35:22","date_gmt":"2026-04-22T16:35:22","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/22\/13-dampak-sering-memarahi-anak-remaja\/"},"modified":"2026-04-22T16:35:22","modified_gmt":"2026-04-22T16:35:22","slug":"13-dampak-sering-memarahi-anak-remaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/22\/13-dampak-sering-memarahi-anak-remaja\/","title":{"rendered":"13 Dampak Sering Memarahi Anak Remaja"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/22\/1776875146_37f3b79b4edc320277b7.jpg\" alt=\"13 Dampak Sering Memarahi Anak Remaja\"\/><figcaption>Berikut Dampak Sering Memarahi Anak Remaja(freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sering-memarahi-anak-remaja\" title=\"Sering Memarahi Anak Remaja\">SERING memarahi anak remaja<\/a> adalah kebiasaan orang tua atau orang dewasa yang kerap menegur, membentak, atau mengekspresikan kemarahan secara berulang kepada anak yang sedang berada di masa remaja.<\/p>\n<p>Masa remaja sendiri adalah periode perkembangan yang sensitif, sehingga cara komunikasi yang keras bisa berdampak besar pada kondisi emosional dan psikologis anak.<\/p>\n<h3><strong>1. Menurunnya Kepercayaan Diri<\/strong><\/h3>\n<p>Remaja bisa merasa tidak dihargai dan menjadi kurang percaya diri.<\/p>\n<h3><strong>2. Hubungan dengan Orang Tua Memburuk<\/strong><\/h3>\n<p>Sering dimarahi membuat anak menjauh dan enggan terbuka.<\/p>\n<h3><strong>3. Meningkatkan Risiko Stres<\/strong><\/h3>\n<p>Tekanan terus-menerus dapat memicu stres hingga kecemasan.<\/p>\n<h3><strong>4. Perilaku Memberontak<\/strong><\/h3>\n<p>Remaja bisa melawan aturan atau menjadi lebih sulit diatur.<\/p>\n<h3><strong>5. Kesulitan Mengelola Emosi<\/strong><\/h3>\n<p>Anak bisa meniru cara marah dan kesulitan mengontrol emosi sendiri.<\/p>\n<h3><strong>6. Menurunnya Prestasi<\/strong><\/h3>\n<p>Kondisi emosional yang tidak stabil dapat mengganggu fokus belajar.<\/p>\n<h3><strong>7. Rasa Takut Berlebihan<\/strong><\/h3>\n<p>Anak menjadi takut melakukan kesalahan dan tidak berani mencoba hal baru.<\/p>\n<h3><strong>8. Komunikasi Tertutup<\/strong><\/h3>\n<p>Remaja cenderung menyimpan masalah sendiri dan tidak mau bercerita.<\/p>\n<h3><strong>9. Risiko Masalah Kesehatan Mental<\/strong><\/h3>\n<p>Dalam jangka panjang bisa berhubungan dengan kondisi seperti Depresi.<\/p>\n<h3><strong>10. Perilaku Agresif<\/strong><\/h3>\n<p>Anak bisa menjadi lebih mudah marah atau agresif terhadap orang lain.<\/p>\n<h3><strong>11. Hilangnya Rasa Aman di Rumah<\/strong><\/h3>\n<p>Rumah yang seharusnya nyaman bisa terasa menegangkan.<\/p>\n<h3><strong>12. Kurangnya Rasa Empati<\/strong><\/h3>\n<p>Anak yang sering dimarahi bisa kesulitan memahami perasaan orang lain.<\/p>\n<h3><strong>13. Menurunnya Motivasi<\/strong><\/h3>\n<p>Remaja bisa kehilangan semangat untuk berkembang karena merasa selalu salah.<\/p>\n<p>Sering memarahi anak remaja dapat berdampak negatif pada emosi, perilaku, dan hubungan keluarga. Pendekatan yang lebih bijak dan komunikatif akan membantu perkembangan anak menjadi lebih baik. (Z-4)<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>: <em>alodokter, halodoc<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/882453\/13-dampak-sering-memarahi-anak-remaja\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berikut Dampak Sering Memarahi Anak Remaja(freepik) SERING memarahi anak remaja adalah kebiasaan orang tua atau orang dewasa yang kerap menegur, membentak, atau mengekspresikan kemarahan secara berulang kepada anak yang sedang berada di masa remaja. Masa remaja sendiri adalah periode perkembangan yang sensitif, sehingga cara komunikasi yang keras bisa berdampak besar pada kondisi emosional dan psikologis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31331,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-31330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31330"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31330\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}