{"id":16521,"date":"2026-03-16T03:23:24","date_gmt":"2026-03-16T03:23:24","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/16\/membangun-kualitas-hubungan-orangtua-dan-anak-cukup-15-menit-tanpa-interogasi\/"},"modified":"2026-03-16T03:23:24","modified_gmt":"2026-03-16T03:23:24","slug":"membangun-kualitas-hubungan-orangtua-dan-anak-cukup-15-menit-tanpa-interogasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/16\/membangun-kualitas-hubungan-orangtua-dan-anak-cukup-15-menit-tanpa-interogasi\/","title":{"rendered":"Membangun Kualitas Hubungan Orangtua dan Anak Cukup 15 Menit Tanpa Interogasi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/03\/16\/1773631076_cd37a0fc096bec76f7e6.jpg\" alt=\"Membangun Kualitas Hubungan Orangtua dan Anak: Cukup 15 Menit Tanpa Interogasi\"\/><figcaption>Ilustrasi(Freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>DI tengah kesibukan pekerjaan yang kian padat, menjaga kedekatan emosional dengan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> kerap menjadi tantangan bagi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/orangtua\" title=\"orangtua\">orangtua<\/a> urban. Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan, menekankan bahwa kunci utama hubungan yang harmonis bukanlah durasi waktu, melainkan kualitas interaksi yang terbangun.<\/p>\n<p>Sani menjelaskan bahwa bagi orangtua yang bekerja, meluangkan waktu satu jam setiap hari mungkin terasa berat. Namun, manfaat keterikatan emosional (emotional attachment) tetap bisa diraih meski dalam waktu yang singkat.<\/p>\n<p>\u201cKadang orangtua sekarang bekerja, itu susah sekali mencari waktu satu jam bersama setiap harinya. Tapi dengan 15 menit saja bersama berkualitas, bisa berbagi cerita, ketawa, memeluk, itu lebih bagus kedekatannya atau manfaat emotional attachment-nya,\u201d ujar Sani, dikutip Senin (16\/3).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/869093\/lawan-kecanduan-gawai-kemendikdasmen-ajak-keluarga-hidupkan-gerakan-satujamberkualitas\" title=\"Lawan Kecanduan Gawai, Kemendikdasmen Ajak Keluarga Hidupkan Gerakan #SatuJamBerkualitas\" target=\"_blank\">Lawan Kecanduan Gawai, Kemendikdasmen Ajak Keluarga Hidupkan Gerakan #SatuJamBerkualitas<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><strong>Komunikasi Dua Arah, bukan Interogasi<\/strong><\/h2>\n<p>Sani mengingatkan bahwa kebersamaan bisa dilakukan oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan.\u00a0<\/p>\n<p>Namun, ia memberi catatan penting: komunikasi yang baik tidak muncul secara instan. Kebiasaan ini idealnya dibangun sejak anak masih kecil agar terus berlanjut hingga mereka remaja dan dewasa.<\/p>\n<p>Dalam membangun dialog, orangtua disarankan untuk menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan diri.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/864903\/redam-emosi-saat-mengasuh-anak-psikolog-kenali-sinyal-halt-dan-berani-ambil-jeda\" title=\"Redam Emosi Saat Mengasuh Anak, Psikolog: Kenali Sinyal HALT dan Berani Ambil Jeda\" target=\"_blank\">Redam Emosi Saat Mengasuh Anak, Psikolog: Kenali Sinyal HALT dan Berani Ambil Jeda<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sani menekankan pentingnya bertanya tanpa nada menginterogasi, menghakimi, atau memberikan label negatif kepada anak.<\/p>\n<p>Bagi orangtua yang baru memulai membangun kedekatan saat anak sudah besar, Sani memberikan pesan optimistis.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cMemang akan sulit ketika kebiasaan itu tidak terbangun dari kecil dan harus perlahan-lahan dimulai untuk membangun kedekatan. Tidak ada kata terlambat, tapi yang terpenting adalah niat baik untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<h2><strong>Gawai sebagai Jembatan, bukan Penghalang<\/strong><\/h2>\n<p>Menariknya, Sani berpendapat bahwa penggunaan gawai di rumah tidak selamanya berdampak buruk, asalkan digunakan sebagai media interaksi. Aktivitas seperti bermain gim atau menonton film bersama bisa menjadi sarana diskusi mengenai jalan cerita atau strategi permainan.<\/p>\n<p>Jika ingin menghindari layar, orang tua bisa beralih ke aktivitas fisik atau permainan papan seperti ular tangga, catur, hingga petak umpet. Fokus utamanya tetap pada komunikasi yang terjalin selama aktivitas tersebut berlangsung.<\/p>\n<p>\u201cYang jelas ada komunikasi membahas hal itu, sehingga tidak hanya mainnya, tapi lebih ke arah kedekatan secara emosional dan membangun hubungan dua arah tadi melalui gawai sebagai materialnya atau tools-nya gitu, sebagai medianya,\u201d imbuh Sani.<\/p>\n<p>Langkah ini sejalan dengan kampanye #SatuJamBerkualitas yang digalakkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).\u00a0<\/p>\n<p>Program tersebut mengajak keluarga Indonesia untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di tengah kepungan penggunaan media sosial yang masif di kalangan generasi muda. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/870886\/membangun-kualitas-hubungan-orangtua-dan-anak-cukup-15-menit-tanpa-interogasi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Freepik) DI tengah kesibukan pekerjaan yang kian padat, menjaga kedekatan emosional dengan anak kerap menjadi tantangan bagi orangtua urban. Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan, menekankan bahwa kunci utama hubungan yang harmonis bukanlah durasi waktu, melainkan kualitas interaksi yang terbangun. Sani menjelaskan bahwa bagi orangtua yang bekerja, meluangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16522,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-16521","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16521","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16521"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16521\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16521"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16521"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16521"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}