{"id":25159,"date":"2026-04-08T21:13:37","date_gmt":"2026-04-08T21:13:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/08\/waspada-karies-gigi-anak-orangtua-wajib-cermat-baca-label-susu-formula\/"},"modified":"2026-04-08T21:13:37","modified_gmt":"2026-04-08T21:13:37","slug":"waspada-karies-gigi-anak-orangtua-wajib-cermat-baca-label-susu-formula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/08\/waspada-karies-gigi-anak-orangtua-wajib-cermat-baca-label-susu-formula\/","title":{"rendered":"Waspada Karies Gigi Anak, Orangtua Wajib Cermat Baca Label Susu Formula"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/09\/1775681457_43e85c93ce447168b36d.jpg\" alt=\"Waspada Karies Gigi Anak, Orangtua Wajib Cermat Baca Label Susu Formula\"\/><figcaption>Ilustrasi(MI\/HO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>MASALAH kesehatan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gigi\" title=\"gigi\">gigi<\/a> pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> di Indonesia kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sebanyak 93% anak Indonesia mengalami <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/karies\" title=\"karies\">karies<\/a> gigi. Kondisi ini tidak lepas dari pola makan yang tidak sehat, termasuk konsumsi gula berlebih yang sering kali tersembunyi dalam asupan harian seperti <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/susu-formula\" title=\"Susu formula\">susu formula<\/a>.<\/p>\n<p>Menanggapi fenomena ini, para orangtua diimbau untuk tidak lagi hanya terpaku pada klaim manfaat yang tertera di bagian depan kemasan. Janji-janji seperti \u201cmendukung tumbuh kembang\u201d, \u201ctinggi kalsium\u201d, atau \u201cmeningkatkan imunitas\u201d sering kali menutupi fakta mengenai kandungan sebenarnya di dalam produk tersebut.<\/p>\n<h3>Pentingnya Memahami Daftar Komposisi<\/h3>\n<p>Menurut dokter spesialis anak\u00a0<strong>dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K)<\/strong>, perubahan pola pikir dalam memilih susu formula harus dimulai dari ketelitian membaca label. Ia menekankan bahwa kualitas nutrisi yang benar-benar dikonsumsi anak setiap hari tercermin dari daftar komposisi secara utuh, bukan sekadar merek atau iklan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/811255\/merawat-gigi-yang-benar-merupakan-proses-belajar-yang-butuh-konsistensi\" title=\"Merawat Gigi yang Benar Merupakan Proses Belajar yang Butuh Konsistensi\" target=\"_blank\">Merawat Gigi yang Benar Merupakan Proses Belajar yang Butuh Konsistensi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cOrangtua sebaiknya tidak berhenti pada klaim di kemasan. Yang wajib dipahami justru komposisi produknya secara utuh. Karena dari situlah kita bisa melihat kualitas sumber nutrisi yang benar-benar dikonsumsi anak setiap hari,\u201d ujar Reza.<\/p>\n<p>Hal utama yang perlu diperhatikan adalah urutan bahan dalam daftar komposisi. Bahan yang berada di urutan teratas menunjukkan kandungan dengan porsi terbanyak.<\/p>\n<p>Jika <strong>susu segar<\/strong> tercantum di urutan awal, ini menandakan produk tersebut menggunakan bahan baku utuh yang kaya akan protein, kalsium, dan mikronutrien alami tanpa melalui proses pengolahan yang terlalu panjang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/807350\/bernapas-lewat-mulut-bisa-pengaruhi-pertumbuhan-gigi-dan-wajah-anak\" title=\"Bernapas Lewat Mulut Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Gigi dan Wajah Anak\" target=\"_blank\">Bernapas Lewat Mulut Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Gigi dan Wajah Anak<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Mengenal Bahan Tambahan dan Risikonya<\/h3>\n<p>Selain bahan utama, orangtua wajib mewaspadai bahan tambahan yang sering digunakan untuk meningkatkan cita rasa atau menutupi aroma akibat proses produksi yang panjang. Beberapa bahan ini memiliki dampak jangka panjang terhadap preferensi rasa dan kesehatan anak.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Bahan Tambahan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Karakteristik &amp; Dampak<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Maltodextrin<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Karbohidrat olahan yang cepat dipecah menjadi gula oleh tubuh.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Sukrosa \/ Gula Tambahan<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Penyebab utama karies gigi dan risiko kesehatan jangka panjang (diabetes).<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Sirup Jagung<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Sumber gula tambahan yang memengaruhi kebiasaan makan anak.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Vanilin<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Bahan perisa untuk memperkuat rasa dan menutupi aroma proses produksi.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menekankan pentingnya membatasi konsumsi gula pada anak. Paparan rasa manis sejak dini dikhawatirkan akan membentuk preferensi rasa anak terhadap makanan manis di masa depan, yang memperburuk risiko kesehatan gigi dan metabolisme.<\/p>\n<h3>Pengaruh Proses Produksi terhadap Nutrisi<\/h3>\n<p>Kualitas susu formula tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga bagaimana produk tersebut diproses. Proses produksi yang terlalu panjang dengan pemanasan berulang (<em>heat treatment<\/em>) dapat menurunkan kualitas nutrisi. Penelitian menunjukkan bahwa panas berlebih dapat mengubah struktur protein dan menurunkan kadar <em>lysine<\/em>, salah satu asam amino esensial yang penting bagi pertumbuhan.<\/p>\n<p>Semakin terjaga proses produksinya, semakin besar peluang nilai gizi seperti protein, kalsium, dan fosfor tetap optimal saat dikonsumsi oleh anak.<\/p>\n<p><strong>Catatan Penting:<\/strong> Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan sumber gizi terbaik dan utama bagi bayi karena mengandung antibodi alami. Namun, jika kondisi medis atau situasi tertentu mengharuskan penggunaan susu formula, pemilihan produk harus dilakukan dengan sangat kritis.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, Reza mengingatkan bahwa keputusan orangtua hari ini akan berdampak pada kesehatan anak di masa depan.<\/p>\n<p>\u201cMemilih susu formula bukan sekadar soal merek. Ini tentang memahami apa yang benar-benar masuk ke tubuh anak setiap hari. Sudah saatnya orangtua menjadi lebih teliti membaca label agar dapat membantu membentuk generasi yang lebih sehat,\u201d pungkasnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/877645\/waspada-karies-gigi-anak-orangtua-wajib-cermat-baca-label-susu-formula\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(MI\/HO) MASALAH kesehatan gigi pada anak di Indonesia kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sebanyak 93% anak Indonesia mengalami karies gigi. Kondisi ini tidak lepas dari pola makan yang tidak sehat, termasuk konsumsi gula berlebih yang sering kali tersembunyi dalam asupan harian seperti susu formula. Menanggapi fenomena ini, para [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25160,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-25159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25159"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25159\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}