{"id":31085,"date":"2026-04-22T04:37:38","date_gmt":"2026-04-22T04:37:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/22\/purbaya-ri-harus-keluar-dari-kutukan-pertumbuhan-5\/"},"modified":"2026-04-22T04:37:38","modified_gmt":"2026-04-22T04:37:38","slug":"purbaya-ri-harus-keluar-dari-kutukan-pertumbuhan-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/22\/purbaya-ri-harus-keluar-dari-kutukan-pertumbuhan-5\/","title":{"rendered":"Purbaya: RI Harus Keluar dari &#8216;Kutukan Pertumbuhan 5%&#8217;"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong>Jakarta, FaktaBerita <\/strong> \u2013 Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia harus segera keluar dari apa yang ia sebut sebagai \u201ckutukan pertumbuhan 5 persen\u201d. Menurutnya, perekonomian nasional seharusnya mampu tumbuh lebih tinggi dari level tersebut apabila berbagai potensi ekonomi dimanfaatkan secara optimal.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Purbaya dalam Simposium yang diselenggarakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur di Jakarta, Rabu (22\/4\/2026).<\/p>\n<p>Ia mengatakan selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia kerap berkisar di angka 5 persen. Padahal, capaian terbaru menunjukkan ekonomi nasional telah mampu melampaui level tersebut.<\/p>\n<p>\u201cAngka terakhir pertumbuhan ekonomi kita sekitar 5,39 persen. Artinya kita hampir pasti sudah mulai keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,\u201d ujar Purbaya.<\/p>\n<p>Menurutnya, pertumbuhan 5 persen sering dianggap sebagai \u201czona nyaman\u201d yang terjadi ketika suatu negara tidak melakukan terobosan kebijakan ekonomi yang signifikan.<\/p>\n<p>\u201cKalau pemimpinnya pintar bisa 6 persen. Kalau tidak melakukan apa-apa biasanya tetap tumbuh sekitar 5 persen. Jadi kalau kita hanya di 5 persen, kelihatannya kita tidak melakukan apa-apa,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Karena itu pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat dipacu menuju kisaran 5,5 persen hingga 6 persen dalam beberapa tahun ke depan.<\/p>\n<p>Purbaya menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk mencapai target tersebut. Selain inflasi yang relatif terkendali, disiplin fiskal juga tetap dijaga dengan defisit anggaran di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).<\/p>\n<p>Ia menegaskan strategi pemerintah ke depan adalah mendorong sektor riil agar tumbuh lebih kuat, sekaligus memastikan likuiditas dalam sistem perekonomian tetap memadai.<\/p>\n<p>Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki berbagai hambatan struktural, termasuk biaya logistik yang masih relatif tinggi dibandingkan negara maju.<\/p>\n<p>Saat ini biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran belasan persen dari PDB. Angka tersebut dinilai masih membebani daya saing produk nasional. \u201cArtinya barang kita jadi lebih mahal dan daya saingnya turun. Ini yang harus kita perbaiki,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Purbaya juga menilai Indonesia harus lebih percaya diri memanfaatkan posisi strategisnya dalam jalur perdagangan global. \u201cDengan segala kekayaan yang kita miliki, kita tidak boleh berpikir defensif. Kita harus mulai bermain lebih ofensif tetapi tetap terukur,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dengan berbagai langkah tersebut, ia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dipercepat tanpa mengorbankan stabilitas fiskal dan makroekonomi.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.topbusiness.id\/127234\/purbaya-ri-harus-keluar-dari-kutukan-pertumbuhan-5.html\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, FaktaBerita \u2013 Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia harus segera keluar dari apa yang ia sebut sebagai \u201ckutukan pertumbuhan 5 persen\u201d. Menurutnya, perekonomian nasional seharusnya mampu tumbuh lebih tinggi dari level tersebut apabila berbagai potensi ekonomi dimanfaatkan secara optimal. Hal itu disampaikan Purbaya dalam Simposium yang diselenggarakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31086,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,5],"tags":[],"class_list":["post-31085","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31085"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31085\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31086"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}