{"id":121143,"date":"2026-10-19T11:07:51","date_gmt":"2026-10-19T04:07:51","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/19\/gunung-anak-krakatau-erupsi-bmkg-pantau-sebaran-abu-vulkanik-via-satelit\/"},"modified":"2026-10-19T11:07:51","modified_gmt":"2026-10-19T04:07:51","slug":"gunung-anak-krakatau-erupsi-bmkg-pantau-sebaran-abu-vulkanik-via-satelit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/10\/19\/gunung-anak-krakatau-erupsi-bmkg-pantau-sebaran-abu-vulkanik-via-satelit\/","title":{"rendered":"Gunung Anak Krakatau Erupsi, BMKG Pantau Sebaran Abu Vulkanik via Satelit"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/10\/19\/1792382524_c3624929a7122b06a229.jpg\" alt=\"Gunung Anak Krakatau Erupsi, BMKG Pantau Sebaran Abu Vulkanik via Satelit\"\/><figcaption>Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.(Dok. Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gunung-anak-krakatau\" title=\"Gunung Anak Krakatau\">GUNUNG Anak Krakatau<\/a> di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi pada Minggu (18\/10), dengan kolom abu tertinggi mencapai 500 meter di atas puncak.<\/p>\n<p>Sementara itu, citra satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bmkg\" title=\"BMKG\">BMKG<\/a>) pada Senin (19\/10) pagi belum dapat mengidentifikasi sebaran abu vulkanik karena tertutup awan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Berdasarkan citra satelit Himawari-9 VA yang ditampilkan BMKG, pengamatan pada pukul 07.00 WIB menunjukkan sebaran <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/abu-vulkanik-gunung-anak-krakatau\" title=\"Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau\">abu vulkanik Gunung Anak Krakatau<\/a> tidak dapat teramati akibat tutupan awan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/930635\/intensitas-erupsi-gunung-anak-krakatau-menurun-bmkg-tetap-waspada-potensi-tsunami\" title=\"Intensitas Erupsi Gunung Anak Krakatau Menurun, BMKG Tetap Waspada Potensi Tsunami\" target=\"_blank\">Intensitas Erupsi Gunung Anak Krakatau Menurun, BMKG Tetap Waspada Potensi Tsunami<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kondisi tersebut membuat keberadaan dan jangkauan abu vulkanik di atmosfer belum dapat dipastikan melalui citra tersebut.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan erupsi pada Minggu tercatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/erupsi-gunung-anak-krakatau\" title=\"Erupsi Gunung Anak Krakatau\">Erupsi Gunung Anak Krakatau<\/a> pertama terjadi pada pukul 11.44 WIB dengan kolom abu berwarna hitam, berintensitas tebal, dan condong ke utara. Erupsi kembali terjadi pada pukul 12.01 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak atau 657 meter di atas permukaan laut.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/931148\/bmkg-erupsi-gunung-anak-krakatau-tidak-picu-tsunami-di-selat-sunda\" title=\"BMKG: Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak Picu Tsunami di Selat Sunda\" target=\"_blank\">BMKG: Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak Picu Tsunami di Selat Sunda<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 12.59 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam, berintensitas tebal, dan condong ke timur laut.<\/p>\n<p>Aktivitas erupsi tersebut terekam pada seismogram. Erupsi kedua memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter dengan durasi sekitar 41 detik, sedangkan erupsi ketiga mencapai amplitudo maksimum 56 milimeter selama sekitar 36 detik.<\/p>\n<p>Suwarno menegaskan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. \u201cGunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak mendekati gunung api serta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan pemantauan aktivitas vulkanik dilakukan secara intensif selama 24 jam melalui pengamatan visual dan instrumental untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung api. Hasil pemantauan menjadi dasar bagi petugas untuk menilai aktivitas vulkanik, menentukan langkah mitigasi, dan mengantisipasi potensi bahaya.<\/p>\n<p>Suwarno juga mengingatkan nelayan yang beraktivitas di Perairan Selat Sunda agar memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca sebelum melaut. Masyarakat turut diminta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.<\/p>\n<p>Sementara itu, BMKG menjelaskan produk citra sebaran abu vulkanik menampilkan hasil analisis abu dengan warna merah yang ditandai poligon kuning. Produk tersebut menggunakan informasi aktivitas gunung api dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin. (H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/946006\/gunung-anak-krakatau-erupsi-bmkg-pantau-sebaran-abu-vulkanik-via-satelit\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.(Dok. Antara) GUNUNG Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi pada Minggu (18\/10), dengan kolom abu tertinggi mencapai 500 meter di atas puncak. Sementara itu, citra satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin (19\/10) pagi belum dapat mengidentifikasi sebaran abu vulkanik karena tertutup awan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":121144,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-121143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121143"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121143\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/121144"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}