{"id":124050,"date":"2026-10-24T19:51:53","date_gmt":"2026-10-24T12:51:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/24\/serius-lindungi-keanekaragaman-hayati-jika-ingin-jadi-tuan-rumah-cop-cbd\/"},"modified":"2026-10-24T19:51:53","modified_gmt":"2026-10-24T12:51:53","slug":"serius-lindungi-keanekaragaman-hayati-jika-ingin-jadi-tuan-rumah-cop-cbd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/24\/serius-lindungi-keanekaragaman-hayati-jika-ingin-jadi-tuan-rumah-cop-cbd\/","title":{"rendered":"Serius Lindungi Keanekaragaman Hayati, Jika Ingin Jadi Tuan Rumah COP CBD"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/24\/1792845995_159466c046a9938b9c30.jpg\" alt=\"Serius Lindungi Keanekaragaman Hayati, Jika Ingin Jadi Tuan Rumah COP CBD\"\/><figcaption>(DOK COP)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENTERI Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan Indonesia ingin menjadi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tuan-rumah\" title=\"tuan rumah\">tuan rumah<\/a> COP18 CBD. Keseriusan Indonesia menjadi tuan rumah COP18 CBD masih dipertanyakan karena hingga kini pemerintah belum secara resmi mengajukan presidensi. Tiga negara yang sudah mengajukan secara resmi yakni Ethiopia, Panama dan Ekuador.<\/p>\n<p>Organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah serius melindungi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keanekaragaman-hayati\" title=\"keanekaragaman hayati\">keanekaragaman hayati<\/a> jika ingin menjadi tuan rumah pelaksanaan Konferensi Para Pihak ke-18 Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP18 CBD). Desakan ini disampaikan oleh organisasi masyarakat sipil di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cop17\" title=\"COP17\">COP17<\/a> CBD yang berlangsung di Yerevan, Armenia pada 19-30 Oktober 2026.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Indonesia dianggap mempunyai modalitas yang cukup kuat sebagai calon tuan rumah karena mempunyai megabiodiversitas. Namun, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia sejatinya sedang menuju kehancuran.<br \/>&#13;<br \/>\nSalah satu penyebab utama kehancuran keanekaragaman hayati adalah deforestasi. Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat Indonesia memiliki 88,43 juta hektare hutan alam, tetapi kehilangan sekitar 1,06 juta hektare pada periode 2024-2025. Deforestasi meningkat 37% dibandingkan dengan periode sebelumnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/563009\/pbb-setujui-perjanjian-lindungi-keanekaragaman-hayati-laut-lepas\" target=\"_blank\" title=\"PBB Setujui Perjanjian Lindungi Keanekaragaman Hayati Laut Lepas\">PBB Setujui Perjanjian Lindungi Keanekaragaman Hayati Laut Lepas<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Juru Kampanye FWI, Agung Ady Setiyawan, Jumat (23\/10) mengingatkan pemerintah untuk turut memaksimalkan komitmen perlindungan hutan primer dan berintegritas tinggi dalam COP17 CBD. Desakan itu bukannya tanpa data. FWI mencatat, Indonesia memiliki 70,3 juta hektare lanskap hutan utuh. Sebanyak 26,5 juta hektare di antaranya berada di Papua.<\/p>\n<p>Analisis FWI menemukan 40% deforestasi nasional terjadi di dalam konsesi kehutanan, perkebunan dan tambang. Seluas 160 ribu hektare deforestasi terjadi di dalam Key Biodiversity Areas (KBA). Sebanyak 4,59 juta hektare KBA tumpang tindih dengan lahan konsesi.\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nAgung mendesak pemerintah untuk menghentikan deforestasi sebagai penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati. \u201cKeberhasilan konservasi biodiversitas tidak diukur dari berapa banyak hektare yang dilaporkan, tetapi dari berapa banyak hutan alam yang masih berdiri, tetap terhubung, dan terlindungi. Melindungi hutan, melindungi biodiversitas, dan melindungi hak Masyarakat Adat dan komunitas lokal adalah agenda yang sama,\u201d kata Agung dalam konferensi pers bersama organisasi masyarakat sipil lainnya.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\n<strong>ORANGUTAN TAPANULI<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nSalah satu spesies yang terancam adalah orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia. Survei terkini menunjukkan hanya tersisa sekitar 716 individu yang hidup di tiga blok\u2014Barat, Timur, dan Selatan\u2014yang terpisah oleh jalan, lahan pertanian, serta bentang alam lainnya.<\/p>\n<p>Kehidupan orangutan Tapanuli di Batang Toru, Sumatera Utara, terancam oleh pemberian izin pemanfaatan dan degradasi lahan. Analisis perubahan tutupan lahan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) menunjukkan adanya penurunan tutupan hutan alami dan peningkatan lahan terbuka seluas 239,40 hektare\u2014atau setara dengan 21,93%\u2014di ekosistem Batang Toru antara tahun 2013 hingga 2023.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/542903\/pembicaraan-keanekaragaman-hayati-di-pbb-kesempatan-terakhir-untuk-alam\" target=\"_blank\" title=\"Pembicaraan Keanekaragaman Hayati di PBB Kesempatan Terakhir untuk Alam\">Pembicaraan Keanekaragaman Hayati di PBB Kesempatan Terakhir untuk Alam<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Saat ini, terdapat tujuh kegiatan industri yang beroperasi di dalam maupun di sekitar kawasan tersebut, termasuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan emas, dan proyek pembangkit listrik tenaga air.<br \/>&#13;<br \/>\nPembukaan vegetasi akibat berbagai proyek pembangunan telah memutus koridor orangutan, yang berpotensi semakin mengisolasi populasi mereka yang jumlahnya sudah sangat kecil.<\/p>\n<p>Timbulnya bencana ekologis turut memperburuk jumlah populasi orangutan Tapanuli. Diperkirakan hingga 58 individu orangutan terdampak, yang mencakup sekitar 11% dari populasi spesies tersebut.<\/p>\n<p>Juru Kampanye Senior Satya Bumi, Sadam Afian Richwanudin mendesak pemerintah menghentikan penerbitan izin baru dalam bentuk apa pun di ekosistem Batang Toru\u2014baik untuk pertambangan, perkebunan, pembalakan, maupun pembangunan infrastruktur skala besar. Selain itu, penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan sekadar tuntutan dari organisasi masyarakat sipil. Ini adalah tuntutan dari setiap orang yang ingin agar generasi mendatang tetap dapat melihat orangutan di hutan tropis, bukan sekadar di kebun binatang atau pada gambar di uang kertas. Lindungi apa yang masih tersisa, pulihkan apa yang telah rusak. Karena bagi orangutan Tapanuli, tidak ada rumah kedua,\u201d kata Sadam. (H-1)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/948239\/serius-lindungi-keanekaragaman-hayati-jika-ingin-jadi-tuan-rumah-cop-cbd\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(DOK COP) MENTERI Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan Indonesia ingin menjadi tuan rumah COP18 CBD. Keseriusan Indonesia menjadi tuan rumah COP18 CBD masih dipertanyakan karena hingga kini pemerintah belum secara resmi mengajukan presidensi. Tiga negara yang sudah mengajukan secara resmi yakni Ethiopia, Panama dan Ekuador. Organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah serius melindungi keanekaragaman hayati jika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":124051,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-124050","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124050","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=124050"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124050\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/124051"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=124050"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=124050"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=124050"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}