{"id":123266,"date":"2026-10-23T07:28:56","date_gmt":"2026-10-23T00:28:56","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/23\/the-red-flower-dan-karhutla\/"},"modified":"2026-10-23T07:28:56","modified_gmt":"2026-10-23T00:28:56","slug":"the-red-flower-dan-karhutla","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/23\/the-red-flower-dan-karhutla\/","title":{"rendered":"The Red Flower dan Karhutla"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/22\/1792680579_1b711089aed104cae8ff.jpg\" alt=\"The Red Flower dan Karhutla\"\/><figcaption>(MI\/Seno)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><em>THE Jungle Book<\/em> adalah film garapan Walt Disney Pictures pada 2016 bergenre pertualangan-fantasi yang sangat epik. Film yang diadaptasi dari buku kumpulan cerita berjudul <em>The Jungle Book<\/em> (1894) karya Rudyard Kipling itu mengisahkan seorang anak manusia bernama Mowgli yang diperankan oleh Neel Sethi. Ia ditinggalkan di tengah hutan belantara dan dibesarkan oleh kawanan serigala. Di tengah kehidupan hutan itu, ia belajar memahami aturan alam, membangun persahabatan, dan menemukan tempatnya di antara para penghuni hutan.<\/p>\n<p>Kehidupan Mowgli mulai terancam oleh Shere Khan, seekor harimau bengis, yang membenci manusia. Sebab baginya, manusia adalah ancaman bagi keseimbangan hutan. Demi melindungi kawanan serigala, Mowgli memutuskan untuk meninggalkan hutan dan mencari kehidupan yang aman bersama manusia.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dalam perjalanan itu, ia justru mendapatkan pengetahuan baru tentang <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/the-red-flower\" title=\"The Red Flower\">the red flower<\/a><\/em> atau bunga merah, sebutan untuk api oleh semua penghuni hutan. Penamaan ini merujuk pada konteks nyala api yang menyerupai kembang atau mekar bunga merah. <em>The red flower\u00a0<\/em>ditakuti oleh semua penghuni hutan termasuk Shere Khan karena membahayakan kehidupan mereka. Bagi para penghuni hutan, <em>the red flower<\/em> adalah buatan manusia yang menghasilkan panas dan cahaya, sekaligus bencana yang luar biasa. Apabila dibiarkan menyebar, ia akan menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/883397\/warga-pekanbaru-diimbau-waspada-potensi-karhutla-akibat-el-nino-ekstrem\" target=\"_blank\" title=\"Warga Pekanbaru Diimbau Waspada Potensi Karhutla Akibat El Nino Ekstrem\">Warga Pekanbaru Diimbau Waspada Potensi Karhutla Akibat El Nino Ekstrem<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Film juga menampilkan salah satu adegan yang kontras. Dalam pertemuannya dengan King Louie, pemimpin kawanan kera, Mowgli dipaksa untuk memberitahukan rahasia manusia dalam membuat dan mengendalikan api. King Louie percaya, dengan menguasai <em>the red flower<\/em> (selanjutnya, api), ia dapat menjadi penguasa tunggal hutan.<\/p>\n<p>Mowgli kemudian menggunakan api untuk mengakhiri teror Shere Khan. Walaupun cara ini berhasil, kobaran api yang membesar justru membuat semua penghuni hutan panik. Mereka berlari mendekati area sungai untuk menyelamatkan diri. Kobaran api yang merambat cepat ke seluruh penjuru hutan membuat mereka hanya bisa pasrah.<\/p>\n<p>Film kemudian memunculkan sekelompok gajah sebagai penyelamat. Mereka menumbangkan pohon demi pohon untuk menutup aliran sungai. Aksi ini membuat air meluap, lalu mengalir dan membasahi seluruh area hutan yang terbakar. <em>Ending<\/em> film memperlihatkan kobaran api dapat dipadamkan dan kehidupan hutan kembali normal seperti sediakala.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/947618\/seorang-relawan-pemadam-karhutla-meninggal-dunia\" target=\"_blank\" title=\"Seorang Relawan Pemadam Karhutla Meninggal Dunia\">Seorang Relawan Pemadam Karhutla Meninggal Dunia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/karhutla\" title=\"Karhutla\">KARHUTLA<\/a> 2026<\/strong><\/p>\n<p>Per Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SiPongi Kemenhut), total area terdampak secara nasional pada periode Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Kalkulasi ini belum mencakup data selama periode Agustus-Oktober 2026. Sementara menurut Situation Report Kementerian Kesehatan (Kemenkes), per 27 Agustus 2026, total penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang. Dari jumlah itu, tercatat sebagian mengalami luka berat dan menjalani rawat inap, sedangkan sebagian lainnya mengalami luka ringan dan menjalani rawat jalan.<\/p>\n<p>Keadaan ini diperparah dengan pembatasan aktivitas masyarakat di berbagai sektor. Selain berdampak terhadap kehidupan manusia, karhutla juga mengancam kehidupan satwa liar. Banyak satwa kehilangan habitat, sumber makanan, mengalami cedera dan bahkan mati. Menurut Kemenhut, per 8 Oktober, mereka telah menangani secara nasional 290 satwa liar.