{"id":121404,"date":"2026-10-19T22:11:53","date_gmt":"2026-10-19T15:11:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/19\/dampak-mental-dan-neurologis-pada-anak-yang-sering-dimarahi\/"},"modified":"2026-10-19T22:11:53","modified_gmt":"2026-10-19T15:11:53","slug":"dampak-mental-dan-neurologis-pada-anak-yang-sering-dimarahi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/19\/dampak-mental-dan-neurologis-pada-anak-yang-sering-dimarahi\/","title":{"rendered":"Dampak Mental dan Neurologis Pada Anak yang Sering Dimarahi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/19\/1792419332_f1e855f62c1bdc765ea3.jpg\" alt=\"Dampak Mental dan Neurologis Pada Anak yang Sering Dimarahi\"\/><figcaption>Ilustrasi anak sering dimarahi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>TINDAKAN terus-menerus memarahi anak dapat meninggalkan luka emosional yang memicu trauma pada anak. Ditinjau \u00a0dr. Kevin Adrian dari laman\u00a0<em>Alodokter,<\/em> kebiasaan sering memarahi atau meneriaki anak tidak akan membuat anak memahami nasihat orang tua mereka, tapi mengganggu perkembangan mental hingga kecerdasannya.<\/p>\n<h3>Para orangtua perlu mengenali sinyal-sinyal perubahan perilaku sehari-hari serta dampak neurologis yang terjadi akibat sering dimarahi.<\/h3>\n<p><strong>1. Penakut dan Kehilangan Kepercayaan Diri<\/strong><\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Sinyal emosional pertama yang dapat diamati adalah perubahan sikap anak yang mendadak menjadi sangat pendiam saat dimarahi. Sikap diam tersebut bukan menandakan \u00a0anak memahami kesalahannya, tapi menjadi bentuk reaksi akibat rasa takut dan merasa terancam. Anak yang terlalu sering bentak akan tumbuh menjadi sosok yang penakut dan tidak percaya diri. Timbul perasaan bahwa apapun yang dilakukannya selalu salah di mata orangtua, sehingga kepercayaan dirinya turun dan anak merasa dirinya tidak berharga atau tidak layak untuk disayangi.<\/p>\n<p><strong>2. Sikap Agresif dan Mudah Marah<\/strong><\/p>\n<p>Saat anak terus-menerus dimarahi, cara pandang anak dalam merespons masalah di sekitarnya dapat berubah. Anak cenderung menganggap bahwa membentak, memaki, atau meluapkan emosi keras adalah hal yang normal ketika menghadapi situasi yang tidak disukainya.<\/p>\n<p>Dampaknya, anak akan meniru perilaku agresif tersebut kepada teman sebaya, guru, atau lingkungan luar. Anak menjadi lebih gampang marah, suka memukul, dan suka berkelahi.<\/p>\n<p><strong>3. Sulit Bergaul<\/strong><\/p>\n<p>Dampak emosional yang sering tidak disadari orang tua adalah kecenderungan anak untuk menutup diri dan menghindari interaksi sosial. Anak yang sering dimarahi akan merasa bingung, cemas, dan takut dicela atau dihina oleh orang lain. Akibatnya, anak kesulitan menjalin pertemanan, kurang percaya pada orang lain, dan memilih untuk menyendiri. Padahal, interaksi sosial dengan teman sebaya sangat penting untuk meningkatkan kebahagiaan dan mengelola tingkat stres anak dalam proses tumbuh kembangnya.<\/p>\n<p><strong>4. Sinyal Depresi dan Gangguan Tidur<\/strong><\/p>\n<p>Tekanan psikologis berkelanjutan akan memicu ketegangan emosional kronis pada anak. Situasi ini bisa memicu rasa sedih mendalam, rasa bersalah berlebih, dan kecemasan terus-menerus yang berujung pada depresi.<br \/>&#13;<br \/>\nAnak yang mengalami stres berat akibat sering bentak biasanya menunjukkan gejala emosional seperti sering cemas, sulit tidur (sleep disorder), sering mengalami mimpi buruk, serta mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri.<\/p>\n<p><strong>5. Dampak Neurologis: Pertumbuhan Otak Terhambat<\/strong><\/p>\n<p>Dampak sering memarahi anak tidak berhenti pada masalah mental saja, melainkan bereaksi langsung pada kesehatan neurologis anak. Penelitian medis menunjukkan bahwa tingginya stres emosional dapat mengganggu dan menghambat pertumbuhan area otak yang berfungsi mengatur emosi, bahasa, dan respons sosial.<\/p>\n<p>Bagian otak yang memproses suara dan bahasa menjadi kurang berkembang karena terlalu sering mencerna informasi negatif. Selain itu, tekanan mental tersebut bisa memicu gangguan psikosomatis pada fisik anak, seperti gangguan makan, sakit perut, sakit kepala, hingga penurunan daya tahan tubuh.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/kesehatan\/946220\/dampak-mental-dan-neurologis-pada-anak-yang-sering-dimarahi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi anak sering dimarahi(Magnific) TINDAKAN terus-menerus memarahi anak dapat meninggalkan luka emosional yang memicu trauma pada anak. Ditinjau \u00a0dr. Kevin Adrian dari laman\u00a0Alodokter, kebiasaan sering memarahi atau meneriaki anak tidak akan membuat anak memahami nasihat orang tua mereka, tapi mengganggu perkembangan mental hingga kecerdasannya. Para orangtua perlu mengenali sinyal-sinyal perubahan perilaku sehari-hari serta dampak neurologis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":121405,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-121404","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121404","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121404"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121404\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/121405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}