{"id":27518,"date":"2026-04-14T15:14:16","date_gmt":"2026-04-14T15:14:16","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/14\/tekanan-kargo-udara-global-dan-momentum-transformasi-logistik-nasional\/"},"modified":"2026-04-14T15:14:16","modified_gmt":"2026-04-14T15:14:16","slug":"tekanan-kargo-udara-global-dan-momentum-transformasi-logistik-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/14\/tekanan-kargo-udara-global-dan-momentum-transformasi-logistik-nasional\/","title":{"rendered":"Tekanan Kargo Udara Global dan Momentum Transformasi Logistik Nasional"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/14\/1776179175_930943ad8b6912415177.jpeg\" alt=\"Tekanan Kargo Udara Global dan Momentum Transformasi Logistik Nasional\"\/><figcaption>Senior Vice President FIATA dan Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi,(Dok Istimewa )<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/industri-kargo\" title=\"industri kargo\">INDUSTRI kargo<\/a> udara global menghadapi tekanan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik dan disrupsi pada rantai pasok komoditas energi global yang terus berlanjut ejak awal tahun 2026 ini. Kenaikan tarif pengiriman, penerapan fuel surcharge, serta keterbatasan kapasitas menjadi indikator bahwa pasar kargo udara saat ini berada dalam fase yang lebih mahal, terbatas, dan volatil.\u00a0<\/p>\n<p>Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha global untuk menyesuaikan strategi operasional logistik mereka. Moda kargo udara yang selama ini menjadi andalan untuk pengiriman bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu, kini tidak lagi selalu menjadi pilihan utama. Sejumlah perusahaan mulai mengkaji ulang struktur biaya dan beralih ke alternatif yang lebih efisien, termasuk transportasi laut dan skema multimoda.<\/p>\n<p>Senior Vice President FIATA dan Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai tekanan pada industri kargo udara global disebabkan pada kenaikan harga komoditas energi sebagai imbas eskalasi konflik geopolitik. \u201cKenaikan harga avtur global secara historis berada pada kisaran US$75 &#8211; 87 per barel, namun saat ini berada pada kisaran US$175 &#8211; 200 per barel. Hal ini sudah menyebabkan permintaan pada kargo udara global turun sekitar 22%, dimana pada rute koridor Asia-Eropa tertekan hingga 39%,\u201d<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/876977\/7-klaim-trump-soal-iran-yang-dinilai-tak-terbukti\" title=\"7 Klaim Trump soal Iran yang Dinilai tak Terbukti\" target=\"_blank\">7 Klaim Trump soal Iran yang Dinilai tak Terbukti<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Yukki melanjutkan, dampak dari dinamika global ini memiliki implikasi ke sektor logistik nasional. Pasalnya struktur logistik Indonesia masih didominasi oleh transportasi darat yang \u00a0mencapai sekitar 90%, sehingga menjadikan sistem distribusi domestik sangat rentan terhadap perubahan tekanan eksternal. Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke moda darat dan laut, yang pada akhirnya dapat meningkatkan beban pada infrastruktur yang sudah menghadapi tantangan kapasitas dan efisiensi.<\/p>\n<p>\u201cPergeseran dari permintaan arus kargo udara ini menjadi peluang bagi para pelaku usaha logistik laut dan darat dalam memastikan kelancaran arus barang. Namun, peluang ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila diiringi dengan peningkatan efisiensi operasional dan penguatan konektivitas antara pelabuhan dan <em>hinterland<\/em>,\u201d tambah Yukki.<\/p>\n<h2>Momentum Transformasi Sistem Logistik<\/h2>\n<p>Lebih jauh, tekanan pada kargo udara ini mempertegas urgensi pengembangan sistem logistik multimoda di Indonesia. Integrasi antara transportasi darat, laut, kereta api, dan udara tidak lagi bersifat opsional, melainkan menjadi kebutuhan mendasar untuk menciptakan sistem logistik yang adaptif dan resilien. Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di koridor Jawa, misalnya, masih memiliki ruang besar untuk dioptimalkan sebagai alternatif distribusi yang lebih efisien untuk barang-barang tertentu.<\/p>\n<p>\u201cBagi pelaku usaha, perubahan ini juga mendorong pergeseran perilaku.<em> Shipper<\/em> menjadi lebih sensitif terhadap biaya dan cenderung memperpanjang horizon perencanaan <em>supply chain<\/em> mereka, termasuk dengan meningkatkan <em>buffer stock<\/em>. Sementara itu, perusahaan logistik dan <em>freight forwarder<\/em> dituntut untuk bertransformasi dari sekadar penyedia jasa transportasi menjadi mitra strategis yang mampu menawarkan solusi terintegrasi,\u201d kata Yukki.<\/p>\n<p>Dinamika yang terjadi di pasar kargo udara global tidak semata-mata menjadi tantangan tetapi juga momentum strategis Indonesia untuk mempercepat transformasi sistem logistiknya menuju model yang lebih terintegrasi, efisien, dan berdaya saing tinggi. \u201cOleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya respons jangka pendek terhadap kenaikan biaya, melainkan langkah strategis jangka panjang untuk membangun sistem logistik nasional yang terintegrasi agar dapat memperkuat daya saing sektor logistik nasional.\u201d tutup Yukki. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/879606\/tekanan-kargo-udara-global-dan-momentum-transformasi-logistik-nasional\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senior Vice President FIATA dan Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi,(Dok Istimewa ) INDUSTRI kargo udara global menghadapi tekanan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik dan disrupsi pada rantai pasok komoditas energi global yang terus berlanjut ejak awal tahun 2026 ini. Kenaikan tarif pengiriman, penerapan fuel surcharge, serta keterbatasan kapasitas menjadi indikator bahwa pasar kargo udara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":27519,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-27518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27518"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27518\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27519"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}