{"id":121789,"date":"2026-10-20T15:15:01","date_gmt":"2026-10-20T08:15:01","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/20\/kompolnas-desak-proses-pidana-kasus-polisi-tembak-polisi-di-pondok-cabe\/"},"modified":"2026-10-20T15:15:01","modified_gmt":"2026-10-20T08:15:01","slug":"kompolnas-desak-proses-pidana-kasus-polisi-tembak-polisi-di-pondok-cabe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/20\/kompolnas-desak-proses-pidana-kasus-polisi-tembak-polisi-di-pondok-cabe\/","title":{"rendered":"Kompolnas Desak Proses Pidana Kasus Polisi Tembak Polisi di Pondok Cabe"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/20\/1792483290_8010f1e6103410697c59.jpeg\" alt=\"Kompolnas Desak Proses Pidana Kasus Polisi Tembak Polisi di Pondok Cabe\"\/><figcaption>Kompolnas soroti kasus penembakan Bharatu Laurentius Valdo oleh juniornya di Mako Polairud, Pondok cabe.(Dok. Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>ANGGOTA Komisi Kepolisian Nasional (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kompolnas\" title=\"Kompolnas\">Kompolnas<\/a>) <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/choirul-anam\" title=\"Choirul Anam\">Choirul Anam<\/a> menyoroti insiden tragis <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/polisi-tembak-polisi\" title=\"polisi tembak polisi\">polisi tembak polisi<\/a> yang menewaskan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bharatu-laurentius-valdo\" title=\"Bharatu Laurentius Valdo\">Bharatu Laurentius Valdo<\/a> Fernandez Lawai di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mako-polairud-pondok-cabe\" title=\"Mako Polairud Pondok Cabe\">Mako Polairud Pondok Cabe<\/a>, Tangerang Selatan. Anam menggarisbawahi bahwa peristiwa ini mencerminkan masalah mendasar terkait kultur kekerasan dan lemahnya pengawasan senjata api di internal Polri.<\/p>\n<p>Menurut Anam, terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam insiden internal kepolisian, yakni dinamika hubungan senior-junior, budaya kekerasan, serta pengawasan penggunaan senjata api (senpi) dinas yang masih longgar. Ia mengingatkan agar personel kepolisian tidak mudah menggunakan kekerasan maupun memanfaatkan hubungan primordial senior-junior secara negatif.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Secara umum pola yang terjadi penting untuk dilihat hubungan senior-junior, kedua soal pengawasan penggunaan senjata api, dan ketiga budaya kekerasan. Penggunaan senjata api harus diawasi secara ketat,&#8221; ujar Anam saat dihubungi, Selasa (20\/10).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/831212\/choirul-anam-jelaskan-soal-polisi-aktif-masih-bisa-duduki-jabatan-publik\" target=\"_blank\" title=\"Choirul Anam Jelaskan soal Polisi Aktif Masih Bisa Duduki Jabatan Publik\">Choirul Anam Jelaskan soal Polisi Aktif Masih Bisa Duduki Jabatan Publik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kompolnas mendesak agar penanganan kasus ini tidak berhenti pada sidang kode etik oleh Bidpropam. Anam menekankan pentingnya pengujian secara tuntas melalui proses hukum pidana oleh Ditreskrimum untuk menjamin keadilan atas hilangnya nyawa seseorang. Ia meminta proses pengusutan dilakukan secara transparan dan akuntabel tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.<\/p>\n<p>Selain itu, akses informasi bagi keluarga korban menjadi poin krusial yang disoroti. Keterbukaan aksesibilitas dinilai sebagai kunci utama untuk menjaga kepercayaan publik terhadap Korps Bhayangkara. &#8220;Kami akan awasi prosesnya agar objektif. Aksesibilitas bagi keluarga korban jadi kunci di sini,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan awal, insiden ini melibatkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bharada-andika\" title=\"Bharada Andika\">Bharada Andika<\/a> Rahmadani sebagai terduga pelaku. Motif tindakan tersebut diduga dipicu oleh persoalan pribadi, di mana pelaku mengaku kerap merasa disalahkan dan mengalami perundungan (<em>bullying<\/em>) oleh korban di lingkungan kerja.<\/p>\n<p>Kronologi kejadian menunjukkan pelaku telah membawa senjata tajam sejak 12 Oktober 2026 karena rasa takut berlebihan. Pada Jumat dini hari, pelaku mengambil senpi inventaris di pos penjagaan dan melepaskan empat tembakan ke arah korban, disusul tembakan ke bagian kepala serta penganiayaan berat menggunakan senjata tajam.<\/p>\n<p>Saat ini, Bharada Andika telah menyerahkan diri dan ditahan di Polda Metro Jaya untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Sementara itu, jenazah Bharatu Valdo telah diberangkatkan menuju kampung halamannya di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Z-10)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/megapolitan\/946483\/kompolnas-desak-proses-pidana-kasus-polisi-tembak-polisi-di-pondok-cabe\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kompolnas soroti kasus penembakan Bharatu Laurentius Valdo oleh juniornya di Mako Polairud, Pondok cabe.(Dok. Antara) ANGGOTA Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Choirul Anam menyoroti insiden tragis polisi tembak polisi yang menewaskan Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai di Mako Polairud Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Anam menggarisbawahi bahwa peristiwa ini mencerminkan masalah mendasar terkait kultur kekerasan dan lemahnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":121790,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-121789","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121789","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121789"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121789\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/121790"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121789"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121789"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121789"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}