{"id":22049,"date":"2026-03-31T17:11:19","date_gmt":"2026-03-31T17:11:19","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/31\/komunitas-angen-serangan-olah-sampah-organik-jadi-eco-enzyme\/"},"modified":"2026-03-31T17:11:19","modified_gmt":"2026-03-31T17:11:19","slug":"komunitas-angen-serangan-olah-sampah-organik-jadi-eco-enzyme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/31\/komunitas-angen-serangan-olah-sampah-organik-jadi-eco-enzyme\/","title":{"rendered":"Komunitas Angen Serangan Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/03\/31\/1774976117_fe79fb3cede4474203c4.jpg\" alt=\"Komunitas Angen Serangan Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme\"\/><figcaption>Komunitas Angen Desa Serangan mengolah sampah organik menjadi cairan multifungsi atau eco-enzyme.(MI\/Arnoldus Dhae)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/komunitas-angen-desa-serangan\" title=\"Komunitas Angen Desa Serangan\">KOMUNITAS Angen Desa Serangan<\/a>, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mengolah-sampah-organik\" title=\"mengolah sampah organik\">mengolah sampah organik<\/a> menjadi cairan multifungsi atau eco-enzyme. Inisiatif yang didukung PT Bali Turtle Island Development (BTID) ini menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan pesisir sekaligus mendukung program pengelolaan sampah organik Pemerintah Kota Denpasar.<\/p>\n<p>Sejak akhir Desember 2025, komunitas tersebut memanfaatkan limbah buah dari warung kuliner dan sarana upakara menjadi eco-enzyme melalui proses fermentasi. Cairan ini dapat digunakan sebagai pembersih alami, pupuk organik, hingga penjernih air.<\/p>\n<p>Pembina Komunitas Angen, I Wayan Patut, mengatakan proses pembuatan eco-enzyme memerlukan waktu sekitar tiga bulan. Tahapan dimulai dari pengumpulan limbah buah, pencacahan, hingga fermentasi menggunakan wadah galon bekas.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/785269\/bioni-inovasi-hijau-yang-mengubah-sampah-menjadi-energi-dan-pupuk-bagi-masyarakat-untuk-menambang-kebaikan\" title=\"BIONI: Inovasi Hijau yang Mengubah Sampah Menjadi Energi dan Pupuk bagi Masyarakat untuk Menambang Kebaikan\" target=\"_blank\">BIONI: Inovasi Hijau yang Mengubah Sampah Menjadi Energi dan Pupuk bagi Masyarakat untuk Menambang Kebaikan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKami mencampurkan bunga kenanga dan bunga kantil agar saat proses fermentasi aromanya harum dan segar, tidak meninggalkan kesan bau sampah. Semuanya murni menggunakan bahan organik tanpa tambahan zat kimia,\u201d ujar I Wayan Patut, Selasa (31\/3).<\/p>\n<p>Ia menambahkan, inovasi tersebut tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga menerapkan konsep ekonomi sirkular. Ampas hasil produksi eco-enzyme tetap dimanfaatkan sebagai bahan kompos dan pupuk alami.<\/p>\n<p>\u201cAmpas sisa produksinya mampu mempercepat proses pembuatan kompos dan mencegah lalat. Ampas ini juga bisa langsung ditaburkan ke tanaman sebagai pupuk padat alami,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/769909\/ibu-ini-dapat-penghargaan-karena-kelola-sampah-organik-dengan-budidaya-maggot\" title=\"Ibu Ini Dapat Penghargaan karena Kelola Sampah Organik dengan Budidaya Maggot\" target=\"_blank\">Ibu Ini Dapat Penghargaan karena Kelola Sampah Organik dengan Budidaya Maggot<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurutnya, inisiatif ini diharapkan dapat mendorong kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga.<\/p>\n<p>\u201cDengan inovasi ini kami berharap tumbuhnya kesadaran dimulai dari setiap rumah tangga yang pelan-pelan terbiasa memilah dan memilih sampah mereka sendiri, karena tidak semua sampah adalah limbah, sebagian bisa menjadi sumber daya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>I Wayan Patut juga menyebutkan kegiatan ini berjalan melalui kolaborasi dengan Kura-Kura Bali yang selama ini memberikan ruang dan dukungan, termasuk dalam berbagai kegiatan.<\/p>\n<p>\u201cKami sudah banyak kolaborasi, bahkan market utama kami ada di Kura-Kura Bali. Dari inisiatif itu kami diberi ruang dan tempat saat ada event tertentu, termasuk juga dengan pemerintah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Secara terpisah, Kepala Departemen BTID, Zefri Alfaruqy, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menyatakan dukungan terhadap kegiatan komunitas.<\/p>\n<p>\u201cKami senang bisa menyediakan ruang dan fasilitas bagi Komunitas Angen untuk terus berinovasi. Fokus kami adalah memastikan komunitas lokal memiliki tempat untuk berkembang, apalagi melalui kegiatan yang membantu menjaga kebersihan lingkungan di Serangan seperti ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Saat ini, fasilitas workshop Komunitas Angen di kawasan Kura-Kura Bali telah memproses sekitar 150 galon berkapasitas 15 liter dan satu drum berkapasitas 100 liter. Ke depan, produksi eco-enzyme ditargetkan mencapai 2 hingga 5 ton.<\/p>\n<p>Melalui inisiatif ini, Komunitas Angen berharap pengolahan sampah organik dapat memberikan kontribusi nyata bagi kebersihan lingkungan serta mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih produktif. (E-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/875172\/komunitas-angen-serangan-olah-sampah-organik-jadi-eco-enzyme\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Komunitas Angen Desa Serangan mengolah sampah organik menjadi cairan multifungsi atau eco-enzyme.(MI\/Arnoldus Dhae) KOMUNITAS Angen Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, mengolah sampah organik menjadi cairan multifungsi atau eco-enzyme. Inisiatif yang didukung PT Bali Turtle Island Development (BTID) ini menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan pesisir sekaligus mendukung program pengelolaan sampah organik Pemerintah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":22050,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-22049","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22049","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22049"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22049\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22050"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22049"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22049"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22049"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}