{"id":123215,"date":"2026-10-23T05:15:11","date_gmt":"2026-10-22T22:15:11","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/23\/nu-abad-kedua-dan-diplomasi-jalur-sutra\/"},"modified":"2026-10-23T05:15:11","modified_gmt":"2026-10-22T22:15:11","slug":"nu-abad-kedua-dan-diplomasi-jalur-sutra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/23\/nu-abad-kedua-dan-diplomasi-jalur-sutra\/","title":{"rendered":"NU Abad Kedua dan Diplomasi Jalur Sutra"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"owl-carousel dt-foto-slider\">\n<div class=\"item\">\n<figure class=\"main-img\">\n                                            <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/22\/1792680878_c438b5a3dfdac8933247.jpg\" style=\"width:100%\" alt=\"MI\/Duta\"\/><figcaption>MI\/Duta(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>FAREED Zakaria, jurnalis dan pembawa acara <em>CNN<\/em>, dalam bukunya, The Post-American World (2008), pernah mengajukan sebuah pertanyaan kritis: \u201cBisakah seseorang menjadi modern tanpa perlu menjadi \u2018Barat\u2019?\u201d Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada sebuah percakapan satu dekade lalu dengan Yenny Wahid, cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, \u201cMengapa anak-anak NU ingin melanjutkan studi ke Tiongkok? Mengapa tidak ke negara Barat?\u201d Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu tidak sulit jika dikaitkan dengan kemajuan &#8216;Negeri Tirai Bambu&#8217; saat ini, mengutip pendapat Jeffrey Sachs, seorang ekonom kenamaan Amerika Serikat: Tiongkok memiliki kisah pembangunan paling sukses dalam sejarah dunia.<\/p>\n<p>Tulisan ini tidak berpretensi mengarahkan perlunya mengurangi kerja sama NU dengan negara-negara Barat dan Timur Tengah pada masa mendatang, tetapi agar momentum perubahan geopolitik yang terjadi bisa dimanfaatkan NU dengan memperluas kemitraan strategis mereka dengan Tiongkok, khususnya di bidang pendidikan, pengetahuan, dan teknologi.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>DARI KEMITRAAN TRADISIONAL KE NEW NORMAL<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU kini memasuki abad kedua khidmah mereka kepada umat, bangsa, dan negara. Itu berbeda dengan waktu pendirian mereka pada awal abad ke-20, atau tepatnya 1926, yang ditandai dengan kemajuan dan penguasaan teknologi dan ekonomi dunia berada di \u2018Dunia Barat\u2019.<\/p>\n<p>Ketika itu, NU lahir dalam suasana pasca-Perang Dunia Pertama yang menyebabkan terjadinya perubahan tatanan global yang sepenuhnya dikendalikan \u2018Barat\u2019 termasuk yang terjadi di Timur Tengah. Dalam buku <em>21st-Century Cooperation, Regional Public Goods, and Sustainable Development<\/em> (2017), Estevadeordal dan Goodman menggambarkan supremasi &#8216;Barat\u2019 ketika itu sebagai kemenangan liberalisme yang ditandai dengan lima inovasi pendorong pertumbuhan ekonominya : listrik, sanitasi perkotaan, bahan kimia dan farmasi, mesin pembakaran dan komunikasi modern. Ekonom Robert J Gordon (2000) menggambarkan situasi abad ke-20 sebagai dunia dengan &#8216;penemuan-penemuan besar <em>(great inventions<\/em>)&#8217; yang ditandai dengan kebangkitan dan kejatuhan kolonialisme, dua perang dunia, Perang Dingin, dan segala akibatnya.<\/p>\n<p>Nahdlatul Ulama sekarang berada dalam sebuah lingkungan dunia yang berbeda: kemajuan dunia telah bergeser dari Barat ke Timur. Performa negara-negara \u2018Barat\u2019 kini mulai memudar. NU di abad kedua berada dalam situasi &#8216;normal baru&#8217; dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara Barat yang melambat. Dunia Barat yang selama lebih dari satu abad menjadi pengendali kepemimpinan politik dan ekonomi dunia kini telah memudar. Situasi itu telah melahirkan normal baru dalam tatanan dunia dengan Timur terus mengejar, bahkan melampaui kemajuan Barat dan akan memengaruhi konfigurasi kerja sama internasional antarnegara untuk menemukan mitra baru yang bisa memperkuat hubungan saling menguntungkan di antara mereka.