{"id":123148,"date":"2026-10-23T02:22:53","date_gmt":"2026-10-22T19:22:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/23\/urutan-makan-karbohidrat-pengaruhi-gula-darah-ini-temuan-peneliti-stanford\/"},"modified":"2026-10-23T02:22:53","modified_gmt":"2026-10-22T19:22:53","slug":"urutan-makan-karbohidrat-pengaruhi-gula-darah-ini-temuan-peneliti-stanford","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/23\/urutan-makan-karbohidrat-pengaruhi-gula-darah-ini-temuan-peneliti-stanford\/","title":{"rendered":"Urutan Makan Karbohidrat Pengaruhi Gula Darah, Ini Temuan Peneliti Stanford"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/22\/1792681717_3da57d6cc3b6a7b1d00f.jpeg\" alt=\"Urutan Makan Karbohidrat Pengaruhi Gula Darah, Ini Temuan Peneliti Stanford\"\/><figcaption>Ilustrasi urutan makan.(Dok. Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DUA <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/studi\" title=\"studi\">studi<\/a> terbaru dari lembaga kedokteran ternama di Amerika Serikat, Stanford Medicine dan Weill Cornell Medicine, mengungkapkan temuan penting mengenai manajemen <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gula-darah\" title=\"gula darah\">gula darah<\/a>. Riset tersebut menunjukkan bahwa respons glukosa tubuh tidak hanya bergantung pada apa yang dimakan, tetapi juga pada urutan makanan yang dikonsumsi.<\/p>\n<p>Selama ini, saran kesehatan bagi penderita <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/diabetes\" title=\"diabetes\">diabetes<\/a> atau mereka yang peduli pada kadar gula darah sering kali berfokus pada pengurangan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/karbohidrat\" title=\"Karbohidrat\">karbohidrat<\/a> secara drastis. Namun, temuan yang dipublikasikan di jurnal <em>Nature Medicine<\/em> dan <em>Diabetes Care<\/em> ini menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan rinci berdasarkan kondisi metabolik masing-masing individu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Respons Berbeda pada Tiap Individu<\/h2>\n<p>Studi yang dipimpin oleh peneliti dari Stanford Medicine menemukan bahwa lonjakan gula darah setelah mengonsumsi karbohidrat sangat bergantung pada status kesehatan metabolik seseorang. Pola respons yang berbeda ini berkaitan erat dengan kondisi seperti resistansi insulin atau disfungsi sel beta, yang merupakan cikal bakal diabetes tipe 2.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/756483\/penelitian-terbaru-mitokondria-mungkin-menjadi-kunci-penyembuhan-diabetes\" title=\"Penelitian Terbaru, Mitokondria Mungkin Menjadi Kunci Penyembuhan Diabetes\" target=\"_blank\">Penelitian Terbaru, Mitokondria Mungkin Menjadi Kunci Penyembuhan Diabetes<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini melibatkan 55 partisipan tanpa riwayat diabetes tipe 2, di mana 26 di antaranya berada dalam kondisi prediabetes. Para peserta diminta mengonsumsi tujuh jenis makanan berbeda, mulai dari nasi hingga buah-buahan, dengan pemantauan glukosa kontinu selama tiga jam setelah makan.<\/p>\n<p>Tim Stanford juga menguji efek &#8220;pre-loading&#8221; atau mengonsumsi zat gizi tertentu sebelum karbohidrat. Hasilnya menunjukkan:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Serat dan Protein: Mengonsumsi serat (bubuk kacang polong) atau protein (putih telur rebus) sebelum nasi terbukti menurunkan lonjakan glukosa secara signifikan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Lemak: Mengonsumsi lemak (cr\u00e8me fra\u00eeche) sebelum karbohidrat tidak menurunkan lonjakan, tetapi menunda waktu puncaknya.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Namun, peneliti mencatat bahwa efek peredaman ini paling terlihat pada peserta yang sehat secara metabolik. Pada mereka yang sudah memiliki resistansi insulin atau disfungsi sel beta, dampaknya cenderung minimal.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/621359\/minuman-serat-turut-bantu-diabetesi-kontrol-gula-darah\" title=\"Minuman Serat Turut Bantu Diabetesi Kontrol Gula Darah\" target=\"_blank\">Minuman Serat Turut Bantu Diabetesi Kontrol Gula Darah<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Strategi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/urutan-makan\" title=\"Urutan Makan\">Urutan Makan<\/a> dari Weill Cornell<\/h2>\n<p>Gagasan mengenai urutan makan ini diperkuat oleh riset terdahulu dari Weill Cornell Medical College yang dipimpin oleh Dr. Louis Aronne. Dalam studi terhadap pasien obesitas dengan diabetes tipe 2, ditemukan bahwa urutan makan memberikan dampak dramatis pada kadar insulin dan glukosa.<\/p>\n<p>Ketika sayuran dan protein dimakan 15 menit sebelum karbohidrat (seperti roti atau jus jeruk), kadar glukosa pasca-makan pada menit ke-30, 60, dan 120 turun masing-masing sekitar 29, 37, dan 17 persen. Kadar insulin juga ditemukan jauh lebih rendah dibandingkan saat karbohidrat dikonsumsi terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Dr. Aronne menjelaskan bahwa mengubah urutan makan jauh lebih mudah dipatuhi oleh pasien dibandingkan melarang jenis makanan tertentu. &#8220;Alih-alih bilang jangan makan itu, dokter bisa bilang makan ini sebelum itu,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<h2>Kesimpulan Praktis<\/h2>\n<p>Meskipun penelitian lanjutan masih diperlukan, para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai mempraktikkan urutan makan yang benar sebagai langkah pencegahan. Strategi sederhana seperti menyantap salad atau protein (seperti daging burger tanpa roti) terlebih dahulu sebelum menyentuh kentang goreng atau nasi dapat membantu menjaga stabilitas gula darah sepanjang hari.<\/p>\n<p>Temuan ini memberikan harapan baru bagi pengidap diabetes bahwa karbohidrat tetap dapat dinikmati, asalkan dikonsumsi dengan strategi urutan yang tepat untuk meminimalkan risiko lonjakan glukosa yang berbahaya. (Stanford Medicine, Weill Cornell Medicine\/H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/947686\/urutan-makan-karbohidrat-pengaruhi-gula-darah-ini-temuan-peneliti-stanford\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi urutan makan.(Dok. Magnific) DUA studi terbaru dari lembaga kedokteran ternama di Amerika Serikat, Stanford Medicine dan Weill Cornell Medicine, mengungkapkan temuan penting mengenai manajemen gula darah. Riset tersebut menunjukkan bahwa respons glukosa tubuh tidak hanya bergantung pada apa yang dimakan, tetapi juga pada urutan makanan yang dikonsumsi. Selama ini, saran kesehatan bagi penderita diabetes [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":123149,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-123148","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123148"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123148\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/123149"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}