{"id":26641,"date":"2026-04-12T07:29:56","date_gmt":"2026-04-12T07:29:56","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/12\/perdes-jerat-ternak-laipandak-solusi-konflik-petani-peternak-di-sumba-timur\/"},"modified":"2026-04-12T07:29:56","modified_gmt":"2026-04-12T07:29:56","slug":"perdes-jerat-ternak-laipandak-solusi-konflik-petani-peternak-di-sumba-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/12\/perdes-jerat-ternak-laipandak-solusi-konflik-petani-peternak-di-sumba-timur\/","title":{"rendered":"Perdes Jerat Ternak Laipandak Solusi Konflik Petani-Peternak di Sumba Timur"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/12\/1775978333_4373f7e800e4ff475dd3.jpg\" alt=\"Perdes Jerat Ternak Laipandak: Solusi Konflik Petani-Peternak di Sumba Timur\"\/><figcaption>Seorang petani sedang memikul jagung dari ladang ke rumah di Desa Lainpandak, Kecamatan Waijelu, Kabupaten Sumba Timur, Jumat (9\/4\/2026).(MI\/Laus Markus Goti)<\/figcaption><\/figure>\n<p>MENJELANG petang di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/desa-laipandak\" title=\"Desa Laipandak\">Desa Laipandak<\/a>, Kabupaten <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sumba-timur\" title=\"Sumba Timur\">Sumba Timur<\/a>, Nusa Tenggara Timur, pemandangan yang dulu jarang terlihat kini menjadi rutinitas harian. Para petani, laki-laki dan perempuan, tampak hilir mudik memikul hasil panen jagung dari ladang menuju rumah. Hasil panen tahun ini meningkat signifikan, sebuah pencapaian yang selama puluhan tahun terasa sulit diwujudkan.<\/p>\n<p>Di hamparan lahan yang kian luas, tanaman jagung berdiri tegak bersanding dengan berbagai komoditas hortikultura yang tumbuh subur. Luas lahan jagung yang digarap petani meningkat drastis mencapai sekitar 6.000 hektare, dengan produktivitas berkisar 4 hingga 5 ton per hektare. Keberhasilan ini mulai menarik perhatian para pengepul jagung untuk melirik potensi Laipandak.<\/p>\n<p>Kepala Desa Laipandak, Gerardus Nggau Behar, mengungkapkan bahwa kunci perubahan ini terletak pada ketegasan aturan. &#8220;Begini sudah kami di Laipandak. Hewan tidak boleh lagi lepas sembarang. Kalau lepas dan masuk kebun orang, kami jerat. Pemilik ternak wajib ganti rugi,&#8221; ujarnya, Jumat (9\/4\/2026).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/873961\/pertanian-jagung-sumba-timur-baru-8-ribu-hektare-petani-muda-dorong-optimalisasi-lahan\" title=\"Pertanian Jagung Sumba Timur Baru 8 Ribu Hektare, Petani Muda Dorong Optimalisasi Lahan\" target=\"_blank\">Pertanian Jagung Sumba Timur Baru 8 Ribu Hektare, Petani Muda Dorong Optimalisasi Lahan<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Titik Balik lewat Perdes Nomor 3 Tahun 2025<\/h3>\n<p>Peraturan Desa (Perdes) Nomor 3 Tahun 2025 tentang Penertiban Pemeliharaan Ternak menjadi tonggak sejarah bagi desa ini. Ditetapkan pada Mei 2025, aturan ini lahir setelah melewati berbagai tantangan dan gesekan kepentingan, terutama dari kalangan peternak dan pengusaha.<\/p>\n<p>Selama puluhan tahun, ternak liar seperti sapi, kuda, kerbau, hingga kambing yang dilepas bebas menjadi momok bagi petani. Tanaman yang baru tumbuh kerap habis dalam sekejap, bahkan pagar kayu yang dibangun dengan susah payah pun sering dibobol hewan ternak.<\/p>\n<p style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 15px; border-left: 5px solid #2c3e50;\"><strong>Skema Denda Perdes Laipandak:<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\n&#8211; Satu batang jagung yang dimakan ternak: Denda Rp10.000.<br \/>&#13;<br \/>\n&#8211; Ternak yang merusak kebun: Wajib diikat\/dijerat oleh petugas.<br \/>&#13;<br \/>\n&#8211; Pengambilan ternak: Wajib menunjukkan identitas pemilik.<br \/>&#13;<br \/>\n&#8211; Ternak tanpa identitas: Berisiko dilelang oleh pemerintah desa.