<\/p>\n<p>Ketika KH Ahmad Shiddiq, Rais Am Syuriyah PBNU, pada 1984 menggagas trilogi<em>\u00a0ukhuwah: ukhuwah islamiyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim), <em>ukhuwah wathaniyah<\/em> (persaudaraan sesama warga bangsa), dan <em>ukhuwah insaniyah\u00a0<\/em>(persaudaraan sesama manusia). Ketika itu dunia tengah bersiap menuju perubahan: negara<em>\u00a0superpower<\/em> (Amerika Serikat dan Uni Soviet) yang lelah menghadapi Perang Dingin dan Tiongkok mulai bangkit meskipun belum semaju sekarang. Setelah Uni Soviet bubar pada 1991 dan dunia Barat mengalami berbagai persoalan ekonomi dan politik, kini Tiongkok telah menggeser kekuatan Barat. Semua mata dunia tengah mengarah ke Tiongkok, itulah normal baru dalam tatanan dunia sekarang.<\/p>\n<p>Di tengah pergeseran peta kekuatan global dan pesatnya kebangkitan Tiongkok sebagai salah satu kekuatan utama dunia, organisasi diniyah ijtima\u2019iyah yang didirikan Hadratusyekh KH Hasyim Asy\u2019ari itu perlu melakukan perluasan <em>ukhuwah basyariyah<\/em>-nya yang secara tradisional banyak dilakukan dengan entitas muslim di Timur Tengah dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, dengan normalitas baru: menguatkan kerja sama keumatan dengan negara maju seperti Tiongkok meskipun jumlah penduduk muslimnya minoritas. Perluasan kerja sama dan kemitraan internasional semacam itu dibutuhkan NU agar keberadaan mereka tetap<em>\u00a0shalihun likulli zaman wa makan.<\/em><\/p>\n<p>Agenda penyiapan sumber daya manusia (SDM) muda<em>\u00a0nahdliyin<\/em> (nahdiyin) yang unggul membutuhkan keseriusan tidak saja secara personal yang selama ini dilakukan secara mandiri oleh santri-santri NU, tetapi juga <em>at tadhakhul al mu\u2019assasi<\/em> (intervensi kelembagaan) oleh PBNU untuk memperkuat dukungan jejaring internasional termasuk dengan Tiongkok, apalagi jika dikaitkan dengan salah satu rekomendasi Kongres Pendidikan NU 2025 tentang penguatan STEM (<em>science, technology, engineering, and mathematics<\/em>) di seluruh jenjang pendidikan, termasuk pesantren. Peningkatan kerja sama dengan negara maju seperti Tiongkok menjadi langkah strategis PBNU dalam merespons perkembangan dan kemajuan teknologi dunia untuk menyiapkan SDM NU yang unggul.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PERAN ALUMNI NU TIONGKOK: <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/diplomasi-jalur-sutra\" title=\"Diplomasi Jalur Sutra\">DIPLOMASI JALUR SUTRA<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Minggu lalu, saya bersama teman-teman NU sesama alumni Tiongkok berkesempatan mengunjungi sejumlah tempat di Tiongkok, mulai kampus, Kementerian Luar Negeri, hingga tempat pameran produk kecerdasan buatan Zhongguancun Exhibition Center di Distrik Haidan yang berada tidak jauh dari Universitas Peking di Beijing.<\/p>\n<p>Tentu masih banyak tempat pameran keunggulan Tiongkok yang belum dikunjungi mahasiswa Indonesia, tetapi melihat tempat pameran keunggulan seperti Zhongguancun Exhibition Center dapat memperkuat wawasan teman-teman NU alumni Tiongkok dengan melihat secara langsung kemajuan teknologi AI (articial intelligence) di bidang robotik, teknologi luar angkasa, mobil listrik hingga <em>stemcells<\/em> yang memiliki reputasi dunia milik &#8216;Negeri Tirai Bambu&#8217; tersebut. Kunjungan semacam itu penting karena dapat memperluas wawasan alumni NU Tiongkok serta mendorong munculnya SDM NU yang mampu berinovasi dan bersaing di bidang teknologi di tingkat global.