{"id":122368,"date":"2026-10-21T16:22:57","date_gmt":"2026-10-21T09:22:57","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/wapres-gibran-tanggapi-namanya-masuk-4-besar-capres\/"},"modified":"2026-10-21T16:22:57","modified_gmt":"2026-10-21T09:22:57","slug":"wapres-gibran-tanggapi-namanya-masuk-4-besar-capres","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/wapres-gibran-tanggapi-namanya-masuk-4-besar-capres\/","title":{"rendered":"Wapres Gibran Tanggapi Namanya Masuk 4 Besar Capres"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792574150_0b9c903e056aa1727eea.png\" alt=\"Wapres Gibran Tanggapi Namanya Masuk 4 Besar Capres \"\/><figcaption>Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan).(MI\/Usman Iskandar)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DIREKTUR Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai posisi Gibran dalam jajaran teratas di berbagai survei tidak terlepas dari tingkat popularitasnya yang telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam beberapa survey, Gibran berada di bawah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/prabowo-subianto\" title=\"Prabowo Subianto\">Prabowo Subianto<\/a>, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/dedi-mulyadi\" title=\"Dedi Mulyadi\">Dedi Mulyadi<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anies-baswedan\" title=\"Anies Baswedan\">Anies Baswedan<\/a>, serta mengungguli sejumlah figur nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).<\/p>\n<p>\u201cKita tahu popularitas Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90%. Dibandingkan dengan yang lain masih 80\u201370%, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,\u201d ujar Adi dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (21\/10).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Menurut Adi, tingkat pengenalan publik merupakan salah satu faktor penting dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/944816\/mahfud-md-ungguli-30-tokoh-dalam-survei-kualitas-kepemimpinan-smrc\" title=\"Mahfud MD Ungguli 30 Tokoh dalam Survei Kualitas Kepemimpinan SMRC\" target=\"_blank\">Mahfud MD Ungguli 30 Tokoh dalam Survei Kualitas Kepemimpinan SMRC<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Figur yang telah dikenal secara luas cenderung lebih mudah disebut oleh responden dibandingkan tokoh politik lainnya yang tingkat popularitasnya belum merata.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa nama Gibran masih muncul dalam jajaran teratas survei, meskipun dirinya terus menghadapi berbagai kritik politik.<\/p>\n<p>Adi mengakui bahwa intensitas serangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah figur politik lainnya. Namun, menurutnya, fenomena tersebut bukan merupakan hal baru.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/944717\/smrc-skor-kepemimpinan-anies-ahok-lebih-tinggi-dari-prabowo-gibran\" title=\"SMRC: Skor Kepemimpinan Anies-Ahok Lebih Tinggi dari Prabowo-Gibran\" target=\"_blank\">SMRC: Skor Kepemimpinan Anies-Ahok Lebih Tinggi dari Prabowo-Gibran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cYa, kalau serangan memang kelihatan fokus ke Gibran itu bukan perkara aneh, ya. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Adi mengingatkan bahwa tingginya popularitas seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan dalam survei. Ia menilai bahwa meskipun tingkat pengenalan terhadap Gibran telah melampaui 90%, angka elektabilitas yang diperoleh menunjukkan masih adanya tantangan untuk mengonversi popularitas menjadi dukungan politik.<\/p>\n<p>\u201cJadi wajar kalau kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi, lima besar, ya artinya apa? Bahwa yang tahu terhadap Wapres itu ya ternyata tidak dominan yang milih, kira-kira begitu,\u201d jelas Adi.<\/p>\n<p>Menurutnya, berbagai isu dan sentimen politik yang berkembang, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat.<\/p>\n<p>Seperti diberitakan sebelumnya bahwa, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menempati posisi empat besar dalam survei elektabilitas calon presiden (capres) di tengah berbagai kritik dan polemik politik yang terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.<\/p>\n<p>Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada Minggu (18\/10) menempatkan Gibran di urutan keempat dengan elektabilitas 6,9% dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.<\/p>\n<p>Hasil serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu (17\/10). Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4% dan menempati urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei tersebut dilakukan pada 1\u201310 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. (Fal)<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/wapres-gibran\" title=\"Wapres Gibran\">Wapres Gibran<\/a> Tetap Empat Besar dalam Survei Capres meski Diterpa Banyak Kritik<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai posisi Gibran dalam jajaran teratas di berbagai survei tidak terlepas dari tingkat popularitasnya yang telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p>Dalam beberapa survey, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah figur nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).<\/p>\n<p>\u201cKita tahu popularitas Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90%. Dibandingkan dengan yang lain masih 80\u201370%, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,\u201d ujar Adi dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (21\/10).<\/p>\n<p>Menurut Adi, tingkat pengenalan publik merupakan salah satu faktor penting dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan.<\/p>\n<p>Figur yang telah dikenal secara luas cenderung lebih mudah disebut oleh responden dibandingkan tokoh politik lainnya yang tingkat popularitasnya belum merata.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa nama Gibran masih muncul dalam jajaran teratas survei, meskipun dirinya terus menghadapi berbagai kritik politik.<\/p>\n<p>Adi mengakui bahwa intensitas serangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah figur politik lainnya. Namun, menurutnya, fenomena tersebut bukan merupakan hal baru.<\/p>\n<p>\u201cYa, kalau serangan memang kelihatan fokus ke Gibran itu bukan perkara aneh, ya. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Adi mengingatkan bahwa tingginya popularitas seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan dalam survei. Ia menilai bahwa meskipun tingkat pengenalan terhadap Gibran telah melampaui 90%, angka elektabilitas yang diperoleh menunjukkan masih adanya tantangan untuk mengonversi popularitas menjadi dukungan politik.<\/p>\n<p>\u201cJadi wajar kalau kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi, lima besar, ya artinya apa? Bahwa yang tahu terhadap Wapres itu ya ternyata tidak dominan yang milih, kira-kira begitu,\u201d jelas Adi.<\/p>\n<p>Menurutnya, berbagai isu dan sentimen politik yang berkembang, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat.<\/p>\n<p>Seperti diberitakan sebelumnya bahwa, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menempati posisi empat besar dalam survei elektabilitas calon presiden (capres) di tengah berbagai kritik dan polemik politik yang terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.<\/p>\n<p>Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis pada Minggu (18\/10) menempatkan Gibran di urutan keempat dengan elektabilitas 6,9% dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.<\/p>\n<p>Hasil serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu (17\/10). Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4% dan menempati urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei tersebut dilakukan pada 1\u201310 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. (Fal\/P-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/946981\/wapres-gibran-tanggapi-namanya-masuk-4-besar-capres-\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan).(MI\/Usman Iskandar) DIREKTUR Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai posisi Gibran dalam jajaran teratas di berbagai survei tidak terlepas dari tingkat popularitasnya yang telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam beberapa survey, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah figur nasional lainnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122369,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122368"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122368\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}