{"id":122422,"date":"2026-10-21T18:40:53","date_gmt":"2026-10-21T11:40:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/radius-bahaya-gunung-lewotolok-diperluas-3-kilometer-di-selatan-tenggara\/"},"modified":"2026-10-21T18:40:53","modified_gmt":"2026-10-21T11:40:53","slug":"radius-bahaya-gunung-lewotolok-diperluas-3-kilometer-di-selatan-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/radius-bahaya-gunung-lewotolok-diperluas-3-kilometer-di-selatan-tenggara\/","title":{"rendered":"Radius Bahaya Gunung Lewotolok Diperluas 3 Kilometer di Selatan-Tenggara"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792582442_1d224b853c8896cee1df.jpg\" alt=\"Radius Bahaya Gunung Lewotolok Diperluas 3 Kilometer di Selatan-Tenggara\"\/><figcaption>Foto Visual Gunung Ili Lewotolok, 19 Oktober 2026 malam(Dok.Magma Indonesia)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>AKTIVITAS erupsi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gunung-ile-lewotolok\" title=\"Gunung Ile Lewotolok\">Gunung Ile Lewotolok<\/a> di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ntt\" title=\"NTT\">NTT<\/a>), menurun pada awal Oktober 2026. Namun, Badan Geologi kemudian memperluas radius rekomendasi bahaya dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer di sektor selatan dan tenggara, menyusul peningkatan aktivitas vulkanik setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026. Status gunung api tersebut tetap Level II (Waspada). \u00a0<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kepala-badan-geologi\" title=\"Kepala Badan Geologi\">Kepala Badan Geologi<\/a> Lana Saria, dalam laporan evaluasi aktivitas Gunung Ile Lewotolok periode 1-15 Oktober 2026 yang dirilis, Rabu (21\/10). menyebutkan\u00a0penurunan aktivitas visual belum cukup menjadi dasar untuk mengurangi kewaspadaan.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Rekaman kegempaan masih menunjukkan aktivitas erupsi yang dominan, sementara selama periode evaluasi, mencatat 1.234 kali gempa erupsi, 2.014 kali gempa hembusan, 39 kali gempa guguran, 34 kali tremor nonharmonik, enam kali gempa vulkanik dalam, empat kali gempa tektonik lokal, dan 47 kali gempa tektonik jauh.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/938733\/pvmbg-larang-aktivitas-wisatawan-radius-2-km-dari-gunung-ile-lewotolok\" title=\"PVMBG Larang Aktivitas Wisatawan Radius 2 Km dari Gunung Ile Lewotolok\" target=\"_blank\">PVMBG Larang Aktivitas Wisatawan Radius 2 Km dari Gunung Ile Lewotolok<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut Lana, kolom erupsi masih mencapai 600 meter di atas puncak, sedangkan asap hembusan mencapai 300 meter. Erupsi terkadang disertai suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang. Kondisi ini menunjukkan aktivitas vulkanik masih berlangsung meskipun aktivitas erupsi dan hembusan secara visual mengalami penurunan.<\/p>\n<p>\u201cBerdasarkan data pemantauan visual dan instrumental, Gunung Ili Lewotolok menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, terutama aktivitas aliran lava,\u201d katanya. \u00a0<\/p>\n<p>Selain itu, enam kali gempa vulkanik dalam tercatat selama evaluasi Oktober. Ini, kata Lana, mengindikasikan proses peretakan batuan akibat suplai magma. Deformasi gunung juga masih menunjukkan pola pengempisan dan penggembungan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/908967\/aktivitas-vulkanik-gunung-ile-lewotolok-meningkat-frekuensi-erupsi-dan-dentuman-bertambah\" title=\"Aktivitas Vulkanik Gunung Ile Lewotolok Meningkat, Frekuensi Erupsi dan Dentuman Bertambah\" target=\"_blank\">Aktivitas Vulkanik Gunung Ile Lewotolok Meningkat, Frekuensi Erupsi dan Dentuman Bertambah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurutnya, guguran lava teramati meluncur hingga 700 meter ke tenggara, sedangkan aliran lava sebelumnya mencapai 1.800 meter ke selatan dan 1.100 meter ke timur laut dari bibir kawah. Potensi guguran lava dan awan panas tetap perlu diwaspadai, terutama di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut.<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nDia menegaskan, penurunan aktivitas visual belum menghilangkan potensi bahaya sehingga masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan.\u00a0<\/p>\n<p>Sementara itu, pada Selasa (20\/10), Gunung Ili Lewotolok tercatat erupsi sebanyak 88 kali ldengan kolom asap putih dan kelabu setinggi 300-400 meter serta 108 kali gempa hembusan. \u00a0Asap kawah teramati setinggi 100-200 meter, api diam terlihat di puncak, dan aliran lava menjulur sekitar 600 meter ke sektor tenggara. (H-4)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/947087\/radius-bahaya-gunung-lewotolok-diperluas-3-kilometer-di-selatan-tenggara\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto Visual Gunung Ili Lewotolok, 19 Oktober 2026 malam(Dok.Magma Indonesia) AKTIVITAS erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menurun pada awal Oktober 2026. Namun, Badan Geologi kemudian memperluas radius rekomendasi bahaya dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer di sektor selatan dan tenggara, menyusul peningkatan aktivitas vulkanik setelah gempa bermagnitudo 7,7 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122423,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122422","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122422","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122422"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122422\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122423"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122422"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122422"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122422"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}