{"id":21206,"date":"2026-03-29T04:43:56","date_gmt":"2026-03-29T04:43:56","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/29\/bukan-mikroplastik-nanoplastik-lebih-berisiko-masuk-ke-aliran-darah\/"},"modified":"2026-03-29T04:43:56","modified_gmt":"2026-03-29T04:43:56","slug":"bukan-mikroplastik-nanoplastik-lebih-berisiko-masuk-ke-aliran-darah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/29\/bukan-mikroplastik-nanoplastik-lebih-berisiko-masuk-ke-aliran-darah\/","title":{"rendered":"Bukan Mikroplastik, Nanoplastik Lebih Berisiko Masuk ke Aliran Darah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/03\/29\/1774758859_036a41055b24e1391d20.jpg\" alt=\"Bukan Mikroplastik, Nanoplastik Lebih Berisiko Masuk ke Aliran Darah\"\/><figcaption>Ilustrasi(Freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PAKAR pencemaran dan ekotoksikologi dari IPB University, Prof. Etty Riani, meluruskan kekeliruan pandangan mengenai partikel <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/plastik\" title=\"plastik\">plastik<\/a> yang masuk ke dalam tubuh manusia.\u00a0<\/p>\n<p>Menurutnya, partikel yang memiliki kemampuan menembus dinding usus hingga masuk ke aliran darah bukanlah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mikroplastik\" title=\"mikroplastik\">mikroplastik<\/a>, melainkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nanoplastik\" title=\"nanoplastik\">nanoplastik<\/a>.<\/p>\n<h2><strong>Ukuran yang Menentukan Penetrasi<\/strong><\/h2>\n<p>Perbedaan mendasar terletak pada skalanya. Nanoplastik berukuran sangat kecil, berkisar antara 1 hingga 1.000 nanometer (sebagai perbandingan, 1 mm setara dengan 1 juta nanometer).\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/856892\/air-minum-dalam-kemasan-mengandung-nanoplastik-3-kali-lebih-banyak-dari-air-keran\" title=\"Air Minum Dalam Kemasan Mengandung Nanoplastik 3 Kali Lebih Banyak dari Air Keran\" target=\"_blank\">Air Minum Dalam Kemasan Mengandung Nanoplastik 3 Kali Lebih Banyak dari Air Keran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Prof. Etty menjelaskan bahwa partikel yang dikonsumsi harus berukuran sangat spesifik untuk bisa melewati sistem pertahanan tubuh:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Di bawah 0,15 mm:<\/strong> Batas maksimal partikel yang bisa melewati lambung.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>100\u2013200 nanometer:<\/strong> Bisa diserap usus melalui proses endositosis.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Di bawah 100 nanometer:<\/strong> Berpotensi menembus dinding usus dan masuk ke peredaran darah melalui membran sel.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>&#8220;Karena usus itu tidak bisa dilalui kalau ukurannya mikroplastik, maka akan keluar melalui feses. Kalau melalui udara bisa, tapi ukurannya harus sangat kecil,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<h2><strong>Jalur Paparan dan Organ Target<\/strong><\/h2>\n<p>Selain melalui sistem pencernaan, plastik berukuran mikroskopis ini dapat masuk melalui udara, khususnya partikel kategori PM1.0 (kurang dari satu mikron).\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/811616\/bahaya-air-kemasan-dalam-botol-ancaman-mikroplastik-nanoplastik-dan-zat-kimia-bagi-kesehatan\" title=\"Bahaya Air Kemasan dalam Botol: Ancaman Mikroplastik, Nanoplastik, dan Zat Kimia Bagi Kesehatan\" target=\"_blank\">Bahaya Air Kemasan dalam Botol: Ancaman Mikroplastik, Nanoplastik, dan Zat Kimia Bagi Kesehatan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Nanoplastik juga diduga kuat dapat mencapai organ vital seperti otak hingga air ketuban, asalkan ukurannya cukup kecil untuk menembus filter alami tubuh.<\/p>\n<p>Sebaliknya, Prof. Etty menegaskan bahwa mikroplastik secara definisi mustahil ditemukan dalam air ketuban karena ukurannya terlalu besar untuk menembus sistem sirkulasi darah manusia.<\/p>\n<h2><strong>Pentingnya Akurasi Deteksi Laboratorium<\/strong><\/h2>\n<p>Prof. Etty mengingatkan agar peneliti dan masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan temuan plastik dalam tubuh jika hanya menggunakan mikroskop biasa.\u00a0<\/p>\n<p>Penggunaan alat manual tersebut berisiko tinggi menimbulkan kesalahan identifikasi antara plastik dengan plankton atau senyawa lain.<\/p>\n<p>Ia menekankan penggunaan teknologi analisis lanjutan seperti:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR)<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS)<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Mikroskop Elektron<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Spektroskopi Mikro-Raman (Metode paling akurat untuk nanoplastik)<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>&#8220;Saya kebetulan di Osaka, Jepang, waktu itu mengiranya mikroplastik. Ketika ditembak dengan spektroskopi mikro-Raman, ternyata itu bukan mikroplastik. Kalau hanya mikroskop saja, enggak mungkin bisa memastikan,&#8221; ungkap Prof. Etty.<\/p>\n<p>Melalui penjelasan ini, diharapkan publik dan akademisi lebih berhati-hati dalam menginterpretasi hasil penelitian agar tidak terjadi kekeliruan data terkait dampak plastik pada kesehatan manusia. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/874285\/bukan-mikroplastik-nanoplastik-lebih-berisiko-masuk-ke-aliran-darah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Freepik) PAKAR pencemaran dan ekotoksikologi dari IPB University, Prof. Etty Riani, meluruskan kekeliruan pandangan mengenai partikel plastik yang masuk ke dalam tubuh manusia.\u00a0 Menurutnya, partikel yang memiliki kemampuan menembus dinding usus hingga masuk ke aliran darah bukanlah mikroplastik, melainkan nanoplastik. Ukuran yang Menentukan Penetrasi Perbedaan mendasar terletak pada skalanya. Nanoplastik berukuran sangat kecil, berkisar antara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":21207,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-21206","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21206"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21206\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21207"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}