{"id":122254,"date":"2026-10-21T11:32:53","date_gmt":"2026-10-21T04:32:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/mirip-gaya-goth-nasa-ungkap-rahasia-bintang-gagal-bintang-katai-cokelat\/"},"modified":"2026-10-21T11:32:53","modified_gmt":"2026-10-21T04:32:53","slug":"mirip-gaya-goth-nasa-ungkap-rahasia-bintang-gagal-bintang-katai-cokelat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/mirip-gaya-goth-nasa-ungkap-rahasia-bintang-gagal-bintang-katai-cokelat\/","title":{"rendered":"Mirip Gaya Goth, NASA Ungkap Rahasia Bintang Gagal Bintang Katai Cokelat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792537715_e0b08d9e97fd0794be24.jpg\" alt=\"Mirip Gaya Goth, NASA Ungkap Rahasia Bintang Gagal Bintang Katai Cokelat\"\/><figcaption>Ilustrasi beberapa bintang katai cokelat yang gagal terbentuk.(Robert Lea)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENGGUNAKAN data dari wahana antariksa SPHEREx milik NASA, para astronom berhasil mengamati secara dekat jajaran objek langit misterius yang dikenal sebagai &#8220;<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bintang-gagal\" title=\"bintang gagal\">bintang gagal<\/a>&#8221; atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/katai-cokelat\" title=\"katai cokelat\">katai cokelat<\/a> (brown dwarfs). Objek antariksa ini memiliki karakteristik unik karena berada di batas antara planet dan bintang.<\/p>\n<p>Katai cokelat memiliki massa berkisar antara 13 hingga 80 kali massa Jupiter. Objek ini juluki bintang gagal karena terbentuk dari gumpalan gas dan debu yang runtuh seperti proses pembentukan bintang, namun gagal mengumpulkan cukup massa untuk memicu fusi nuklir hidrogen menjadi helium di intinya. Tanpa fusi nuklir tersebut, katai cokelat tidak mampu memancarkan cahaya terang seperti bintang pada umumnya, melainkan hanya menyisakan pendaran redup.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Kondisi tersebut menjadikan katai cokelat sebagai pengembara independen yang mengarungi kegelapan ruang angkasa tanpa mengorbit bintang induk. Karakteristik ini membuat tim peneliti mengibaratkan sifat fisik katai cokelat mirip dengan estetika &#8220;goth&#8221; yang identik dengan warna gelap dan kesendirian.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/945799\/mengintip-permukaan-komet-67p-secara-3d-dalam-foto-astronomi-terbaru-nasa\" title=\"Mengintip Permukaan Komet 67P Secara 3D dalam Foto Astronomi Terbaru NASA\" target=\"_blank\">Mengintip Permukaan Komet 67P Secara 3D dalam Foto Astronomi Terbaru NASA<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Mereka semacam goth,&#8221; ujar Zafar Rustamkulov dari California Institute of Technology (Caltech) selaku pemimpin studi tersebut. &#8220;Tidak seperti eksoplanet, katai cokelat yang mengambang bebas adalah objek langit yang sepenuhnya independen dan akan memudar ke dalam keabadian secara sendirian. Kami masih mempelajari seberapa kompleks mereka.&#8221;<\/p>\n<p>Rustamkulov menambahkan bahwa dari orbit Bumi, teleskop SPHEREx (Spectro-Photometer for the History of the Universe, Epoch of Reionization, and Ices Explorer) mampu menangkap panjang gelombang cahaya yang hampir mustahil terlihat oleh teleskop berbasis darat akibat terhalang uap air di atmosfer Bumi. &#8220;Kami menangkap cahaya dari awan merah yang dalam milik katai cokelat di seluruh penjuru langit,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p>Dalam penelitian yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal pada 28 September, tim astronom menganalisis 37 katai cokelat terdekat menggunakan 102 panjang gelombang cahaya, mulai dari spektrum merah terdalam hingga sinar inframerah. Rentang suhu objek yang diteliti bervariasi dari 2.200 derajat Celsius hingga minus 20 derajat Celsius, jauh lebih dingin dibandingkan suhu permukaan Matahari yang mencapai sekitar 5.500 derajat Celsius.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/945780\/pertama-kali-dalam-sejarah-ilmuwan-temukan-bintang-berwarna-hijau\" title=\"Pertama Kali dalam Sejarah, Ilmuwan Temukan Bintang Berwarna Hijau\" target=\"_blank\">Pertama Kali dalam Sejarah, Ilmuwan Temukan Bintang Berwarna Hijau<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hasil pengamatan menunjukkan atmosfer katai cokelat kaya akan molekul kimia seperti air, karbondioksida, karbonmonoksida, dan metana.<\/p>\n<p>&#8220;Kami melihat jejak molekul-molekul ini dan bagaimana mereka berubah dari satu objek ke objek lainnya di seluruh rentang suhu,&#8221; jelas anggota tim peneliti, J. Davy Kirkpatrick dari Caltech. &#8220;Makalah kami berfokus pada tiga lusin objek, tetapi kami memiliki ribuan lainnya yang sedang dalam proses analisis. Saya benar-benar ingin melihat batasan apa yang ditetapkan alam semesta pada variasi katai cokelat.&#8221;<\/p>\n<p>Pengamatan SPHEREx juga menyingkap bahwa beberapa katai cokelat sedang mengalami fase transisi ekstrem di mana lapisan awannya mulai bersih dan membentuk atmosfer yang kaya akan metana. Namun, fenomena ini menghadirkan tantangan baru bagi pemodelan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/astronomi\" title=\"Astronomi\">astronomi<\/a> yang ada saat ini.<\/p>\n<p>&#8220;Model-model mutakhir berhasil menangkap tren kimia umum, tetapi ketika menyangkut transisi berawan ini, model-model tersebut kesulitan mencocokkan data,&#8221; tutur Rustamkulov. &#8220;Tidak ada dua katai cokelat yang identik. Bahkan pada suhu yang sama, spektrum mereka terlihat sangat berbeda.&#8221;<\/p>\n<p>Keragaman dan perubahan dinamis pada atmosfer katai cokelat ini mendorong para astronom untuk terus melakukan eksplorasi mendalam.<\/p>\n<p>&#8220;Perjalanan ini telah mengubah banyak dari kami menjadi ahli meteorologi dadakan. Kami tahu betapa sulitnya memprediksi cuaca di planet kita sendiri, dan kami menyadari akan sama menantangnya untuk menjelaskan fenomena yang kita lihat pada objek-objek dingin yang aneh ini,&#8221; pungkas Kirkpatrick. &#8220;Temuan ini merupakan panggilan bertindak untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi dunia-dunia gelap ini.&#8221; (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/946790\/mirip-gaya-goth-nasa-ungkap-rahasia-bintang-gagal-bintang-katai-cokelat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi beberapa bintang katai cokelat yang gagal terbentuk.(Robert Lea) MENGGUNAKAN data dari wahana antariksa SPHEREx milik NASA, para astronom berhasil mengamati secara dekat jajaran objek langit misterius yang dikenal sebagai &#8220;bintang gagal&#8221; atau katai cokelat (brown dwarfs). Objek antariksa ini memiliki karakteristik unik karena berada di batas antara planet dan bintang. Katai cokelat memiliki massa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122255,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122254","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122254","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122254"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122254\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122255"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122254"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122254"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122254"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}