{"id":122638,"date":"2026-10-22T04:01:00","date_gmt":"2026-10-21T21:01:00","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/22\/ini-2-pembantu-presiden-terburuk-mengacu-hasil-survei-matriks-politik-indonesia\/"},"modified":"2026-10-22T04:01:00","modified_gmt":"2026-10-21T21:01:00","slug":"ini-2-pembantu-presiden-terburuk-mengacu-hasil-survei-matriks-politik-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/22\/ini-2-pembantu-presiden-terburuk-mengacu-hasil-survei-matriks-politik-indonesia\/","title":{"rendered":"Ini 2 Pembantu Presiden Terburuk Mengacu Hasil Survei Matriks Politik Indonesia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792589870_eab51b7e00308de570af.png\" alt=\"Ini 2 Pembantu Presiden Terburuk Mengacu Hasil Survei Matriks Politik Indonesia\"\/><figcaption>Kabinet Merap Putih.(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENTERI Hak Asasi Manusia Natalius Pigai dan Menteri Agraria dan Tata Ruang\/Kepala BPN Nusron Wahid mendapat penilaian terburuk dalam dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.\u00a0Temuan itu berdasarkan survei Matriks Politik Indonesia terhadap 1.200 responden pada 10\u201315 Oktober 2026.<\/p>\n<p>Direktur Komunikasi Matriks Politik Indonesia Supriyadi mengatakan, Pigai menempati urutan pertama dengan penilaian 82,6%, disusul Nusron Wahid 78,3% dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo 75,2%.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Berikutnya, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto memperoleh 68,2%, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia 65,7%, dan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait 60,7%.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/945889\/survei-ppi-kinerja-amran-sulaiman-teddy-indra-wijaya-dan-erick-thohir-tertinggi\" title=\"Survei PPI: Kinerja Amran Sulaiman, Teddy Indra Wijaya, dan Erick Thohir Tertinggi\" target=\"_blank\">Survei PPI: Kinerja Amran Sulaiman, Teddy Indra Wijaya, dan Erick Thohir Tertinggi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cNatalius Pigai dan Nusron mendapat penilaian sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/menteri-terburuk\" title=\"Menteri Terburuk\">menteri terburuk<\/a> di jajaran kabinet pada dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran,\u201d kata Supriyadi dalam keterangan tertulis, Rabu (21\/10).<\/p>\n<p>Menurut Supriyadi, penilaian terhadap para menteri turut berkaitan dengan kontroversi pernyataan, komunikasi publik, serta isu hukum yang menjadi perhatian masyarakat.\u00a0Namun, penilaian tersebut merupakan temuan survei dan bukan kesimpulan hukum terhadap individu yang disebutkan.<\/p>\n<p>Nusron memiliki tingkat popularitas 72,9%. Supriyadi mengaitkan sorotan terhadap Nusron dengan perkara dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor yang terungkap melalui operasi tangkap tangan KPK.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/944671\/dpr-kinerja-bahlil-lahadalia-harus-diukur-dari-fakta-kerja-bukan-survei\" title=\"DPR: Kinerja Bahlil Lahadalia Harus Diukur dari Fakta Kerja, bukan Survei\" target=\"_blank\">DPR: Kinerja Bahlil Lahadalia Harus Diukur dari Fakta Kerja, bukan Survei<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, tingkat pengenalan publik terhadap Pigai mencapai 54,3%, sedangkan Dody Hanggodo sebesar 27,7%. Supriyadi menyebut pernyataan Pigai yang kontroversial dan gaya komunikasi Dody menjadi bagian dari sorotan publik terhadap keduanya.<\/p>\n<p><strong>Responden tak Puas Reshuffle Kabinet<\/strong><\/p>\n<p>Survei yang sama menunjukkan mayoritas responden belum puas terhadap perombakan Kabinet Merah Putih. Sebanyak 52,4% menyatakan tidak puas, sedangkan 41,3% merasa puas dan 6,3% tidak menjawab atau tidak tahu. Supriyadi menyebut evaluasi terhadap <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kinerja-menteri\" title=\"Kinerja Menteri\">kinerja menteri<\/a> menjadi alasan utama publik menginginkan perombakan kabinet.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSebanyak 45% responden menilai kinerja menteri kurang memuaskan, disusul pernyataan atau sikap kontroversial sebesar 31,1% dan keterlibatan dalam perkara hukum 10%,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Alasan lainnya meliputi ketidaksesuaian penempatan jabatan sebesar 6,3%, jarang turun ke lapangan 2,7%, rangkap jabatan 1%, serta dinilai tidak loyal terhadap garis Presiden 0,8%. Sebanyak 0,7% menyebut alasan lain dan 2,5% tidak menjawab atau tidak tahu.<\/p>\n<p>Survei Matriks Politik Indonesia dilakukan pada 10\u201315 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden yang dipilih melalui metode multistage random sampling dan mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Survei memiliki margin of error \u00b12,9% pada tingkat kepercayaan 95%. (Far\/P-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/947164\/ini-2-pembantu-presiden-terburuk-mengacu-hasil-survei-matriks-politik-indonesia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kabinet Merap Putih.(Antara) MENTERI Hak Asasi Manusia Natalius Pigai dan Menteri Agraria dan Tata Ruang\/Kepala BPN Nusron Wahid mendapat penilaian terburuk dalam dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.\u00a0Temuan itu berdasarkan survei Matriks Politik Indonesia terhadap 1.200 responden pada 10\u201315 Oktober 2026. Direktur Komunikasi Matriks Politik Indonesia Supriyadi mengatakan, Pigai menempati urutan pertama dengan penilaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122639,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122638","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122638","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122638"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122638\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122639"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122638"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122638"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122638"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}