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/863318\/sumba-timur-geger-seorang-perempuan-hilang-saat-mencuci-di-sungai\" title=\"Sumba Timur Geger, Seorang Perempuan Hilang Saat Mencuci di Sungai\" target=\"_blank\">Sumba Timur Geger, Seorang Perempuan Hilang Saat Mencuci di Sungai<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kunci sukses Perdes ini adalah keberanian, niat, kolaborasi, dan dukungan masyarakat. Produk hukum ini tidak asal dibuat, tetapi menjawab kegelisahan nyata petani,&#8221; tegas Gerardus. Ia bahkan mengaku sempat dilaporkan ke polisi oleh pihak yang keberatan, namun ia tetap konsisten menjalankan aturan demi kepentingan luas.<\/p>\n<h3>Dampak Ekonomi dan Keamanan<\/h3>\n<p>Penerapan aturan ini tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga meredam aksi pencurian ternak. Dengan kewajiban menunjukkan identitas saat mengambil ternak yang terjaring, lalu lintas hewan tanpa dokumen dapat ditekan.<\/p>\n<p>Kini, para peternak di Laipandak mulai beradaptasi dengan cara lebih disiplin: mengikat ternak, membangun kandang, hingga mulai menanam pakan sendiri. Petani pun merasa lebih nyaman memperluas lahan garapan tanpa dihantui rasa cemas tanaman mereka akan habis dimakan hewan liar.<\/p>\n<h3>Laipandak sebagai Model Percontohan<\/h3>\n<p>Henrich Dengi, seorang jurnalis sekaligus pemerhati pertanian di Sumba Timur, menilai keberhasilan Laipandak layak menjadi model bagi wilayah lain di Pulau Sumba. &#8220;Masalah ternak liar ini sudah menahun. Di Laipandak, masalah ini selesai dengan selembar Perdes. Ini butuh komitmen dan keseriusan pemerintah daerah untuk mereplikasi model ini,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Menurut Henrich, jagung adalah potensi besar yang bisa menjadi solusi kemiskinan dan pengangguran di Sumba Timur, sekaligus menciptakan rantai pangan bagi sektor peternakan itu sendiri.<\/p>\n<h3>Potensi Lahan yang belum Optimal<\/h3>\n<p>Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur, potensi lahan jagung di wilayah tersebut mencapai 15.876 hektare. Namun, pemanfaatannya saat ini baru mencapai sekitar 8.000 hektare atau belum menyentuh angka 50 persen.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #2c3e50; color: white;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Indikator<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Data Statistik<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Total Potensi Lahan Jagung<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">15.876 Hektare<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Lahan yang Tergarap<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">\u00b1 8.000 Hektare<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Produktivitas di Laipandak<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">4 &#8211; 5 Ton\/Hektare<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sumba Timur, Nicolas Pandarangga, mengakui adanya kendala seperti keterbatasan anggaran dan rendahnya minat generasi muda. Namun, keberhasilan di Desa Laipandak memberikan harapan baru bahwa dengan regulasi yang tepat, sektor pertanian Sumba Timur dapat bangkit dan menjadi pilar ekonomi warga. (I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/878727\/perdes-jerat-ternak-laipandak-solusi-konflik-petani-peternak-di-sumba-timur\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang petani sedang memikul jagung dari ladang ke rumah di Desa Lainpandak, Kecamatan Waijelu, Kabupaten Sumba Timur, Jumat (9\/4\/2026).(MI\/Laus Markus Goti) MENJELANG petang di Desa Laipandak, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pemandangan yang dulu jarang terlihat kini menjadi rutinitas harian. Para petani, laki-laki dan perempuan, tampak hilir mudik memikul hasil panen jagung dari ladang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":26642,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-26641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26641"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26641\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26642"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}