{"id":122045,"date":"2026-10-21T02:23:00","date_gmt":"2026-10-20T19:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/2026-asia-pasific-regional-learning-forum-dorong-aksi-kolektif-pengembangan-anak-usia-dini\/"},"modified":"2026-10-21T02:23:00","modified_gmt":"2026-10-20T19:23:00","slug":"2026-asia-pasific-regional-learning-forum-dorong-aksi-kolektif-pengembangan-anak-usia-dini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/21\/2026-asia-pasific-regional-learning-forum-dorong-aksi-kolektif-pengembangan-anak-usia-dini\/","title":{"rendered":"2026 Asia-Pasific Regional Learning Forum Dorong Aksi Kolektif Pengembangan Anak Usia Dini"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/20\/1792509297_54db568ff8ccabee5465.jpeg\" alt=\"2026 Asia-Pasific Regional Learning Forum Dorong Aksi Kolektif Pengembangan Anak Usia Dini\u00a0\"\/><figcaption>Kiri ke kanan_ Head of Policy &amp; Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry; Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany;  Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago, ARNEC; Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Dr. Irma Yuliantina; Head of ECED Tanoto Foundation(Dok. Tanoto Foundation)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEKITAR 150 perwakilan pemerintah, pakar pengembangan anak usia dini, peneliti, praktisi, mitra pembangunan, dan organisasi filantropi dari seluruh kawasan Asia-Pasifik berkumpul di Jakarta dalam kegiatan 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development, yang berlangsung pada 20 hingga 22 Oktober.<\/p>\n<p>Forum ini diselenggarakan oleh Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kemendikdasmen\" title=\"kemendikdasmen\">Kemendikdasmen<\/a>), <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tanoto-foundation\" title=\"Tanoto Foundation\">Tanoto Foundation<\/a>, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), serta Koalisi Nasional <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/paud\" title=\"PAUD\">PAUD<\/a>-HI.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Mengusung tema \u201cFrom Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific\u201d, kegiatan ini mempertemukan perwakilan dari Indonesia dan 15 negara lainnya, yaitu Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/921097\/wamen-fajar-paud-bukan-lagi-suplemen-tapi-fondasi-pendidikan-nasional\" target=\"_blank\" title=\"Wamen Fajar: PAUD bukan lagi Suplemen, tapi Fondasi Pendidikan Nasional\">Wamen Fajar: PAUD bukan lagi Suplemen, tapi Fondasi Pendidikan Nasional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pertemuan ini mendorong dialog dan kolaborasi regional untuk memperkuat sistem pengembangan anak usia dini melalui pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, dan perumusan langkah-langkah konkret.\u00a0<\/p>\n<p>Diskusi berfokus pada dua prioritas utama, yaitu penguatan sistem pengembangan anak usia dini yang responsif terhadap perubahan iklim serta mobilisasi pendanaan yang memadai, adil, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Kedua prioritas ini menjadi landasan penting untuk memastikan setiap anak memperoleh akses terhadap layanan pengasuhan dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan-anak-usia-dini\" title=\"pendidikan anak usia dini\">pendidikan anak usia dini<\/a> yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/721164\/abdul-muti-ini-makna-sejati-pendidikan-anak-usia-dini\" target=\"_blank\" title=\"Abdul Mu\u2019ti: Ini Makna Sejati Pendidikan Anak Usia Dini\">Abdul Mu\u2019ti: Ini Makna Sejati Pendidikan Anak Usia Dini<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dalam sambutannya pada pembukaan Forum, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Suharti menyampaikan Kementerian sedang berupaya membangun koalisi yang kuat untuk anak-anak Indonesia.