{"id":26701,"date":"2026-04-12T11:29:51","date_gmt":"2026-04-12T11:29:51","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/12\/waspada-gizi-buruk-pascabencana-dokter-sarankan-telur-ketimbang-mi-instan\/"},"modified":"2026-04-12T11:29:51","modified_gmt":"2026-04-12T11:29:51","slug":"waspada-gizi-buruk-pascabencana-dokter-sarankan-telur-ketimbang-mi-instan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/12\/waspada-gizi-buruk-pascabencana-dokter-sarankan-telur-ketimbang-mi-instan\/","title":{"rendered":"Waspada Gizi Buruk Pascabencana, Dokter Sarankan Telur Ketimbang Mi Instan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/12\/1775993048_b223e3b77250b6192bf5.jpg\" alt=\"Waspada Gizi Buruk Pascabencana, Dokter Sarankan Telur Ketimbang Mi Instan\"\/><figcaption>Ilustrasi&#8211;Sejumlah anak-anak pengungsi menerima mainan di posko pengungsian Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (12\/12\/2025).(ANTARA\/Hafidz Mubarak A)<\/figcaption><\/figure>\n<p>KONDISI pemenuhan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gizi\" title=\"gizi\">gizi<\/a> <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Saat ini, bantuan yang disalurkan kepada para penyintas umumnya masih didominasi oleh makanan praktis seperti mi\u00a0instan, biskuit, hingga kental manis (SKM).<\/p>\n<p>Dokter spesialis anak dari RS Permata Depok, <strong>dr. Andini Striratnaputri<\/strong>, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pola pemberian bantuan tersebut. Menurutnya, makanan praktis yang umum disalurkan cenderung tinggi gula dan karbohidrat, namun sangat minim kandungan protein.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau anak-anak terus mengonsumsi makanan seperti itu, mereka memang kenyang, tapi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh,&#8221; ujar Andini dalam keterangannya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/534029\/cara-mudah-menghadapi-anak-agar-tetap-mengonsumsi-sayur\" title=\"Cara Mudah Menghadapi Anak Agar Tetap Mengonsumsi Sayur\" target=\"_blank\">Cara Mudah Menghadapi Anak Agar Tetap Mengonsumsi Sayur<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Risiko Jangka Panjang Makanan Instan<\/h3>\n<p>Dalam situasi darurat, Andini memaklumi penggunaan makanan instan pada fase awal <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bencana\" title=\"bencana\">bencana<\/a>. Namun, ia menegaskan bahwa pola ini tidak boleh berlanjut dalam jangka waktu panjang karena berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak secara permanen.<\/p>\n<p>&#8220;Dalam kondisi bencana, mungkin di awal masih diperlukan. Tapi kalau sudah berjalan lama, perlu dievaluasi karena tidak memenuhi kebutuhan gizi anak,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pemberian kental manis kepada anak-anak di pengungsian. Ia mengingatkan bahwa kental manis bukanlah produk susu nutrisi, melainkan produk dengan kandungan gula yang sangat tinggi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/878776\/ini-pentingnya-gizi-seimbang-untuk-imun-dan-kognitif-anak\" title=\"Ini Pentingnya Gizi Seimbang untuk Imun dan Kognitif Anak\" target=\"_blank\">Ini Pentingnya Gizi Seimbang untuk Imun dan Kognitif Anak<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kental manis itu kalorinya tinggi karena gula, bukan karena kandungan gizinya,&#8221; tambah\u00a0Andini. Ia juga meminta masyarakat waspada terhadap minuman berperisa label susu yang sering kali mengandung tambahan gula berlebih yang tidak dibutuhkan tubuh anak.<\/p>\n<p><strong>Peringatan Dokter:<\/strong> Anak membutuhkan zat gizi esensial untuk pertumbuhan, bukan sekadar rasa manis atau rasa kenyang dari karbohidrat sederhana.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/telur\" title=\"telur\">Telur<\/a> Sebagai Solusi Bantuan Bergizi<\/h3>\n<p>Sebagai alternatif bantuan yang lebih sehat dan efektif, dr. Andini menyarankan para donatur dan pemerintah untuk mulai beralih ke bahan pokok yang kaya protein namun tetap memiliki daya simpan yang baik.<\/p>\n<p>Ia merekomendasikan <strong>telur<\/strong> sebagai salah satu sumber protein hewani terbaik untuk anak-anak di wilayah bencana. Selain harganya yang relatif terjangkau, telur mudah diolah dan mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk mencegah stunting atau penurunan kondisi kesehatan anak pascabencana.<\/p>\n<p>&#8220;Bisa diberikan telur untuk makan anak-anak. Selain bergizi, juga bisa disimpan dalam waktu yang lama,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p>Dengan evaluasi jenis bantuan pangan ini, diharapkan asupan gizi anak-anak di wilayah terdampak banjir bandang Sumatra tetap terpenuhi meski berada dalam keterbatasan di pengungsian. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/878785\/waspada-gizi-buruk-pascabencana-dokter-sarankan-telur-ketimbang-mi-instan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi&#8211;Sejumlah anak-anak pengungsi menerima mainan di posko pengungsian Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (12\/12\/2025).(ANTARA\/Hafidz Mubarak A) KONDISI pemenuhan gizi anak di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Saat ini, bantuan yang disalurkan kepada para penyintas umumnya masih didominasi oleh makanan praktis seperti mi\u00a0instan, biskuit, hingga kental manis (SKM). [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":26702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-26701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26701"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26701\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}