{"id":17629,"date":"2026-03-19T01:43:33","date_gmt":"2026-03-19T01:43:33","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/19\/interaksi-langsung-kunci-utama-membangun-empati-dan-kecerdasan-sosial-anak\/"},"modified":"2026-03-19T01:43:33","modified_gmt":"2026-03-19T01:43:33","slug":"interaksi-langsung-kunci-utama-membangun-empati-dan-kecerdasan-sosial-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/19\/interaksi-langsung-kunci-utama-membangun-empati-dan-kecerdasan-sosial-anak\/","title":{"rendered":"Interaksi Langsung Kunci Utama Membangun Empati dan Kecerdasan Sosial Anak"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/03\/19\/1773884486_0d4cd4b975cc7e3e8bad.jpg\" alt=\"Interaksi Langsung: Kunci Utama Membangun Empati dan Kecerdasan Sosial Anak\"\/><figcaption>Ilustrasi(Freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>KETERGANTUNGAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> pada dunia digital kini menjadi tantangan besar bagi para orangtua. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, mengingatkan pentingnya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/interaksi\" title=\"Interaksi\">interaksi<\/a> langsung bagi anak dibandingkan sekadar terpapar dunia virtual sejak dini.<\/p>\n<p>Menurut pakar yang akrab disapa Bunda Romy itu, ketertarikan anak terhadap media sosial dan gim digital sangat dipengaruhi oleh pola paparan yang diberikan sejak kecil.\u00a0<\/p>\n<p>Jika anak terbiasa disuguhi layar dengan visual bergerak dan suara yang atraktif, mereka akan menganggap perangkat digital sebagai sumber hiburan utama.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/822990\/dua-siswi-ini-ciptakan-gim-edukasi-untuk-kelola-emosi-dan-empati-anak\" title=\"Dua Siswi Ini Ciptakan Gim Edukasi untuk Kelola Emosi dan Empati Anak\" target=\"_blank\">Dua Siswi Ini Ciptakan Gim Edukasi untuk Kelola Emosi dan Empati Anak<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKalau sejak kecil sudah terpapar platform digital, dia merasa itu yang paling menarik. Sementara main boneka, misalnya, menuntut imajinasi karena bonekanya tidak bisa bergerak atau bersuara,\u201d ujar Bunda Romy, dikutip Kamis (19\/3).<\/p>\n<h2><strong>Pentingnya Pengalaman Nyata<\/strong><\/h2>\n<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengalaman nyata memiliki peran krusial dalam membangun kecerdasan interpersonal, kemampuan untuk menjalin hubungan dan memahami orang lain.\u00a0<\/p>\n<p>Keterampilan ini tidak bisa tumbuh secara instan melalui layar, melainkan harus diasah melalui gesekan sosial di dunia nyata.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/822952\/ini-tips-menumbuhkan-empati-agar-anak-tidak-lakukan-perundungan\" title=\"Ini Tips Menumbuhkan Empati Agar Anak tidak Lakukan Perundungan\" target=\"_blank\">Ini Tips Menumbuhkan Empati Agar Anak tidak Lakukan Perundungan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sebagai contoh, anak belajar <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/empati\" title=\"Empati\">empati<\/a> bukan dari aplikasi, tetapi dari interaksi dengan teman sebaya.\u00a0<\/p>\n<p>Saat mengalami kekalahan dalam sebuah perlombaan, anak akan merasakan emosi tidak nyaman, lalu belajar bangkit melalui dukungan sosial di sekitarnya.<\/p>\n<p>\u201cPengalaman kalah itu tidak enak. Tapi ketika teman bilang tidak apa-apa, kita sudah mencoba, itu membentuk empati dan kemampuan mengelola emosi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<h2><strong>Mengasah Teknik Berteman<\/strong><\/h2>\n<p>Bunda Romy menekankan bahwa keterampilan berkomunikasi, cara mencari teman, hingga memahami perasaan orang lain hanya bisa tajam melalui praktik langsung.\u00a0<\/p>\n<p>Dunia virtual sering kali memangkas kesempatan anak untuk melatih keterampilan sosial dasar tersebut.<\/p>\n<p>Ia menyarankan agar pada fase awal kehidupan, anak lebih banyak dilibatkan dalam aktivitas fisik dan kelompok, seperti bermain bersama atau berolahraga.\u00a0<\/p>\n<p>Kebiasaan membangun relasi secara langsung sejak kecil akan membuat mereka lebih percaya diri dan nyaman berinteraksi tatap muka saat menginjak usia remaja.<\/p>\n<p>\u201cTeknik berteman itu dipelajari dari pengalaman. Anak perlu tahu bagaimana berbicara agar teman mau bermain bersama, bagaimana bersikap saat berbeda pendapat. Itu tidak bisa digantikan oleh interaksi virtual,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, ia mendorong orangtua untuk lebih bijak dan berani memberikan ruang bagi anak untuk berinteraksi secara fisik, serta tidak menjadikan gawai sebagai &#8220;pelarian&#8221; atau hiburan utama sejak usia dini. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/872064\/interaksi-langsung-kunci-utama-membangun-empati-dan-kecerdasan-sosial-anak\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Freepik) KETERGANTUNGAN anak pada dunia digital kini menjadi tantangan besar bagi para orangtua. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, mengingatkan pentingnya interaksi langsung bagi anak dibandingkan sekadar terpapar dunia virtual sejak dini. Menurut pakar yang akrab disapa Bunda Romy itu, ketertarikan anak terhadap media sosial dan gim [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17630,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-17629","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17629","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17629"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17629\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17629"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17629"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17629"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}