{"id":24463,"date":"2026-04-07T04:54:43","date_gmt":"2026-04-07T04:54:43","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/07\/cara-mengenali-kesehatan-pencernaan-anak-melalui-bentuk-dan-warna-feses\/"},"modified":"2026-04-07T04:54:43","modified_gmt":"2026-04-07T04:54:43","slug":"cara-mengenali-kesehatan-pencernaan-anak-melalui-bentuk-dan-warna-feses","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/04\/07\/cara-mengenali-kesehatan-pencernaan-anak-melalui-bentuk-dan-warna-feses\/","title":{"rendered":"Cara Mengenali Kesehatan Pencernaan Anak melalui Bentuk dan Warna Feses"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/04\/07\/1775537174_9cfc2a17af21da732996.jpg\" alt=\"Cara Mengenali Kesehatan Pencernaan Anak melalui Bentuk dan Warna Feses\"\/><figcaption>Ilustrasi(Freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>KESEHATAN saluran cerna merupakan salah satu kunci utama tumbuh kembang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> yang optimal. Namun, banyak orangtua yang masih bingung menentukan apakah kondisi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pencernaan\" title=\"pencernaan\">pencernaan<\/a> buah hatinya dalam keadaan sehat atau justru sedang mengalami gangguan.<\/p>\n<p>Dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A(K), Subsp. G.H., menekankan pentingnya orangtua untuk jeli memperhatikan indikator fisik dari kotoran atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/feses\" title=\"Feses\">feses<\/a> anak. Menurutnya, ada empat parameter utama yang harus dipantau, yakni bentuk, ukuran, warna, dan frekuensi buang air besar (BAB).<\/p>\n<p>&#8220;Hal yang harus kita lihat pertama dari bentuk, ukuran, warna, dan frekuensi. Kalau dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bentuk-feses\" title=\"bentuk feses\">bentuk feses<\/a>, ada yang berbentuk bulat, ada yang ambyar, ada yang kayak pisang,&#8221; ujar dr. Frieda dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Selasa (7\/4).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/876708\/pentingnya-kesehatan-pencernaan-anak-dan-peran-prebiotik-untuk-tumbuh-kembang\" title=\"Pentingnya Kesehatan Pencernaan Anak dan Peran Prebiotik untuk Tumbuh Kembang\" target=\"_blank\">Pentingnya Kesehatan Pencernaan Anak dan Peran Prebiotik untuk Tumbuh Kembang<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Panduan Skala Feses Berdasarkan Usia<\/h3>\n<p>Untuk memudahkan pemantauan, Frieda menjelaskan penggunaan dua skala medis sebagai acuan. Bagi bayi berusia di bawah 12 bulan, orang tua dapat merujuk pada <em>Infant Stool Form Scale<\/em>. Sementara untuk anak di atas usia satu tahun, panduan yang digunakan adalah <em>Bristol Stool Chart<\/em>.<\/p>\n<p>Pada bayi di bawah satu tahun, indikasi masalah cerna bisa dilihat dari volume dan tekstur. Feses yang sedikit dan keras cenderung menandakan konstipasi, sedangkan feses yang cair dengan volume banyak bisa menjadi gejala diare.<\/p>\n<p>Berikut adalah klasifikasi tujuh tipe feses berdasarkan <em>Bristol Stool Chart<\/em> untuk anak di atas usia satu tahun:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/848154\/menjaga-kesehatan-pencernaan-anak-melalui-keragaman-pangan\" title=\"Menjaga Kesehatan Pencernaan Anak Melalui Keragaman Pangan\" target=\"_blank\">Menjaga Kesehatan Pencernaan Anak Melalui Keragaman Pangan<\/a><\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Tipe Feses<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Deskripsi Bentuk<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Indikasi Kesehatan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 1<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Bulat terpisah seperti kacang, keras<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Konstipasi<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 2<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Berbentuk sosis tetapi bergumpal<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Konstipasi<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 3<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Seperti sosis dengan retakan di permukaan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\"><strong>Normal &amp; Ideal<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 4<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Seperti sosis atau ular, permukaan halus<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\"><strong>Normal &amp; Ideal<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 5<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Potongan lembut (seperti <i>marshmallow<\/i>)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Ambang batas (perlu tambahan serat)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 6<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Potongan halus, lembek, tepi tidak rata<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Diare<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tipe 7<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Cair sepenuhnya, tanpa potongan padat<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Diare<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Membaca Makna di Balik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/warna-feses\" title=\"warna feses\">Warna Feses<\/a><\/h3>\n<p>Selain bentuk, warna feses juga menyimpan informasi penting mengenai apa yang terjadi di dalam perut anak. dr. Frieda menjelaskan bahwa warna kuning atau oranye adalah kondisi normal, terutama pada bayi yang mengonsumsi ASI atau susu formula. Sementara warna hijau atau cokelat biasanya dipengaruhi oleh jenis Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang dikonsumsi.<\/p>\n<div style=\"border: 1px solid #ffcccb; background-color: #fff5f5; padding: 15px; border-radius: 5px; margin: 20px 0;\"><strong>Waspadai Warna Berikut:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Pucat\/Putih:<\/strong> Indikasi adanya penyumbatan pada kandung empedu. Segera konsultasi ke dokter.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Merah atau Hitam:<\/strong> Bisa disebabkan makanan berwarna gelap, namun juga berisiko menandakan adanya pendarahan di saluran cerna.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/div>\n<h3>Frekuensi BAB yang Ideal<\/h3>\n<p>Terkait frekuensi, dr. Frieda menyebutkan bahwa untuk anak di atas satu tahun, kondisi ideal adalah buang air besar satu kali sehari dengan tekstur tipe 3 atau 4. Namun, orang tua tidak perlu panik jika anak tidak BAB setiap hari.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau anak tidak pup dalam sehari jangan khawatir, dua hari sekali masih boleh asal tumbuh kembang masih normal. Tapi, kalau sudah di atas tiga hari sekali atau pup sehari dua kali (dengan tekstur tidak normal), itu dianggap sudah tidak normal,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Jika frekuensi BAB di bawah normal, orang tua disarankan mengevaluasi asupan cairan dan serat untuk mencegah konstipasi yang membuat anak mengejan atau menangis. Sebaliknya, jika frekuensi terlalu tinggi, waspadai tanda dehidrasi dan evaluasi kemungkinan adanya alergi pada bahan makanan pendamping ASI yang diberikan. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/876912\/cara-mengenali-kesehatan-pencernaan-anak-melalui-bentuk-dan-warna-feses\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Freepik) KESEHATAN saluran cerna merupakan salah satu kunci utama tumbuh kembang anak yang optimal. Namun, banyak orangtua yang masih bingung menentukan apakah kondisi pencernaan buah hatinya dalam keadaan sehat atau justru sedang mengalami gangguan. Dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A(K), Subsp. G.H., menekankan pentingnya orangtua untuk jeli memperhatikan indikator fisik dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":24464,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-24463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24463"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24463\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24464"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}