{"id":122244,"date":"2026-10-21T11:08:26","date_gmt":"2026-10-21T04:08:26","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/tak-hanya-melata-ular-kerdil-ini-bisa-menggelinding-saat-terancam\/"},"modified":"2026-10-21T11:08:26","modified_gmt":"2026-10-21T04:08:26","slug":"tak-hanya-melata-ular-kerdil-ini-bisa-menggelinding-saat-terancam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/tak-hanya-melata-ular-kerdil-ini-bisa-menggelinding-saat-terancam\/","title":{"rendered":"Tak Hanya Melata, Ular Kerdil Ini Bisa Menggelinding Saat Terancam"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/21\/1792555395_800319823e271505debe.jpg\" alt=\"\u200b Tak Hanya Melata, Ular Kerdil Ini Bisa Menggelinding Saat Terancam \"\/><figcaption>\u200b Tak Hanya Melata, Ular Kerdil Ini Bisa Menggelinding Saat Terancam( phys.org)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ular\" title=\"ular\">ULAR<\/a>\u00a0umumnya bergerak dengan meliukkan tubuh dari satu sisi ke sisi lainnya secara horizontal. Namun, temuan terbaru mengungkap perilaku unik dari kelompok <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ular-kerdil\" title=\"ular kerdil\">ular kerdil<\/a> asal Asia Tenggara. Ketika menghadapi ancaman, ular dari genus Pseudorabdion dapat menggelinding dengan kecepatan hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan gerakan merayap biasanya.<\/p>\n<p>Kemampuan tersebut diteliti secara mendalam oleh tim ilmuwan yang dipimpin Yosuke Kojima dari Toho University, Jepang. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal <em>Current Biology<\/em> edisi Oktober 2026 itu mengungkap bagaimana ular mempertahankan arah gerak dan posisi kepala ketika bagian belakang tubuhnya berputar secara beruntun dengan cepat.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan menggelinding ini bukan sekadar manuver berputar acak, melainkan rangkaian gerakan terkoordinasi yang presisi untuk menghasilkan dorongan sekaligus menjaga stabilitas arah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/945526\/fosil-vasuki-indicus-ungkap-ular-purba-yang-diperkirakan-capai-15-meter-\" title=\"Fosil Vasuki Indicus Ungkap Ular Purba yang Diperkirakan Capai 15 Meter \" target=\"_blank\">Fosil Vasuki Indicus Ungkap Ular Purba yang Diperkirakan Capai 15 Meter <\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Kecepatan Menggelinding Empat Kali Lebih Tinggi\u00a0<\/h2>\n<p>Dalam penelitian tersebut, para ahli menganalisis rekaman video ular kerdil yang bergerak dari berbagai sudut guna mengamati pergerakan tubuh, posisi kepala, serta perubahan arah secara mendetail.<\/p>\n<p>Beberapa temuan kunci dari pengamatan tersebut meliputi:<\/p>\n<ol>&#13;<\/p>\n<li>Kecepatan Puncak: Gerakan menggelinding mencapai kecepatan 1,72 hingga 3,69 meter per detik. Angka ini sekitar empat kali lipat dari kecepatan puncak gerakan meliuk ke samping (<em>lateral undulation<\/em>).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Presisi Navigasi: Meskipun bergerak sangat cepat, ular mampu melintasi jalur sempit selebar 20 sentimeter tanpa kehilangan kendali atau keluar dari lintasan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Subjek Penelitian: Eksperimen melibatkan 13 ekor ular kerdil dari tiga spesies di Kalimantan serta enam ekor ular kerabat dekat sebagai kelompok pembanding. Seluruh ular kerdil menunjukkan perilaku menggelinding, sedangkan kelompok pembanding tidak.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ol>\n<p>Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa temuan ini belum membuktikan bahwa seluruh spesies dalam genus Pseudorabdion selalu menggunakan cara bergerak yang sama dalam setiap kondisi ancaman.