{"id":12952,"date":"2026-03-03T02:09:52","date_gmt":"2026-03-03T02:09:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/03\/bukan-sekadar-hibernasi-rahasia-mamalia-pengatur-suhu-dalam-bertahan-hidup\/"},"modified":"2026-03-03T02:09:52","modified_gmt":"2026-03-03T02:09:52","slug":"bukan-sekadar-hibernasi-rahasia-mamalia-pengatur-suhu-dalam-bertahan-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/03\/03\/bukan-sekadar-hibernasi-rahasia-mamalia-pengatur-suhu-dalam-bertahan-hidup\/","title":{"rendered":"Bukan Sekadar Hibernasi, Rahasia Mamalia Pengatur Suhu dalam Bertahan Hidup"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/03\/02\/1772461856_7f86aedeeb31dafffc10.jpg\" alt=\"Bukan Sekadar Hibernasi, Rahasia Mamalia 'Pengatur Suhu' dalam Bertahan Hidup\"\/><figcaption>Ilustrasi Mamalia berhibernasi(Danielle Levesque)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PADA 1774, seorang dokter asal Inggris bernama Charles Blagden melakukan eksperimen ekstrem. Ia berdiam di dalam ruangan kecil bersuhu mencapai 93 derajat Celsius. Keajaibannya, suhu tubuh Blagden tetap stabil di angka 37 derajat Celsius. Kemampuan menjaga suhu tubuh konstan ini disebut homeotermi, ciri khas yang selama ini dianggap melekat pada semua mamalia dan burung.<\/p>\n<p>Namun, penelitian terbaru menunjukkan dunia mamalia jauh lebih &#8220;aneh&#8221; dari dugaan sebelumnya. Banyak spesies ternyata mempraktikkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/heterotermi\" title=\"heterotermi\">heterotermi<\/a>, sebuah kemampuan fleksibel untuk mengubah suhu tubuh mereka selama beberapa menit, jam, hingga berminggu-minggu demi bertahan hidup dari berbagai ancaman.<\/p>\n<p>Selama ini, bentuk heterotermi yang paling dikenal adalah hibernasi, di mana hewan tidur panjang saat musim dingin dengan metabolisme yang sangat lambat. Namun, ilmuwan kini melihat adanya spektrum yang lebih luas bernama <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/torpor\" title=\"torpor\">torpor<\/a> dangkal.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/851894\/dilema-tikus-hutan-pilih-makan-enak-atau-selamat-dari-predator\" title=\"Dilema Tikus Hutan, Pilih Makan Enak atau Selamat dari Predator?\" target=\"_blank\">Dilema Tikus Hutan, Pilih Makan Enak atau Selamat dari Predator?<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKarena kita adalah homeoterm, kita berasumsi semua mamalia bekerja seperti kita,\u201d ujar Danielle Levesque, pakar <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ekofisiologi\" title=\"ekofisiologi\">ekofisiologi<\/a> mamalia dari University of Maine. Namun, dengan teknologi pelacak yang lebih canggih, para peneliti mulai menemukan banyak anomali di alam liar.<\/p>\n<h2>Strategi Menghadapi Cuaca Buruk<\/h2>\n<p>Kelelawar telinga panjang Australia, misalnya, menyesuaikan penggunaan torpor berdasarkan cuaca harian. Mari Aas Fjelldal, ahli biologi kelelawar, menemukan hewan ini masuk ke kondisi torpor tidak hanya saat dingin, tetapi juga saat angin kencang dan hujan. Kondisi ini masuk akal, mengingat terbang melawan badai membutuhkan energi besar bagi makhluk yang beratnya lebih ringan dari sebungkus kecil permen cokelat.<\/p>\n<p>Bahkan, kelelawar berambut abu-abu yang sedang hamil dapat menggunakan torpor untuk memicu &#8220;jeda&#8221; pada kehamilan mereka saat badai musim semi melanda.<\/p>\n<p>\u201cIni berarti mereka dapat, sampai taraf tertentu, memutuskan kapan akan melahirkan,\u201d kata Fjelldal. Hal ini sangat menguntungkan agar proses menyusui yang menguras energi terjadi saat ketersediaan makanan sedang melimpah.<\/p>\n<h2>Menghindari Predator dan Hemat Air<\/h2>\n<p>Torpor juga digunakan sebagai perlengkapan keamanan. Hewan seperti edible dormouse (tikus asrama) kedapatan tidur sepanjang musim panas di lubang bawah tanah. Awalnya peneliti bingung, namun data menunjukkan bahwa awal musim panas adalah waktu paling aktif bagi burung hantu. Dengan tidur dalam kondisi torpor, tikus ini menghindari risiko menjadi santapan pemangsa.<\/p>\n<p>Selain keamanan, fleksibilitas suhu juga membantu hewan menghemat air. Di Madagaskar, kelelawar hidung daun membiarkan suhu tubuhnya naik hingga 42,9 derajat Celsius saat cuaca panas menyengat. Strategi ini mencegah dehidrasi akibat pendinginan evaporatif (seperti berkeringat pada manusia) yang bisa dengan cepat menghabiskan cairan tubuh hewan kecil.<\/p>\n<p>Fritz Geiser, ahli fisiologi dari University of New England di Australia, menyimpulkan bahwa mekanisme ini jauh lebih rumit dan menarik daripada suhu tubuh stabil. \u201cKemampuan ini membantu mereka menunggu bencana berlalu,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Meskipun heterotermi memberikan perlindungan luar biasa terhadap variabilitas lingkungan, para ilmuwan memperingatkan bahwa kemampuan ini tetap memiliki batasan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi sangat cepat. (Live Science\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/865961\/bukan-sekadar-hibernasi-rahasia-mamalia-pengatur-suhu-dalam-bertahan-hidup\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi Mamalia berhibernasi(Danielle Levesque) PADA 1774, seorang dokter asal Inggris bernama Charles Blagden melakukan eksperimen ekstrem. Ia berdiam di dalam ruangan kecil bersuhu mencapai 93 derajat Celsius. Keajaibannya, suhu tubuh Blagden tetap stabil di angka 37 derajat Celsius. Kemampuan menjaga suhu tubuh konstan ini disebut homeotermi, ciri khas yang selama ini dianggap melekat pada semua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12953,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-12952","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12952","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12952"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12952\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12953"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12952"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12952"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12952"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}