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSalah satu inisiatif kebijakan utama yang saat ini sedang dikembangkan adalah penerapan wajib belajar satu tahun pendidikan anak usia dini (PAUD), yang selaras dengan prioritas nasional Wajib Belajar 13 Tahun. Program prioritas kementerian juga mencakup revitalisasi sekolah dan satuan PAUD untuk memastikan tersedianya lingkungan belajar yang aman dan memadai, serta perluasan Program Indonesia Pintar (PIP) agar dapat menjangkau anak-anak di tingkat prasekolah,\u201d kata Suharti.<\/p>\n<p>Sementara itu, \u00a0Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago, menegaskan bahwa Kawasan Asia-Pasifik sangat rentan terhadap perubahan iklim. \u201cNegara-negara di kawasan ini secara konsisten menempati peringkat teratas dalam Climate Risk Index. Sejak 2019, ARNEC telah menyuarakan kesadaran tentang dampak perubahan iklim terhadap anak usia dini, dan Regional Learning Forum ini merupakan bagian dari advokasi jangka panjang tersebut,\u201d sebut Evelyn.<\/p>\n<p>\u201cDengan mempertemukan pemerintah nasional, peneliti, mitra pembangunan, lembaga filantropi, guru, dan praktisi pengembangan anak usia dini, kami berharap dapat mengubah pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki menjadi aksi kolektif yang lebih kuat untuk membangun sistem pengembangan anak usia dini yang tangguh, responsif terhadap iklim, dan didukung dengan pendanaan berkelanjutan,\u201d ujar Evelyn.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" height=\"500\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/content\/2026\/10\/20\/1792509268_025620855ce39574cb6d.jpeg\" width=\"750\"\/><\/p>\n<h2>Fokus Iklim dan Pendanaan Berkelanjutan<\/h2>\n<p>Selama tiga hari, Forum ini membahas berbagai aspek penguatan sistem pengembangan anak usia dini. Hari pertama berfokus pada pengembangan PAUD yang responsif terhadap iklim dan upaya melindungi anak dari risiko terkait iklim, termasuk melalui layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.\u00a0<\/p>\n<p>Hari kedua membahas pendanaan berkelanjutan, khususnya strategi untuk mempertahankan dan memperkuat investasi pada anak usia dini, serta pertukaran pengalaman antara perwakilan pemerintah dalam memobilisasi dan memanfaatkan sumber daya secara efektif.\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nKemudian, hari ketiga mengangkat isu masa depan pendidikan anak usia dini melalui diskusi tentang kecerdasan buatan dan teknologi digital, serta pentingnya memberikan ruang bagi suara dan perspektif anak. \u00a0<\/p>\n<p>Forum ini juga akan mengangkat kampanye Act for Early Years, sebuah gerakan global yang menyerukan akses terhadap layanan pengembangan anak usia dini, pengasuhan, dan pendidikan prasekolah yang berkualitas bagi semua anak perempuan dan laki-laki. Melalui kampanye ini, Forum turut mendorong para peserta untuk menandatangani \u2018Minifesto\u2019, sebuah seruan untuk meningkatkan perhatian dan investasi dalam pengembangan anak usia dini. Dukungan dari pejabat pemerintah dan peserta Forum akan dikonfirmasi setelah sesi terkait berlangsung.<\/p>\n<p>Pada kesempatan yang sama, Head of Policy &amp; Advocacy, Tanoto Foundation, Eddy Henry mengatakan bahwa investasi pada anak usia dini memerlukan kolaborasi yang berkelanjutan. \u201cFilantropi dapat melengkapi upaya pemerintah dengan mendukung penyediaan bukti, inovasi, dan kapasitas kelembagaan yang diperlukan untuk menerjemahkan pendekatan yang terbukti efektif menjadi perbaikan yang berkelanjutan. Kami menyambut baik kesempatan untuk belajar bersama pemerintah dan para mitra di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/asia-pasifik\" title=\"Asia Pasifik\">Asia Pasifik<\/a> dalam forum ini,\u201d ujar Eddy Henry.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" height=\"483\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/content\/2026\/10\/20\/1792509291_fd1b0456030895cc6d64.jpeg\" width=\"644\"\/><\/p>\n<h2>Investasi Masa Depan dan Strategi 2026\u20132030<\/h2>\n<p>Sementara, Widyaprada Ahli Utama Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Harris Iskandar menyoroti pentingnya pendanaan yang berkelanjutan dan tanggung jawab bersama. \u201cMemastikan akses yang merata terhadap pendidikan anak usia dini yang berkualitas membutuhkan pendanaan berkelanjutan dan tanggung jawab bersama. Pendanaan untuk anak usia dini seharusnya dilihat bukan sebagai sebuah pengeluaran tapi sebagai sebuah investasi bagi suatu negara,\u201d ujar Harris.