{"id":122540,"date":"2026-10-21T23:49:01","date_gmt":"2026-10-21T16:49:01","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/anak-jarang-konsumsi-serat-hati-hati-rentan-terkena-usus-buntu-menurut-penelitian\/"},"modified":"2026-10-21T23:49:01","modified_gmt":"2026-10-21T16:49:01","slug":"anak-jarang-konsumsi-serat-hati-hati-rentan-terkena-usus-buntu-menurut-penelitian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/anak-jarang-konsumsi-serat-hati-hati-rentan-terkena-usus-buntu-menurut-penelitian\/","title":{"rendered":"Anak Jarang Konsumsi Serat Hati-Hati Rentan Terkena Usus Buntu Menurut Penelitian"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792597897_0e36452e786d05fea719.jpeg\" alt=\"Anak Jarang Konsumsi Serat? Hati-Hati Rentan Terkena Usus Buntu Menurut Penelitian\"\/><figcaption>Ilustrasi serat.(Dok. Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEBIASAAN anak yang enggan mengonsumsi sayur dan buah sering kali dianggap sebagai fase pilih-pilih makanan yang lumrah. Namun, bagi para orang tua, hal ini perlu diwaspadai dan tidak boleh dianggap sepele. Di dunia medis, kaitan antara pola makan rendah serat dengan risiko radang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/usus-buntu\" title=\"usus buntu\">usus buntu<\/a> (apendisitis) telah menjadi diskusi panjang yang didukung oleh berbagai temuan ilmiah.<\/p>\n<p>Salah satu studi yang memperkuat korelasi ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik, Medan. Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan rendah serat dengan kasus radang usus buntu pada anak. Mengingat usus buntu merupakan kasus nyeri perut akut yang paling sering ditemukan pada kelompok usia anak-anak, pemahaman mengenai pencegahan melalui nutrisi menjadi sangat krusial.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Mengapa Kurang Serat Memicu Usus Buntu?<\/h2>\n<p>Peradangan pada usus buntu umumnya dipicu oleh adanya sumbatan pada lumen atau saluran apendiks. Tim peneliti menemukan bahwa sepertiga dari kasus usus buntu disebabkan oleh fekalit. Fekalit adalah gumpalan tinja yang mengeras, terdiri dari campuran lemak, garam anorganik, dan sisa-sisa serat yang tidak terurai.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/939383\/bahaya-usus-buntu-tak-ditangani-kenali-risiko-komplikasi-dan-sepsis\" title=\"Bahaya Usus Buntu tak Ditangani, Kenali Risiko Komplikasi dan Sepsis\" target=\"_blank\">Bahaya Usus Buntu tak Ditangani, Kenali Risiko Komplikasi dan Sepsis<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pola makan yang rendah serat diduga kuat menjadi penyebab utama penumpukan fekalit di saluran tersebut. Tanpa serat yang cukup, proses pembuangan sisa makanan menjadi tidak lancar, sehingga sisa kotoran cenderung mengeras dan menyumbat saluran usus buntu, yang kemudian memicu infeksi dan peradangan.<\/p>\n<h2>Analisis Data: Temuan Penelitian RSUP H. Adam Malik<\/h2>\n<p>Penelitian yang dipublikasikan dalam <i>Bali Medical Journal<\/i> ini melibatkan 35 anak penderita apendisitis yang dirawat selama periode Januari hingga Desember 2014. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang mencolok antara anak yang cukup serat dan yang kekurangan serat:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Kelompok Rendah Serat: Dari 19 anak, sebanyak 14 anak (73,7%) mengalami apendisitis akut dan 5 anak (26,3%) mengalami perforasi (usus buntu pecah).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Kelompok Tinggi Serat: Dari 16 anak, hanya 2 anak (12,5%) yang mengalami apendisitis akut, sementara 14 anak (87,5%) tercatat mengalami perforasi dalam konteks studi tersebut.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Uji statistik dari data ini mengonfirmasi adanya hubungan bermakna antara pola makan rendah serat dan kejadian apendisitis pada anak. Peneliti mencatat bahwa usus buntu terjadi pada sekitar 1% anak di bawah usia 15 tahun, dengan puncak kasus berada pada rentang usia 10 hingga 12 tahun.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/935919\/jangan-sepelekan-sakit-perut-ini-gejala-usus-buntu-pada-anak-yang-perlu-diwaspadai-orangtua\" title=\"Jangan Sepelekan Sakit Perut, Ini Gejala Usus Buntu pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua\" target=\"_blank\">Jangan Sepelekan Sakit Perut, Ini Gejala Usus Buntu pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Anak-anak memiliki risiko usus buntu yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Angka perforasi pada anak yang dirawat di rumah sakit dilaporkan mencapai 20% hingga 76%. Hal ini sering diperparah karena anak-anak, terutama yang belum bersekolah, sulit mengomunikasikan rasa nyeri yang mereka rasakan secara akurat.<\/p>\n<h2>Mengenali Gejala Usus Buntu pada Anak<\/h2>\n<p>Orang tua harus peka terhadap perubahan fisik dan perilaku anak. Gejala klasik apendisitis meliputi:<\/p>\n<ol>&#13;<\/p>\n<li>Nyeri Perut: Biasanya dimulai dari area sekitar pusar, kemudian berpindah dan menetap di perut kanan bawah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Gangguan Pencernaan: Kehilangan nafsu makan secara drastis dan sering disertai mual atau muntah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Demam: Suhu tubuh biasanya naik sekitar 1 derajat Celsius dari normal. Jika suhu mencapai di atas 39,4 derajat Celsius, ini sering menjadi indikasi bahwa usus buntu telah pecah atau mengalami gangren (kematian jaringan).<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ol>\n<h2>Kebutuhan Serat Harian Menurut Kemenkes RI<\/h2>\n<p>Untuk mencegah risiko penyumbatan saluran usus buntu, mencukupi kebutuhan serat harian adalah langkah preventif terbaik. Berdasarkan rekomendasi Kementerian Kesehatan RI, berikut adalah target asupan serat harian:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Kelompok Usia<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Kebutuhan Serat Per Hari<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Anak 1-3 Tahun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">16 Gram<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Anak &amp; Remaja<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Naik bertahap hingga 30 Gram<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Dewasa<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">28 &#8211; 35 Gram<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Serat bekerja sebagai pencahar alami dengan cara meningkatkan massa tinja dan menjaganya tetap lunak. Selain asupan serat dari sayur dan buah, pastikan anak mengonsumsi air putih yang cukup dan rutin melakukan olahraga ringan untuk menjaga motilitas (pergerakan) usus tetap optimal.<\/p>\n<p>(H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/947227\/anak-jarang-konsumsi-serat-hati-hati-rentan-terkena-usus-buntu-menurut-penelitian\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi serat.(Dok. Magnific) KEBIASAAN anak yang enggan mengonsumsi sayur dan buah sering kali dianggap sebagai fase pilih-pilih makanan yang lumrah. Namun, bagi para orang tua, hal ini perlu diwaspadai dan tidak boleh dianggap sepele. Di dunia medis, kaitan antara pola makan rendah serat dengan risiko radang usus buntu (apendisitis) telah menjadi diskusi panjang yang didukung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122541,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122540","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122540"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122540\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122541"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}