{"id":28843,"date":"2026-04-17T13:02:32","date_gmt":"2026-04-17T13:02:32","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/17\/warga-sabu-raijua-lawan-krisis-iklim-lewat-tradisi-tutur\/"},"modified":"2026-04-17T13:02:32","modified_gmt":"2026-04-17T13:02:32","slug":"warga-sabu-raijua-lawan-krisis-iklim-lewat-tradisi-tutur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/17\/warga-sabu-raijua-lawan-krisis-iklim-lewat-tradisi-tutur\/","title":{"rendered":"Warga Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim lewat Tradisi Tutur"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/17\/1776430507_cdba9b96a5fc0bc42eec.jpeg\" alt=\"Warga Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim lewat Tradisi Tutur\"\/><figcaption>Festival dan pameran seni bertajuk Bhineka Iklim dalam Tutur: Seni dalam Adaptasi Iklim.(Dok. MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>DI tengah ancaman kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan air laut, warga <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kabupaten-sabu-raijua\" title=\"Kabupaten Sabu Raijua\">Kabupaten Sabu Raijua<\/a>, Nusa Tenggara Timur (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ntt\" title=\"NTT\">NTT<\/a>) kembali menghidupkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tradisi-tutur\" title=\"tradisi tutur\">tradisi tutur<\/a> sebagai cara memahami sekaligus beradaptasi dengan perubahan serta <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/krisis-iklim\" title=\"krisis iklim\">krisis iklim<\/a>.<\/p>\n<p>Upaya tersebut diwujudkan melalui festival dan pameran seni bertajuk Bhineka Iklim dalam Tutur: Seni dalam Adaptasi Iklim yang digelar Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) selama dua hari, 15-16 April 2026\u00a0<\/p>\n<p>Spesialis Ketahanan Pesisir YKAN, I Gusti Ngurah Paulus, Jumat (17\/4) mengatakan, kegiatan melibatkan ratusan pelajar SD dan SMP serta seniman lokal, dengan tujuan menghidupkan kembali pengetahuan adat dan budaya tutur sebagai media kampanye iklim yang berakar pada kearifan lokal.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/628894\/natoni-dan-bonet-tradisi-lisan-asal-timor-tengah-selatan-ntt-yang-hampir-punah\" title=\"Natoni dan Bonet, Tradisi Lisan asal Timor Tengah Selatan NTT yang Hampir Punah\" target=\"_blank\">Natoni dan Bonet, Tradisi Lisan asal Timor Tengah Selatan NTT yang Hampir Punah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Budaya tutur yang dihidupkan kembali dalam kegiatan ini antara lain berupa dongeng dan cerita sejarah yang ditampilkan dalam lomba tutur, kisah tentang kondisi alam dan kekeringan, serta pengetahuan lokal mengenai pengelolaan sumber air dan pemanfaatan tanaman seperti lontar sebagai sumber pangan.\u00a0<\/p>\n<p>Selain itu, kalender adat juga diperkenalkan kembali sebagai penanda musim yang diwariskan secara turun-temurun.<\/p>\n<p>Menurutnya, tradisi dan seni merupakan kunci untuk menghubungkan kearifan lokal dengan sains modern. \u201cTradisi dan kesenian menjadi jembatan agar strategi adaptasi iklim lebih kuat dan relevan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/587538\/kawasan-hutan-liae-di-sabu-raijua-terbakar\" title=\"Kawasan Hutan Liae di Sabu Raijua Terbakar\" target=\"_blank\">Kawasan Hutan Liae di Sabu Raijua Terbakar<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Festival ini menegaskan bahwa masyarakat Sabu Raijua memiliki modal sosial yang kuat dalam menghadapi krisis iklim. Pengetahuan yang hidup dalam tradisi, ritual, dan budaya tutur menjadi fondasi penting untuk membangun ketahanan lingkungan yang berkelanjutan di masa depan<\/p>\n<p>Bupati Sabu Raijua, Krisman Bernard Riwu Kore, menilai kearifan lokal menjadi kunci masyarakat mampu bertahan di tengah kondisi alam Pulau Sabu yang keras. \u201cSaya bertanya-tanya bagaimana orang bisa bertahan di Pulau Sabu yang kering ini, namun leluhur kita memiliki kearifan lokal. Saat kekeringan, kita bergantung pada tanaman seperti lontar untuk gula sabu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, saat ini Pulau Sabu menghadapi berbagai risiko krisis iklim. Mulai dari kekeringan ekstrem, bencana siklon, hingga kenaikan permukaan air laut. Namun, kesadaran masyarakat terhadap isu ini masih menjadi tantangan karena kerap dipahami sebagai persoalan ilmiah yang jauh dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan budaya, YKAN mendorong adaptasi iklim yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dipilih karena dinilai mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal agar lebih mudah dipahami.<\/p>\n<p>Selama festival, lebih dari 150 pelajar terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti lomba tutur sejarah dan dongeng, pameran budaya, hingga pertunjukan musik tradisional Ketadu Hab\u2019a yang kini mulai jarang ditampilkan.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pendidikan Sabu Raijua, Yoel Riwu, menyebut budaya tutur sebagai \u201cperpustakaan hidup\u201d yang menyimpan pengetahuan penting tentang lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cBudaya tutur menyimpan pengetahuan tentang tanaman lokal, cara menjaga sumber air, serta hubungan manusia dengan alam. Dalam setiap cerita, ada pesan bagaimana menghadapi kekeringan dan menjaga lingkungan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Para pelajar juga merefleksikan kondisi iklim yang mereka alami. Giftyne Nicelly Hana Kale Lena, siswa SMP Negeri 2 Sabu Timur, menggambarkan sulitnya akses air di wilayahnya. \u201cTanah Sabu terkenal kering. Air lebih berharga dari emas. Jika hujan tidak turun, tanah retak dan pohon meranggas,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Rambu Resa Amelia Uli dari SDN 1 Seba menilai perubahan musim sebagai bagian dari pembelajaran hidup. \u201cPerubahan musim bukan musuh, tetapi guru kehidupan. Selama manusia menghormati alam, alam akan memberi kehidupan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Memasuki hari kedua, kegiatan diisi dengan penampilan Tari Ledo dari siswa SMPN Sabu Barat, talkshow konservasi bertajuk \u201cBhineka Iklim dalam Tutur\u201d, serta diskusi tentang pentingnya menghidupkan kembali kalender adat sebagai penanda musim. Festival ditutup dengan Tari Padoa massal yang melambangkan persatuan masyarakat dalam menjaga alam. \u00a0(H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/880620\/warga-sabu-raijua-lawan-krisis-iklim-lewat-tradisi-tutur\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Festival dan pameran seni bertajuk Bhineka Iklim dalam Tutur: Seni dalam Adaptasi Iklim.(Dok. MI) DI tengah ancaman kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan air laut, warga Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menghidupkan tradisi tutur sebagai cara memahami sekaligus beradaptasi dengan perubahan serta krisis iklim. Upaya tersebut diwujudkan melalui festival dan pameran seni bertajuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":28844,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-28843","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28843"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28843\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28844"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}