<\/p>\n<p>Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany, pada forum ini juga memaparkan sejumlah prioritas untuk memperkuat sistem pengasuhan dan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Asia Tenggara. Prioritas tersebut mencerminkan kontribusi SEAMEO CECCEP dalam mendorong implementasi \u2018ASEAN\u2013SEAMEO Joint Roadmap on ECCE\u2019 melalui penelitian dan pengembangan, penguatan kapasitas, serta kemitraan regional.\u00a0<\/p>\n<p>Memperkuat sistem pengasuhan dan pendidikan anak usia dini tidak hanya membutuhkan peningkatan kualitas layanan, tetapi juga penyelesaian tantangan struktural yang mempengaruhi keberlanjutan dan pemerataan akses. Pendanaan perlu didukung oleh kerangka hukum yang kuat, menjangkau anak-anak dan masyarakat secara merata, serta berkelanjutan tanpa bergantung pada dukungan donor jangka pendek.<\/p>\n<p>\u201cPada saat yang sama, isu perubahan iklim perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan anak usia dini melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga mereka dapat memahami tantangan lingkungan dan upaya pencegahannya,\u201d jelas Prof. Vina.<\/p>\n<p>Menyoroti keterkaitan kedua isu tersebut, \u00a0Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Irma Yuliantina, mengatakan bahwa seiring meningkatnya risiko terkait iklim, sistem PAUD yang didanai secara memadai dan tangguh menjadi semakin penting untuk memastikan layanan esensial bagi anak usia dini tetap berjalan sebelum, selama, dan setelah krisis. \u201cOleh karena itu, penguatan investasi di bidang PAUD sangat penting bukan hanya bagi perkembangan dan kesejahteraan anak, tetapi juga untuk membangun sistem yang mampu melindungi anak usia dini dengan lebih baik di tengah perubahan iklim,\u201d ungkap Irma.<\/p>\n<p>Dalam Forum ini, ARNEC juga meluncurkan strategi baru untuk periode 2026\u20132030 yang disusun dengan konsultasi bersama mitra di tingkat global, regional, dan nasional. Strategi ini akan menjadi panduan bagi ARNEC dalam bekerja sama dengan komunitas pengembangan anak usia dini di kawasan Asia-Pasifik.<\/p>\n<p>\u201cNegara-negara di kawasan Asia-Pasifik berada pada titik krusial dan tidak bisa terus mengandalkan pendekatan yang sama seperti sebelumnya. Melalui pembelajaran bersama, dialog, dan kemitraan, ARNEC bersama para mitranya ingin mendorong aksi nyata yang terkoordinasi agar semakin banyak anak usia dini di kawasan ini dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,\u201d tutup Evelyn Santiago. (H-3)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/946721\/2026-asia-pasific-regional-learning-forum-dorong-aksi-kolektif-pengembangan-anak-usia-dini\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kiri ke kanan_ Head of Policy &amp; Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry; Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany; Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago, ARNEC; Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Dr. Irma Yuliantina; Head of ECED Tanoto Foundation(Dok. Tanoto Foundation) SEKITAR 150 perwakilan pemerintah, pakar pengembangan anak usia dini, peneliti, praktisi, mitra pembangunan, dan organisasi filantropi dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":122046,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-122045","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122045","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122045"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122045\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122045"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122045"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122045"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}