<\/p>\n<p>Signifikansi dampaknya yang begitu luar biasa tersebut membuat karhutla menjadi salah satu tema yang disoroti baik oleh media massa regional, nasional, maupun internasional. Sorotan ini semakin ramai dengan percakapan-percakapan publik dalam platform-platform media sosial. Sebagian menyalahkan pemerintah, yang lain korporasi-korporasi besar, sisanya petani-petani lokal. Uraian selanjutnya tidak bertujuan mengusut lebih jauh duduk persoalan tersebut, siapa yang salah dan siapa yang tidak, tetapi untuk menyoroti dimensi etis-normatif yang didemonstrasikan dalam film <em>The Jungle Book<\/em>.<\/p>\n<p><em>The Jungle Book<\/em> memperkenalkan <em>the red flower<\/em> atau api sebagai buatan manusia yang membedakannya dari para penghuni hutan. Manusia menjadi sungguh manusia karena ia mampu membuat dan mengendalikan api. Yuval Noah Harari, dalam <em>Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia<\/em> (2014), menegaskan hal ini dengan menjelaskan bahwa penguasaan api merupakan salah satu temuan penting dalam sejarah umat manusia. Sebab, temuan itu mengubah cara manusia memperoleh makanan, melindungi diri, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Walaupun menjadi temuan penting, film justru memperlihatkan sebuah kritik dengan menyebut api sebagai senjata yang mengancam kehidupan para penghuni hutan. Bagi mereka, api dapat menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya. Atas dasar itu, film menampilkan salah satu adegan di saat Mowgli diminta untuk tidak boleh bermain-main dengan api.<\/p>\n<p>Karhutla 2026 yang berdampak masif bagi kehidupan manusia dan satwa liar menjadi sebuah ironi nyata bahwa api dan bahayanya tidak hanya menakutkan bagi satwa, tetapi juga bagi manusia sebagai penemunya. Api yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup justru dapat menjadi ancaman ketika tidak terkendali. Karhutla 2026 dengan segala dampaknya adalah contoh faktual dari api yang tidak bisa dikendalikan itu. Dalam artian ini, api <em>per se<\/em> (pada dirinya) adalah netral, tetapi <em>in actu<\/em> (dalam aktualitasnya) dapat menjadi ancaman ketika tidak terkendali. Penting untuk dicatat, apabila api sulit untuk (atau tidak bisa) \u2018dikendalikan\u2019, sementara di satu sisi pembukaan lahan adalah keniscayaan dalam pembangunan nasional demi peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka mesti dipikirkan alternatif pembukaan lahan tanpa api. Bagaimana caranya?<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PARA PENYELAMAT<\/strong><\/p>\n<p>Dalam film, kelompok gajah tampil sebagai penyelamat hutan dari kebakaran (karhutla versi film). Pemilihan kelompok satwa ini tentu bukan dilakukan secara serampangan, tetapi dengan pertimbangan yang serius dan matang. Malavika Vyawahare dalam <em>Penelitian tentang Kecerdasan Gajah dapat Membantu Mitigasi Konflik Manusia dan Satwa<\/em> (2023) menunjukkan bahwa gajah adalah salah satu mamalia yang sangat cerdas dalam hal ingatan spasial, pembelajaran atau pemecahan masalah, dan kehidupan sosial. Kecerdasan ini kemudian didukung dengan struktur anatomi tubuhnya yang besar. Hal ini membuat gajah cukup sulit untuk ditaklukkan oleh satwa lainnya.<\/p>\n<p>Di titik ini, bagi saya, gajah adalah metafora yang dapat merepresentasikan dua kelompok manusia dalam hubungan dengan karhutla. Pertama, kalangan intelektual, akademisi, ilmuwan, ahli teknologi dan kimiawan, yang semestinya membantu dengan menyumbang gagasan dan temuan sesuai bidang kepakarannya. Selanjutnya, berdasarkan gagasan dan temuan itu, kelompok kedua, penguasa atau pemerintah, membantu melalui penetapan kebijakan-kebijakan regional atau nasional yang strategis.<\/p>\n<p>Kedua kelompok ini adalah garda terdepan dalam penanganan dan penanggulangan masalah karhutla di wilayah kita. Jadi, pertanyaan bagaimana \u2018mengendalikan api\u2019 dan atau membuka lahan tanpa api, mesti ditelusuri jawabannya secara serius oleh kedua kelompok ini. Apabila jawaban demi jawaban itu ditemukan, saya optimistis karhutla tertangani dan kehidupan kita akan kembali berjalan normal seperti <em>ending<\/em> dari film <em>The Jungle Book<\/em>.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/947673\/the-red-flower-dan-karhutla\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(MI\/Seno) THE Jungle Book adalah film garapan Walt Disney Pictures pada 2016 bergenre pertualangan-fantasi yang sangat epik. Film yang diadaptasi dari buku kumpulan cerita berjudul The Jungle Book (1894) karya Rudyard Kipling itu mengisahkan seorang anak manusia bernama Mowgli yang diperankan oleh Neel Sethi. Ia ditinggalkan di tengah hutan belantara dan dibesarkan oleh kawanan serigala. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":123267,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-123266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123266"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123266\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/123267"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}