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/921002\/tim-sar-evakuasi-jenazah-perempuan-terlilit-ular-kobra-di-sumur-tua-tasikmalaya\" title=\"Tim SAR Evakuasi Jenazah Perempuan Terlilit Ular Kobra di Sumur Tua Tasikmalaya\" target=\"_blank\">Tim SAR Evakuasi Jenazah Perempuan Terlilit Ular Kobra di Sumur Tua Tasikmalaya<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Mekanisme Biomekanika Gerakan Menggelinding\u00a0<\/h2>\n<p>Berbeda dari roda yang berputar pada poros, tubuh ular tidak memiliki sumbu mekanis untuk menjaga putaran tetap stabil. Hal ini membuat manuver menggelinding menjadi tantangan biomekanika tersendiri bagi hewan tanpa tungkai.<\/p>\n<p>Rekaman video menangkap bahwa ular tidak memutar seluruh tubuhnya secara bersamaan. Sebaliknya, ular menggerakkan bagian tubuh melalui serangkaian gerakan bergantian:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Pada setiap siklus, salah satu sisi tubuh bersentuhan dengan permukaan tanah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Bagian tubuh yang melengkung kemudian bergerak melewati sisi kepala dan kembali menyentuh permukaan untuk menghasilkan dorongan ke depan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Siklus berikutnya dilakukan dengan arah gerakan bergantian.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Pengulangan rangkaian terkoordinasi inilah yang memungkinkan ular terus menggelinding secara aktif di tanah datar tanpa harus mengandalkan kemiringan lereng atau gravitasi.<\/p>\n<h2>Kepala Tetap Menghadap ke Depan<\/h2>\n<p>Salah satu temuan paling krusial dalam penelitian ini adalah kemampuan ular mempertahankan posisi kepala ketika bagian belakang tubuhnya berputar cepat.<\/p>\n<p>Selama proses menggelinding, kepala ular tetap mengarah lurus ke depan mengikuti jalur pergerakan dengan posisi vertikal yang sangat stabil. Sementara itu, bagian tubuh belakang mengalami rotasi ekstrem untuk menghasilkan gaya dorong.<\/p>\n<p>Perbedaan gerakan antara bagian kepala dan tubuh belakang diduga kuat berkaitan dengan kendali navigasi. Mekanisme ini memungkinkan ular bergerak secepat kilat tanpa kehilangan pandangan terhadap area di depannya.<\/p>\n<h2>Strategi Efektif Menghindari Predasi\u00a0<\/h2>\n<p>Fenomena unik ini sebenarnya mulai terdokumentasi pada 2023 lewat laporan ilmiah di jurnal <em>Biotropica<\/em> yang mengamati spesies <em>Pseudorabdion longiceps<\/em>. Saat terganggu, ular ini melengkungkan tubuh, mendorong dirinya dari tanah, lalu berguling (<em>cartwheeling<\/em>) untuk menjauh dari lokasi bahaya.<\/p>\n<p>Penelitian terbaru dari Toho University memperluas pemahaman tersebut dengan membedah aspek biomekanikanya. Gerakan menggelinding berkecepatan tinggi ini diyakini menjadi mekanisme pertahanan diri yang efektif untuk mengejutkan predator sekaligus melarikan diri secara instan.<\/p>\n<p>Para peneliti berencana melakukan studi lanjutan di habitat alami untuk mengamati bagaimana ular kerdil ini memanfaatkan kemampuan menggelindingnya saat melewati serasah daun, vegetasi padat, atau ketika berhadapan langsung dengan predator alami.<\/p>\n<p>(cell\/phys\/P-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/946873\/-tak-hanya-melata-ular-kerdil-ini-bisa-menggelinding-saat-terancam-\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200b Tak Hanya Melata, Ular Kerdil Ini Bisa Menggelinding Saat Terancam( phys.org) ULAR\u00a0umumnya bergerak dengan meliukkan tubuh dari satu sisi ke sisi lainnya secara horizontal. Namun, temuan terbaru mengungkap perilaku unik dari kelompok ular kerdil asal Asia Tenggara. Ketika menghadapi ancaman, ular dari genus Pseudorabdion dapat menggelinding dengan kecepatan hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122245,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122244","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122244","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122244"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122244\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122244"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122244"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122244"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}