{"id":122606,"date":"2026-10-22T02:39:11","date_gmt":"2026-10-21T19:39:11","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/22\/forum-etika-global-rumuskan-tata-kelola-ai-yang-bertanggung-jawab\/"},"modified":"2026-10-22T02:39:11","modified_gmt":"2026-10-21T19:39:11","slug":"forum-etika-global-rumuskan-tata-kelola-ai-yang-bertanggung-jawab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/22\/forum-etika-global-rumuskan-tata-kelola-ai-yang-bertanggung-jawab\/","title":{"rendered":"Forum Etika Global Rumuskan Tata Kelola AI yang Bertanggung Jawab"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792595661_eb1a28d873898baf0768.jpg\" alt=\"Forum Etika Global Rumuskan Tata Kelola AI yang Bertanggung Jawab\"\/><figcaption>Sekitar 200 peserta dari 20 negara mengikuti Global Ethic Forum (GEF) 2026 di Sanur, Bali, pada 20-22 Oktober.(MI\/Arnoldus Dhae)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEKITAR 200 peserta dari 20 negara mengikuti <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/global-ethic-forum-gef-2026\" title=\"Global Ethic Forum (GEF) 2026\">Global Ethic Forum (GEF) 2026<\/a> di Sanur, Bali, pada 20-22 Oktober. Forum yang mempertemukan pemimpin, akademisi, pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil itu membahas tata kelola kecerdasan artifisial (AI) yang bertanggung jawab, etika penggunaan teknologi, serta pengaruh ruang digital terhadap kehidupan sosial.<\/p>\n<p>Forum bertema Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy tersebut diselenggarakan Globethics bersama Yayasan Dharma Etika Madani (Yadema) dan lebih dari 34 mitra regional serta internasional.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Chair of GEF 2026 sekaligus Vice President of Globethics dan pendiri serta anggota Dewan YADEMA, Dicky Sofjan, mengatakan Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah forum tersebut sejak dibentuk pada 2009. Sebelumnya, GEF rutin digelar di Swiss.<\/p>\n<p>&#8220;Bali dipilih karena memiliki kearifan lokal melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,&#8221; ujar Dicky.<\/p>\n<p>Presiden Globethics Dietrich Werner mengatakan perkembangan AI dan teknologi digital telah mengubah cara manusia hidup, bekerja, serta membentuk opini publik. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan persoalan ketimpangan, akuntabilitas, privasi, dan distribusi manfaat teknologi.<\/p>\n<p>Menurutnya, tantangan tersebut semakin kompleks di tengah ketegangan geopolitik dan polarisasi sosial. Karena itu, diperlukan kerja sama lintas sektor untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berorientasi pada kepentingan manusia. &#8220;Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana masyarakat dapat memastikan bahwa kemajuan melayani kemanusiaan,&#8221; kata Dietrich.<\/p>\n<p>Ia menilai Bali menjadi tempat yang relevan untuk membahas persoalan tersebut karena filosofi Tri Hita Karana menempatkan keharmonisan sebagai dasar kesejahteraan. Kearifan lokal itu diharapkan dapat dipertemukan dengan perspektif global untuk mendorong tata kelola teknologi yang lebih bertanggung jawab.<\/p>\n<p>GEF 2026 membahas sejumlah persoalan utama, mulai dari tata kelola AI lintas negara, keterlibatan nilai budaya dan agama dalam pengembangan teknologi, hingga penyusunan komitmen bersama untuk mewujudkan penggunaan AI yang akuntabel.<\/p>\n<p>Salah satu agenda membahas kewenangan negara, perusahaan, dan masyarakat dalam mengatur inovasi AI, terutama terkait penguasaan data dan pengetahuan. Agenda lainnya menggali peran tradisi keagamaan, budaya, dan pengetahuan komunitas dalam membentuk tata kelola AI yang inklusif.<\/p>\n<p>Forum tersebut juga mendorong penyusunan prinsip bersama mengenai kepercayaan, integritas, dan tanggung jawab dalam penggunaan AI. Komitmen praktis yang dihasilkan diharapkan dapat diwujudkan dalam 18 bulan ke depan sebagai bagian dari persiapan menuju Geneva AI Summit 2027.<\/p>\n<p>Selain membahas tata kelola global, forum menyoroti peluang pembentukan forum etika regional di Asia Timur dan Pasifik atau Asia Tenggara. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat sipil, dan praktisi teknologi dalam merumuskan pendekatan tata kelola AI yang sesuai dengan kebutuhan kawasan.<\/p>\n<p>&#8220;Asia Tenggara tidak boleh hanya menjadi pasar bagi AI, tetapi juga kawasan yang ikut menentukan bagaimana AI diatur. Indonesia siap mengambil peran terdepan dalam membangun percakapan regional tersebut, yang berpijak pada etika dan nilai-nilai kita sendiri,&#8221; ujar salah satu perwakilan forum.<\/p>\n<p><strong>Literasi Digital Anak Muda<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nGEF 2026 juga menyoroti peran generasi muda dalam membentuk ekosistem digital yang sehat. Dengan jumlah pengguna media sosial yang besar, anak muda Indonesia tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan dalam membentuk opini publik dan memengaruhi percakapan sosial.<\/p>\n<p>Di tengah peluang tersebut, penyebaran misinformasi, konten berbahaya, dan tekanan untuk menarik perhatian menjadi tantangan yang dapat mengikis kepercayaan masyarakat.<\/p>\n<p>Untuk menjawab persoalan itu, GEF menghadirkan Youth Ethical Leadership Bootcamp bertema Responsible Influence: Ethical Content Creation for Impact. Program yang didukung UNESCO Jakarta dan National Geographic Indonesia tersebut membekali generasi muda dengan pemahaman etika dan keterampilan membuat konten secara bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Ketua YADEMA Lakhsmi Subandi mengatakan pengaruh di ruang digital harus diikuti tanggung jawab terhadap informasi yang diproduksi dan disebarluaskan.<\/p>\n<p>&#8220;Pengaruh datang bersama tanggung jawab. Kami ingin terus mengembangkan program unggulan ini dan memberdayakan kaum muda untuk membangun dunia digital yang lebih etis dan manusiawi,&#8221; kata Lakhsmi.<\/p>\n<p>Selain teknologi, forum membahas kepemimpinan etis, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan peran komunitas keagamaan dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.<\/p>\n<p>Pembahasan tersebut mengacu pada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia serta Global Human Flourishing Study yang melibatkan Harvard, Baylor, dan Gallup. Studi terhadap lebih dari 200.000 orang di 22 negara itu mengukur kesejahteraan manusia melalui sejumlah aspek kehidupan.<\/p>\n<p>Dalam studi tersebut, Indonesia menempati peringkat pertama, sedangkan Jepang berada di posisi terakhir. Amerika Serikat berada di peringkat ke-15 dan Swedia di posisi ke-18. Temuan itu menjadi salah satu bahan diskusi mengenai keterbatasan pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran kemajuan.<\/p>\n<p>Salah satu narasumber GEF 2026, Ulil Abshar Abdalla, mengatakan masyarakat perlu mengembangkan pendekatan yang mampu menjembatani perbedaan di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.<\/p>\n<p>&#8220;Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah dunia yang retak dan terfragmentasi. Namun, masyarakat dengan kekayaan tradisi dan warisan budayanya dapat memulihkan keretakan tersebut. Kata kuncinya adalah harmoni: tradisi dan modernitas hadir berdampingan dan dapat hidup bersama secara damai,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan dapat merumuskan pendekatan tata kelola yang menempatkan martabat manusia, keadilan, keharmonisan sosial, dan kesejahteraan bersama sebagai landasan pengembangan teknologi serta kebijakan publik. (E-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/947202\/forum-etika-global-rumuskan-tata-kelola-ai-yang-bertanggung-jawab\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekitar 200 peserta dari 20 negara mengikuti Global Ethic Forum (GEF) 2026 di Sanur, Bali, pada 20-22 Oktober.(MI\/Arnoldus Dhae) SEKITAR 200 peserta dari 20 negara mengikuti Global Ethic Forum (GEF) 2026 di Sanur, Bali, pada 20-22 Oktober. Forum yang mempertemukan pemimpin, akademisi, pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil itu membahas tata kelola kecerdasan artifisial [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122607,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122606"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122606\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}