<\/p>\n<p>Pada 2017, saya bersama teman-teman mahasiswa NU di Tiongkok dan dukungan dari PBNU berhasil melakukan langkah penting: mendirikan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok untuk merespons keinginan teman-teman NU yang kuliah di negeri yang kini dipimpin Presiden Xi Jinping, sekaligus untuk mempererat silaturahim serta merefleksikan pengalaman studi di Tiongkok dalam berbagai kolaborasi tulisan.<\/p>\n<p>Hingga kini, PCINU Tiongkok terus berkembang dan memainkan peran strategis dalam memperkuat diplomasi <em>people to people<\/em> Indonesia-Tiongkok. Bahkan salah satu alumnus PCINU Tiongkok, Budi Sugandi, menjadi pemimpin delegasi Indonesia dalam kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Tiongkok di Beijing dan berhasil menemui salah satu pejabat utamanya dan pertemuan resmi dengan Foreign Affairs Office di Kota Chongqing pada pertengahan Oktober 2026.<\/p>\n<p>Contoh lain yang membanggakan ialah platform resmi kerja sama<em>\u00a0people to people<\/em> mewakili Indonesia dalam kerja sama Jalur Sutra (Indonesia Friend of Silk Road Club) yang diresmikan pejabat Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta dan dihadiri pejabat Kementerian Agama RI pertengahan September 2026 dipercayakan kepada Sino Nusantara Institute, sebuah lembaga yang diinisiasi dan dipimpin Saifuddin Zuhri, mantan Rais Syuriyah PCINU Tiongkok. Sino Nusantara Institute banyak diisi mantan alumni PCINU Tiongkok dan memfasilitasi interaksi entitas di Tiongkok dengan kader-kader NU yang tengah menempuh pendidikan magister dan doktoral serta dengan kalangan pengusaha kedua negara.<\/p>\n<p>Pengalaman alumni PCINU Tiongkok tidak hanya menyangkut kegiatan belajar-mengajar dan riset di negeri berpenduduk terbesar di dunia itu, tetapi juga memperluas wawasan internasional mereka selama berinteraksi dengan warga Tiongkok dan dengan mahasiswa asing lainnya. Pengalaman dan jejaring itu kini mereka gunakan untuk memperkuat diplomasi Jalur Sutra (<em>Silk Road<\/em>) antara Indonesia dan Tiongkok, sesuatu yang realistis dalam merespons kemajuan Tiongkok sekaligus menghadirkan peluang besar untuk memperluas akses pendidikan, penguasaan dan transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas SDM NU secara umum.<\/p>\n<p>Ini bukan semata-mata soal keinginan alumni PCINU Tiongkok untuk menggeser orientasi diplomasi <em>people to people<\/em> Indonesia dari Barat ke Timur, melainkan juga tentang keberanian mereka membaca perubahan zaman, mendiversifikasi kemitraan strategis, dan memilih jalan yang paling relevan bagi kemajuan NU serta kemaslahatan umat pada masa depan. <em>Wallahu a\u2019lam bi ash-shawab<\/em><\/p>\n<p>.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/947675\/nu-abad-kedua-dan-diplomasi-jalur-sutra\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MI\/Duta(Dok. Pribadi) FAREED Zakaria, jurnalis dan pembawa acara CNN, dalam bukunya, The Post-American World (2008), pernah mengajukan sebuah pertanyaan kritis: \u201cBisakah seseorang menjadi modern tanpa perlu menjadi \u2018Barat\u2019?\u201d Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada sebuah percakapan satu dekade lalu dengan Yenny Wahid, cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, \u201cMengapa anak-anak NU ingin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-123215","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123215","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123215"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123215\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123215"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123215"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123215"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}